
Pranggg...
Suara pecahan gelas membuat Aldo tersadar dari lamunannya, ia memperhatikan pecahan gelas yang berserakan di lantai, bagaimana bisa gelas itu jatuh dari tangannya tanpa ia sadari.
"Kenapa Kak?" Novan melongok dari sofa, "Kok bisa pecah?"
"Gak tau," Aldo berjongkok, berniat membereskan kekacauan yang baru saja ia buat, apa yang baru saja ia pikirkan?
"Pake sapu kak, nanti kena tangan."
Ponsel Aldo yang terletak di sofa berdering,
"Angkat dulu Van," ucapnya sambil membersihkan pecahan menggunakan sapu yang baru saja ia ambil.
Novan bergerak malas mengambil ponsel itu, menggeser layar lalu menempelkan di telinganya. Aldo mendengar Novan berbicara dengan seseorang.
Ia kembali melanjutkan aktivitas membersihkannya, sepertinya tadi ia memikirkan Tere, tapi apa selanjutnya, kenapa sekarang ia merasa seperti orang ling lung?
"Kak..." panggil Novan membuat Aldo menoleh ke arahnya.
"Kata Kak David, Kak Ter ngunci diri di dalam kamar,"
Aldo menatap Novan terkejut, ia baru saja mendengar suatu hal yang sangat mengerikan.
"Dia berniat bunuh diri kak," Novan memperjelas.
~~~
"Re, angkat telfon gue." Aldo masuk kedalam mobilnya sambil terus berusaha menelfon Tere.
Mobilnya meninggalkan parkiran rumahnya dan dengan kecepatan penuh mobilnya membelah jalanan jakarta yang entah kenapa terasa sangat renggang, tidak macet seperti biasanya.
Setelah sampai di parkiran rumah sakit, ia segera berlari masuk ke dalam rumah sakit, masih tetap berusaha menelfon Tere namun tetap tidak ada jawaban.
Aldo menambahkan kecepatan langkahnya.
Ia berlari menyusuri koridor rumah sakit, beberapa perawat dengan pakaian senada terlihat berhilir mudik, di ujung lorong sana sudah David serta beberapa perawat yang masih setia mengetuk ngetuk pintu kamar inap Tere.
David terlihat kacau, air matanya sudah merebak kemana mana,
"Tere belum buka pintunya dari tadi," ucap David langsung ketika melihat Aldo datang.
"Dav, ini sebenarnya ada apa? kenapa bisa?" David tidak menjawab ia hanya memegang dadanya menahan sesak yang ada disana.
Aldo mengalihkan perhatiannya ke pintu kamar.
"Do, gue mohon..."
Aldo terpaku seketika
Apakah ini saatnya?
Aldo menghela nafas panjang, mengisi rongga paru parunya yang mulai terasa sesak, ia mengangkat tangannya dan mengetuk pelan pintu kamar itu.
"Re gue Aldo, buka pintunya."
.
.
.
.
.
.
.
Ceklek...
Pintu kamar seketika terbuka membuat semua orang disana langsung melihat ke arah pintu, David ingin beranjak masuk ke dalam namun langsung di tahan oleh Aldo.
"Tunggu," Aldo masuk ke dalam kamar itu dan langsung menguncinya dari dalam.
Aldo mendekat ke arah gadis yang sedang meringkuk di sudut tembok itu, kedua kakinya tertekuk dan terlihat bergetar. Wajahnya memerah di lumuri air mata yang merebak, di pipinya terlihat sayatan kaca yang membuat siapapun yang melihatnya akan meringis.
"Re..." panggil Aldo lembut, suara isak tangis mulai terdengar.
"Aldo..." suara gadis itu tenggelam oleh suara tangisannya.
"Re lo kenapa?"
Pria itu tanpa sadar menjatuhkan air matanya. Ia berjalan mendekat ke arah Tere.
"Aldo, mereka mau ngilangin ingatan gue, GUE GAK MAUU!" Gadis itu menaikkan intonasi suaranya.
Aldo terpaku sejenak, kenapa gadisnya bisa mengetahui hal itu? Astaga, apakah saat David memberi tahunya.
q q q q q q q q q q q q q q q