MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
101



"*****!! lo berantem lagi?" Audri memegang dagu Aldo supaya menghadap ke arahnya lalu meneliti wajah pria yang sekarang memiliki lebam di dahi dan di bibirnya. Pria itu baru saja keluar dari ruang BK setelah kedapatan berkelahi dengan siswa dari kelas lain.


"Lebay lo." Aldo menepis tangan Audri, lalu menyibak rambutnya ke belakang. "Biasa aja napa, orang gue juga sering kayak gini."


"Ck, lebay gimana coba, kalau lo kenapa napa gue yang kena marah-"


"Kena marah? siapa yang marah?"


"Ehhh, ga, maksudnya..."


"Maksudnya?" Aldo mengulang perkataan Audri.


"Eh bentar, gue mau ke kamar mandi dulu." Belum sempat Aldo mencegat Audri sudah lari duluan keluar kelas.


"Apaan sih anjing." Pria itu mendengus sebal lalu memasukkan tangannya ke kolong meja mencari Earphone yang seingatnya ia taruh di sana sebelum pergi berkelahi dengan anak kelas sebelah.


"Ini lagi, apaan coba?" gerutu Aldo sembari membuang surat surat dan coklat yang memenuhi laci mejanya ke lantai.


Semenjak kelas 12 Aldo menggantikan posisi David sebagai most wanted nomor satu di SMA CriYa, setiap hari ada saja surat cinta yang bersarang di laci mejanya. Belum lagi para adik kelas yang selalu saja mencari perhatiannya dengan berbagai cara, membuat Aldo kewalahan sendiri menghadapinya. Untung saja sekarang Cila juga sudah tidak lagi mencoba pdkt-an lagi dengannya.


Saat mengobrak abrik lacinya ada satu barang yang menyita perhatiannya, tempat bekal berwarna biru berukuran sedang. Baru kali ini ada yang memberikannya bekal, biasanya ia hanya mendapatkan surat cinta dan coklat saja.


Aldo membawa tempat bekal itu ke atas mejanya lalu membukanya, makanan yang ada di dalam tempat bekal itu seketika membuat darahnya berdesir, makanan itu pancake.


"Lo sekarang dimana?" Batin Aldo sambil menatap nanar pancake yang ada di hadapannya.


Aldo sudah 2 kali berusaha mencari rumah Tere yang ada di Bandung, ia pulang pergi menggunakan jalur darat dari Jakarta ke Bandung, namun hasilnya nihil, Bandung bukanlah kota kecil, Bandung sangatlah luas dan ramai, sangat kecil kemungkinan dia akan mendapatkan seorang Tere disana.


Semenjak gadis itu pergi, Aldo menjadi pribadi yang dingin, menutup diri dari para perempuan yang mencoba untuk mendekatinya, ia menjadi sedikit lebih kejam dan brutal. Yah walaupun nilainya tetap di atas nilai sempurna.


Gadis tak tahu diri itu pergi dari kehidupan Aldo dengan membawa semua senyuman di bibir pria itu. Tak ada lagi yang tersisa untuk Aldo sekarang, gadis itu pergi dengan membawa semua kebahagiaan yang ada di hidupnya.


Pelampiasan yang pria itu bisa lakukan sebagai hiburan tak lain dan tak bukan adalah dengan berkelahi. Yap, hanya berkelahi, tak lebih dan tak kurang.


Aldo menutup kembali tempat bekal itu tanpa menyentuh makanan di dalamnya, membawanya keluar kelas, berjalan ke arah tong sampah dan membuangnya ke dalam sana.


Pria itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya sentuhan di pundaknya membuatnya membalikkan badan.


"Ngapain lo natap tong sampah?" tanya Audri yang tiba tiba muncul di belakangnya.


"Dari pada natap lo? jiji," ucap Aldo lalu kembali melenggang ke dalam kelas.


"Dasar curut biadap," maki Audri sambil mengikuti langkah Aldo ke dalam kelas.