
Tere sedang menikmati secangkir susu hangat di kantin sekolah, ia sedari tadi menunggu Audri yang izin ke kamar mandi.
Seharian ini dia hanya diam saja, sudah beberapa hari sejak Aldo memberitahukan bahwa ia dan Cila pacaran, sejak saat itu juga ia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan Aldo.
Kemarin ia sempat bertemu dengan Aldo, namun mereka hanya berjalan sambil saling melewati, Aldo sibuk dengan merapikan rambut Cila yang berantakan karena diterpa angin, ia sama sekali tidak menyadari Tere yang lewat di sampingnya.
Aldo yang pergi menjauh dari Tere sama saja seperti udara yang pergi menjauh.
Semenjak kejadian beberapa hari terakhir di sekolah, perasaan Tere menjadi kalut, ia membutuhkan seseorang teman untuk bisa mendengar ceritanya, tapi entah kenapa dia masih memendamnya sendiri, dan lebih memilih untuk diam seribu bahasa.
Dari arah pintu kantin terlihat Audri sedang masuk sambil berbicara dengan seorang siswa cowok, Tere tidak tau siapa itu, baru pertama kali melihatnya.
"Udah lama nunggunya Re?" tanya Audri ketika menghampirinya.
"Iya."
"Lama banget."
"Gue ampe bosan tau nunggu lo doang."
"Kayak nunggu pacar turun dari langit," bacot Tere.
"Pacar... pacar... kayak punya aja lu."
"Gue pernah mimpi punya pacar ya!"
"Cuma mimpi," ejek Audri, gadis itu terbahak begitu pula pria di sampingnya.
"Oh iya Yen, kenalin temen gue yang paling oon sejagad, Tere."
Pria itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum, "Bryan." (bacanya : Brayen)
"Tere," balas gadis itu dengan tersenyum sambil menerima uluran tangannya.
"Dia ini temen gue dari kecil, kita tetanggaan, sekolah sama terus, tapi waktu kelas 1 sma dia ikut ke Bandung sama ayahnya tapi sekarang dia udah kembali lagi karna ayahnya dipindahin tugas lagi, jadi udah satu sekolah lagi," jelas Audri senang.
"Ohh gitu," jawab Tere sambil manggut-manggut.
"Berarti lo tau banyak dong tentang Audri?"
"Bagi dong rahasianya, masa iya Audri ga pernah mau cerita ke gue," tanya Tere.
Bryan mengangguk.
"Dia tuh ga tau rahasia gue Re, ya kan Yen?" Audri menyenggol bahu Bryan.
"Gue tau." Bryan tersenyum tipis.
"Tuh kan Re denger sendiri, dia tuh ga tau."
"Dia bilang tau," jawab Tere.
"Gak tau kan Yen?"
"Tau."
"Tuh gak tau Re."
"Serah lo deh, bodo amat." Tere menyerah.
Mereka mengobrol ringan tentang bagaimana perasaan Bryan setelah pindah dan berpisah dari Audri, yang selalu saja menimbulkan gelak tawa bagi mereka bertiga.
Karena dirasa sudah cukup lama Bryan pun pamit duluan ke kelasnya, Audri mengamati punggung Bryan yang semakin lama semakin mengecil dan menghilang dari balik pintu kantin.
"Ekhem... " Tere batuk dengan sengaja, membuat Audri kembali mengarahkan pandangan kepadanya.
"Dasar si bucin yang sedang jatuh cinta." Tere menahan tawanya di tengah tengah tatapan sinis Audri.
"Udududu, Audri cayang, cini peyuk."
"Ih Tere jangan ribut, kalo ada yang denger gimana?" jawab Audri sembari memeluk Tere, menyembunyikan senyumnya di ceruk leher Tere.
q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q