MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
65



Pelajaran terakhir merupakan pelajaran yang paling membosankan, dikarenakan para siswa sudah lelah dengan pelajaran sebelum sebelumnya.


Jam menunjukkan pukul 14.30 yang artinya 30 menit lagi bel pulang akan berbunyi.


Berbeda dengan semua siswa yang sedang menahan kantuk, kedua insan yang duduk bersebelahan ini sedang terdiam dengan berbagai macam pikiran yang berputar di dalam otak mereka masing masing.


Bel pulang yang ditunggu para siswa pun berbunyi membuat kelas itu kembali riuh, kecuali kedua orang itu yang masih setia diam dalam pikirannya masing masing.


Sedari tadi Audri ingin mendekat ke Tere dan menanyakan alasan wanita itu masuk ke kelas dengan jejak air mata yang terlihat jelas di pipinya, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat kode mata dari Aldo yang menyuruhnya untuk diam dan tidak usah bertamya dulu.


Kelas itu kembali sunyi, tersisa Aldo dan Tere serta beberapa orang yang sedang berjalan menuju keluar kelas sambil menenteng tas di punggung mereka, hingga punggung itu hilang dari balik pintu.


"Re," Aldo langsung memanggilnya tanpa mau membuang buang waktu lagi.


"Lo udah tau semuanya..." lirih gadis itu. Aldo terdiam.


"Lo udah tau semuanya. Semua tentang gue yang nggak normal lagi." Tere menjeda ucapannya.


Ia menyingkap lengan kemejanya yang panjang sampai batas siku, dan memperlihatkan bekas luka silet di sana.


"Lo tau apa artinya ini?" Dengan mata terbelalak Aldo menggapai pergelangan tangan Tere.


"Lo cutting!?" Bentak Aldo.


"Maaf, gue gak bermaksud ngebentak lo," suaranya kembali melunak, ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.


"Kenapa lo ngelakuin ini Re?" Matanya menatap sendu wajah Tere.


"Orang yang memiliki trauma psikologis berat bisa menjadi mati rasa..."


Aldo menghela nafas panjang, berusaha menggapai wajah Tere yang sudah mulai basah karena air mata. Namun gadis itu menoleh ke samping, menghalau tangan Aldo.


"Plis, jangan nangis."


"Aldo... sekarang gue harus gimana? Gue sekarang bukan Tere yang lo kenal setahun yang lalu, gue udah berubah dan ga bakalan sembuh lagi." Pandangannya sekarang sudah kabur karna air mata yang terus keluar dari matanya.


"Setelah ini semua orang satu persatu akan pergi ninggalin gue, Kak David juga udah ga peduli lagi. Terus selanjutnya siapa? Lo Aldo?" ucap gadis itu dengan nafas yang memburu.


Aldo membawa sahabatnya itu ke dada bidangnya, membiarkan gadis itu menangis di sana seperti yang sering dulu ia lakukan.


"Re, lo harus inget dengan perkataan gue."


"Siapa pun lo, bagaimana pun keadaan lo, apapun yang lo rasain, gue bakalan tetap jadi Aldo yang lo kenal setahun yang lalu, tetap menjadi Aldo yang sayang sama lo...." Perkataan pria itu terhenti sejenak.


"Jangan berfikir gue bakalan ninggalin lo, itu adalah salah satu hal yang nggak bakalan gue lakuin terhadap orang yang gue cinta." Ia mengecup puncak kepala Tere yang masih setia bersandar di dada bidangnya.


Tere terenyuh, entah ia harus percaya atau tidak.


Pria itu menghapus jejak air mata di pipi Aldo,


"Gue gabakal ninggalin lo."


 


q