
"Selamat pagi," sapa Ingrid saat mendapati anaknya terbangun dari tidurnya.
"Pagi mah...." Gadis tersenyum ramah dengan wajah ngantuknya.
"Papa mana?"
"Papa masih di rumah, papa harus nyelesaiin tugasnya dulu."
"Ohhh."
"Kak David mana?" Gadis itu bertanya lagi.
"Lagi pergi sekolah kan." Tere menganggukkan kepalanya.
"Dua hari lagi kamu udah bisa keluar dari rumah sakit," jelas Ingrid sambil menyiapkan sarapan untuk Tere.
"Serius?" gadis itu langsung duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Iya sayang." Ingrid mendekat dan mencium kening Tere lalu melanjutkan kembali aktivitasnya.
~~~
"Sekarang coba kalikan yang ini dengan yang ini." Aldo menunjuk angka-angka di kertas yang berada di depan Cila.
Gadis itu tampak berfikir sejenak, kemudian mulai menghitung, berfikir lagi, dan menulis sesuatu.
"Wah, dapet Do jawabannya," Gadis itu teriak kegirangan. Aldo mengacak-acak puncak kepala gadis itu, sebelum sebuah batuk menginterupsi gerakannya.
Ekhem...
"Kalau mau pacaran jangan di sini, gue eneg liatnya," ucap Audri sinis. pake G nggak tuh 'enek'nya
"Siapa yang pacaran?" tanya Cila.
"Setan."
Audri kembali memusatkan perhatiannya ke Tere yang sedang mencoba mengerjakan beberapa soal mudah yang diberikan Aldo. Audri merasa terganggu mendengar suara ribut Cila yang ia rasa suaranya sudah mirip nenek lampir.
"Udahlah Dri, biarin aja," ucap Tere.
Audri mendekatkan mulutnya ke telinga Tere seraya berbisik, "Lo tau Re, gue ga suka banget sama tu nenek lampir, ngeliat dia rasanya pengen telan dia hidup hidup."
Tere hanya tertawa renyah, tidak tau bagaimana cara menghadapi temannya yang masih ia rasa asing di dalam hidupnya.
'Mungkin kalau ingatan lo masih utuh, lo bakalan marah besar dan ngacak-ngacak rambut nenek lampir itu,' batin Audri.
Saat di sekolah tadi Audri meminta Aldo untuk mengantarnya menjenguk Tere, karena Audri tau kalau tiap pulang sekolah Aldo menjenguk Tere. Tapi tiba tiba dengan seenak jidat si nenek lampir itu langsung masuk ke tengah pembicaraan mereka dan ingin ikut juga.
Padahal Audri sudah memberikan Aldo kode keras untuk tidak mengijinkan Cila ikut, namun sepertinya Aldo tidak mengerti kode itu. Atau memang tidak mau ambil pusing dengan kode yang diberi Audri.
Beberapa menit mereka semua berkutat dengan buku masing masing di depannya.
"Argghhh," teriak Audri membuat satu ruangan berjengit kaget.
"Kenapa Dri?" tanya Tere panik.
"Gue bosan, gak bisa diem-dieman gini, rasanya pengen teriiiaakkk." Intonasi suara Audri meninggi ketika di ujung kalimat membuat Tere menutup kedua telinganya.
"Apaansih," Tere tertawa kecil setelah menutup telinganya.
"Re, jalan yuk?," Tawar Audri seraya menutup buku buku pelajaran di depannya.
"Hmm boleh, kemana?" Tere turun dari ranjangnya setelah menyingkirkan buku buku di depannya.
"Terserah lo," ucap Audri.
Tere berfikir sejenak,
"Kafe? gue mau makan, bosan sama makanan rumah sakit." Kegiatan mereka terpantau jelas oleh Aldo.
"Ga boleh," larang Aldo tiba-tiba.
"Kenapa ngelarang larang sih? besok aja Tere udah bisa pulang dari Rumah sakit," ucap Audri sambil membantu Tere yang sedang mencari sendalnya yang menghilang.
"Iya, lagian gue udah baik baik aja kok," ucap Tere sambil menerima operan sendal yang di lempar dari sudut ruangan oleh Audri dan hampir mengenai kepala Cila.
"Hati-hati woy, kena kepala orang ini," ucap Aldo tajam ke Audri.
"Alay banget lo, ga kena juga." Audri memakaikan jaket Aldo yang tersampir di kepala ranjang ke tubuh Tere.
"Udah, kenapa sih kalian berantem mulu?"
"Dia yang cari masalah duluan. Bilang aja mau ikut," ucap Audri sambil menatap tajam ke Aldo dan Cila.
"Emang." Aldo menutup pulpennya lalu memasukkan buku bukunya ke dalam tas.
"Tapi Do, soal yang ini belum selesai." Tangannya ditahan oleh Cila.
"Bentar aja dilanjutin, pasti lo juga belum makan siang kan? ayo ikut!" Pria itu kemudian berdiri dan mengambil kunci mobilnya.
Hening.
"Iya." Cila memasukkan barang barangnya ke dalam tas lalu beranjak mengikuti Aldo, Tere, dan Audri.
"Udah lah Dri, " ucap Tere menengahi. Ia kebingungan melihat Audri yang begitu membenci Cila, padahal sepengetahuan Tere kalau mereka berempat itu satu kelas.
Sekarang mereka berada disalah satu kafe yang ada di dekat rumah sakit. Tere duduk bersampingan dengan Audri dan berhadapan dengan Aldo dan Cila.
"Sekarang kita pesan makanan, mau makan apa?" tanya Aldo tatapannya tertuju ke Tere
Tere memperhatikan sejenak menu yang ada di daftar. "Nasi goreng boleh?"
"Gak pedes," ucap Aldo.
"Yah, padahal kalau pedeskan enak."
"Sok\-sokan enak, makan cabe yang ada di mie instant aja udah kayak orang kesurupan," kata Audri sambil ikut melihat menu juga.
"Kok tau?" tanya Tere, namun Audri hanya diam saja. Seketika Tere mengingat sesuatu.
"Ohh iya, pasti gue udah pernah cerita kan," ucapnya sambil tersenyum.
"Iya sheyenk," balas Audri.
"Mba, pesen 4 nasi goreng, 3 pedes 1 biasa," jelas Aldo pada salah seorang pelayan di sana.
Lagu mengalun indah membuat suasana kafe lebih nyaman, beberapa pengunjung ikut menyanyikan lagu yang sedang dibawakan oleh band yang sering manggung di kafe itu.
Aldo memiliki sebuah ide.
"Bentar, gue ke toilet dulu," ucapnya lalu berdiri dari kursinya.
"Hush sana, ga usah balik balik," usir Audri membuat Tere tertawa kecil.
"Jangan kejam kejam gitu lah Dri, Aldo teman kita juga," ucap Tere.
"Biarin, gue benci aja gitu sama orang yang memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan," kata Audri tajam sambil melirik ke Cila.
"Maksudnya?"
"Ga lupain aja," Audri menghela nafas panjang, lalu kembali fokus ke ponselnya.
Lagu yang sedari tadi dibawakan oleh band anak muda itu sudah selesai, membuat suasana kafe yang ribut kembali terdengar, suara sendok bertemu piring dan suara percakapan orang orang terdengar jelas di telinga Tere.
"Selamat sore semuanya," suara Aldo tiba\-tiba terdengar, namun Tere tidak menemukan batang hidungnya.
Ia mengedarkan pandangannya dan melihat Aldo sedang duduk di kursi di atas panggung tempat band sebelumnya tampil sambil memegang gitar di tangan kirinya.
Tere duduk terpaku, kenapa lelaki sinis itu duduk disana?