
"Audri? Kenapa?"
"Gue pengen ngomong sesuatu ke lo."
"Ikut gue!" Audri berjalan mendahului Aldo, Aldo pun mengikutinya dari belakang.
Sekarang mereka berdua ada halaman belakang sekolah, duduk di kursi kayu yang ada di sana.
"Kenapa?" tanya Aldo sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu itu.
"Kenapa lo nggak nolongin Tere waktu dia tadi berkelahi sama Kak Bela?" Audri menatap sinis Aldo.
Namun yang ditanya hanya diam saja,
"Jawab sial! Gue nanya."
Aldo tetap saja diam, ia memikirkan apa jawaban dari pertanyaan Audri tadi.
"Gue nggak tau sejak kapan gue jadi teramat sangat benci sama lo."
"Hmmm...oh gue inget."
"Semenjak lo dekat sama Cila." Audri memberi tekanan pada kata dekat.
"Lo tau, Cila itu toxic, gue gak tau apa yang sudah dia kasih buat lo sampe lo sekarang bisa nggak punya hati kayak gini."
"Dude, sahabat kesayangan lo lagi berkelahi, jambak jambakan, tonjok tonjokan dan lo diem aja cuma gara gara perkataan Cila?"
"Gue tadi berdiri tepat di belakang lo dan dengar apa yang Cila katakan."
"Mau apa kesana? Dia nggak butuh lo," Audri mempraktekkan kalimat yang tadi dia dengar dari mulut Cila.
"Cuma karena kata kata itu? Lo percaya dan ninggalin Tere."
"Gue nggak habis pikir sama apa yang ada di otak lo."
"LO BANCI!" Audri berdiri dari duduknya dan meninggalkan Aldo sendirian.
Sudah hari ke tiga semenjak David membawa Tere ke psikiater, sama sekali belum ada kemajuan, Tere masih suka menangis sendirian, dan terus menjerit jerit sambil menyebut nama Reyhan.
"TERE DIAM!" Bentak David kesekian kalinya kepada Tere yang sedari tadi terus menjerit ketakutan.
Namun Tere sama sekali tidak mendengarnya dan tetap teriak teriak seperti orang kesetanan.
"REYHAN! MAAFIN KAKAK."
"MAAFIN!"
"CEPAT!!"
"SEBELUM KAKAK BUNUH KAMU."
"CEPAT!!"
Sebuah tamparan keras meluncur ke pipi Tere, membuatnya seketika terdiam sambil memegang pipinya yang panas akibat tamparan David.
"Maafin kakak." David langsung memeluk tubuh Tere yang sudah tidak bergerak lagi,
"Kakak udah ga tau harus ngapain kamu lagi Re." ia menaruh dagunya di puncak kepala Tere.
"Tenang, sebentar lagi papa dan mama akan datang."
Air mata David jatuh satu demi satu, membuat sungai di atas pipinya, ia yang dari dulu terlihat dewasa dan tegas, sekarang sudah memperlihat kan sisi yang sebenarnya dari dirinya, yaitu lemah dan rapuh.
Ia sudah tidak tidur selama tiga hari tiga malam hanya untuk memastikan Tere masih ada di dunia ini, dan sekalinya ia beristirahat di atas sofa sejenak, keadaan Tere tiba tiba menjadi parah seperti ini.
"Tere takut kak," ujar Tere dalam dekapan David.
"Reyhan ada di mana mana."
"Sadar Re...itu cuma imajinasi kamu."
"Nggak kak, semua ini terasa sangat nyata."
"Apa Tere harus buta biar nggak bisa ngelihat Reyhan lagi." Gadis itu memegang kedua matanya.
David meregangkan pelukannya.
"Tunggu." Ia berjalan menuju ke lemari di samping kasur Tere, mengambil sebuah kain hitam disana.
Ia kemudian berjalan mendekat ke Tere yang sedari tadi menatap lekat ke arahnya,
"Sekarang tutup mata kamu."
Tere langsung menutup kedua kelopak matanya, David pun duduk di depan Tere dan menutupi mata Tere menggunakan kain hitam yang tadi diambilnya.
Ia mengikat kain itu ke kepala Tere sehingga matanya tertutup dan tidak melihat sekelilingnya.
"Gimana?"
"Reyhan masih kelihatan?" Tanya David, Tere menggelengkan kepalanya.
"Tidak kak."
David perlahan membaringkan tubuh Tere ke atas kasur dan menarik selimut menutupi badannya.
"Sekarang tidur kembali yah, kalau butuh apa apa kakak ada di samping kamu."
David ikut berbaring di samping Tere dan mengelus kepala adiknya itu sebelum akhirnya Tere terbang ke alam mimpi.
"Ya Tuhan, jagalah adikku...aku hanya ingin beristirahat sebentar saja...hanya sebentar," gumam David sebelum menyusul Tere ke alam mimpi.