
Di pagi buta seperti saat ini, gadis itu merasa lapar melanda dirinya, ia perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat, melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pagi, seluruh tubuhnya sakit karena demam yang belum mereda.
Entah ia sakit apa, namun rasanya kepala sampai lehernya selalu tiba tiba terasa seperti di hantam benda tumpul dari belakang.
Sakit seperti di pukul benda tumpul sudah ia rasakan sejak masih kecil dan entah kenapa sakit itu makin menjadi jadi ketika ia sudah besar, terlebih lagi sampai saat ini David pun belum pulang dari jakarta, jadi sama sekali tidak ada yang merawatnya.
Bagaimana dengan Aldo? Apakah dia merawat gadisnya?
Tentu saja tidak.
Sudah 4 hari semenjak ia dilabrak Bela, ia tidak datang sekolah.
Karena takut? Tentu saja tidak, bahkan tidak ada secuil pun rasa takut terhadap Bela.
Ia sakit, ia benar bebar sedang sakit, hidup seperti orang mati, tidak melakukan apa apa selain bangun tidur bangun tidur, untuk bangun makan pun ia sering kesusahan.
Audri sudah berpuluh puluh kali menelfonnya, namun ia enggan untuk mengangkatnya.
Ia pun sekarang sedang ingin sendiri, ia ingin memastikan apa yang sebenarnya ia inginkan.
Apakah ia ingin Aldo menjauh atau mendekat,
Ia bingung.
Aldo dekat membuatnya merasa bahwa Aldo itu terlalu overprotektif terhadapnya.
Namun, Aldo jauh, entah kenapa membuat dirinya merasa kosong, ia merasa hampa.
ia merasa sesak dan sakit menerima kenyataan bahwa selama beberapa hari ia tidak datang sekolah...
Aldo tidak mencarinya.
tidak datang melihatnya.
tidak menelfon.
bahkan tidak mengirimkan pesan kepadanya.
Ia rindu Aldo, rindu pelukan hangatnya, rindu aroma rambutnya, rindu candaan yang super garing darinya, rindu tentang semua hal yang berkaitan dengan Aldo, hingga ia sadar ternyata,
Ia mencintainya.
Cinta?
Kalau memang cinta, kenapa selama ini ia selalu memaksa Aldo buat menerima cinta dari cewek lain, kenapa ia senang kalau Aldo punya pacar. Apakah karena ia tau walaupun Aldo memiliki pacar ia akan tetap menjadi nomor satu di hati Aldo.
Terus kenapa sekarang ia bisa sesakit ini, cuma karena Aldo dekat dengan seorang gadis yang bernama Cila. Apakah karena ia tau, kalau kali ini Cila dapat dengan mudah mengganti posisinya, menjadikannya nomor kesekian di hati Aldo.
"Mana Tere?" Aldo mencekal tangan Audri yang hendak keluar kelas.
Setelah mengantar Tere pulang ke rumahnya dan memberi tahukan bahwa dia dan Cila sudah pacaran, ia sama sekali tidak pernah lagi bertemu dengan Tere.
Ia menyadari ketidak hadiran Tere setelah 4 hari berlalu, ia ingin menelfonnya tapi entah kenapa, diamnya Tere setelah mengetahui ia dan Cila pacaran membuktikan bahwa Tere marah padanya.
Tapi Cila sudah membuat rencana yang katanya rencana itu dapat membuat dia mengetahui apa perasaannya terhadap Tere.
"Mana gue tau," jawab Audri malas.
"Heh tolol, gue baru 2 hari jadi teman sebangkunya, lo yang udah setahun\-an belakangan ini apa kabar?" Audri mengurungkan niatnya keluar dari kelas.
"Gue bingung ama lo Do, gue ga tau pengaruh apa yang Cila udah buat hingga lo bisa giniin Tere."
"Lo bahkan ga peduli sama dia, lo dengan mudahnya ngelupain dia, melupakan semua tentang kalian yang bukan sebulan dua bulan kalian lewati bersama."
"Mungkin lo udah punya pengganti Tere, tapi buat Tere? Lo tau dia cuma punya lo doang, cuma lo doang yang bisa dijadiin sandaran buat dia dan lo malah giniin dia."
"Pengganti apa sih Dri, Tere selalu punya tempat spesial di hati gue dan sama sekali ga ada yang bisa gantiin."
"Omongan lo ga sesuai dengan perbuatan lo setan." Audri menatap sinis Aldo,
"Lo tau apa yang udah diperbuat Kak Bela sampai sampai Tere ga dateng sekolah?"
"Bela?"
"IYA! MANTAN LO YANG NGGAK WARAS ITU."
Teriakan Audri membuat beberapa siswa yang masih ada di kelas itu menghentikan kegiatannya dan mulai memperhatikan mereka berdua. Termasuk Cila yang masih duduk di bangkunya.
"Kenapa?"
"SAHABAT KESAYANGAN LO ABIS DITAMPAR DAN DIMANDIIN AIR PEL SAMA MANTAN LO, PUAS?"
Badan Aldo seketika menjadi kaku.
"DAN SEKARANG LO BAHKAN GA TAU KEADAAN DIA GIMANA."
"DAN MALAH BERDUAAN MULU SAMA CILA." Ia menunjuk tepat ke arah Cila duduk.
Audri mengatur nafas, ia merasa sesak setelah meneriaki cowok di depannya ini.
Audri langsung pergi meninggalkan cowok itu, membiarkan ia sendiri agar bisa memahami tiap perkataannya tadi.