
Sudah jam 11 malam dan gadis itu masih belum bisa tidur, ia sedari tadi siang menonaktifkan ponselnya dan menaruhnya di dalam laci meja belajarnya.
Sejak tadi siang ia sudah sampai di Bandung, ia kembali kerumah yang ia tempati beberapa tahun yang lalu sebelum ia dan kakaknya pindah ke Jakarta. Suasananya masih sama sejak terakhir ia kerumah ini, masih sama sama terasa sepi, ia berjalan ke pintu yang menghubungkan antara balkon dengan kamarnya.
Ia berjinjit ketika merasakan sensasi dingin di kakinya saat menyentuh lantai keramik balkon itu.
Matanya menatap hamparan langit yang bertaburan bintang, seketika perasaan sedih menyusup kedalam dirinya.
"Sebentar lagi Kak David akan pergi, dan gue bakalan menjalani hari hari yang membosankan dengan belajar di rumah, mencoba mempelajari pelajaran yang sudah gue pelajari dua tahun yang lalu."
Suara pintu di buka membuat Tere mengalihkan pandangannya ke sumber suara, terlihat David muncul dari balik pintu sambil membawa segelas air di tangan kanannya.
"Kenapa belum tidur Re?" David melangkahkan kakinya menuju balkon tempat Tere berdiri sekarang.
"Ga bisa tidur kak," uzap Tere dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
"Ini minum." David menyodorkan segelas air sengaja ia siapkan untuk Tere, ia sangat mengetahui kalau Tere tidak akan mudah tidur dalam keadaan begini. Besok malam ia sudah harus berangkat ke bandara.
"Makasih kak," ucap Tere menerima gelas itu.
Hening kembali menyelimuti mereka berdua, mereka sama sama menatap langit, tenggelam dalam pikiran masing masing. Sebelum akhirnya David kembali membuka suara.
"Besok kakak bakalan berangkat ke bandara."
Pertanyaan yang sedari tadi bercokol di pikiran Tere akhirnya terjawab dengan sendirinya.
"Kak, kakak tau? Tere sayang banget sama kakak."
"Tentu saja kakak tau."
"Tere sayang sama kakak..." ucapnya lagi sambil menggenggam kuat gelas yang ada di genggamannya.
"Tapi Tere ga bakal halangi kakak untuk ngejar cita cita kakak...Kakak nggak perlu khawatirin Tere."
Gadis itu menengadahkan kepalanya menahan cairan bening yang akan kembali keluar dari sudut matanya, David mengambil alih gelas yang berada di tangan Tere lalu menaruhnya di atas meja yang berada di sana.
"Kakak bakalan selalu meluangkan waktu untuk memberi kabar ke Tere."
"Jangan sedih, kakak bakalan cepat cepat ngelarin pendidikan kakak disana dan segera pulang...." David menghentikan perkataannya.
"Untuk ngelamar kamu," lanjutnya, ucapan David seketika membuat Tere tertawa kecil.
"Apaan sih kak," jawab gadis itu malu.
"Ya udah sekarang jangan nangis lagi." David mengusap air mata gadis itu.
"Sekarang masuk yah, di sini dingin, nanti kamu sakit," ucap David yang dibalas anggukan oleh Tere.
David membawa Tere masuk kembali ke dalam kamar, ia menutup pintu yang mengarah ke balkon itu.
Gadis itu segera menghabiskan segelas air yang dibawakan David. Lalu naik ke atas ranjangnya.
David mengambil gelas yang sudah tandas isinya lalu mengucapkan selamat tidur buat Tere, mencium kening gadis itu lalu keluar dari ruangan itu.
Gadis itu memejamkan matanya beberapa menit berlalu dan ia kembali membuka matanya, ia belum bisa tidur, ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Apa yang harus gue lakuin untuk nenangin diri gue disaat gue gak tau penyebab tidak tenangnya diri gue ini.
Tere kembali memejamkan matanya pura-pura tidur ketika mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Tere merasakan pergerakan di samping ranjangnya. Ia mencoba mengabaikannya.
Sebuah tangan mengangkat kepalanya dan meletakkan kembali pada bidang yang keras. Dan sebuah sentuhan di pinggangnya mendorongnya menempel pada bidang lain yang kokoh. Tere merasa hangat. Ia jelas mencium aroma wangi kakaknya.
"Kakak tau kamu belum tidur," ucap David.
"Masih mencoba untuk tidur kak," jawab Tere. sambil membuka matanya dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya.
David meraih tangan kanan Tere untuk dilingkarkan pada pinggangnya, hingga badan Tere otomatis menghadap ke arah David.
"Sekarang tidurlah," ucap David setelah mengecup kening Tere.