
"Aldo." Tere sekarang sudah berganti baju dan duduk di sofa, tepat di sebelah Aldo yang sedang memakan keripik kentang.
Aldo diam, sama sekali tidak membalas panggilan Tere. Tere menarik nafas panjang, dan memberanikan diri untuk bertanya lagi.
"Kok lo udah pulang? Nggak jadi nongkrongnya?"
Aldo masih diam. Seperti tidak menyadari kehadiran Tere disampingnya.
Dia terus menatap layar TV yang menayangkan acara animasi anak.
Hanya suara TV dan suara kunyahan keripik kentang yang terdengar.
Tere menelan ludahnya, kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, kemudian jarinya menari-nari di atas layar, supaya tidak terlihat begitu kosong.
Dia yakin seratus persen kalau Aldo melihatnya pulang bersama Kak Fajar.
"Kenapa sih lo marah kalau gue deket sama cowok lain?" Pertanyaan Tere kali ini membuat perhatian Aldo teralihkan dari TV, menatap wajah sahabatnya itu.
"Gue aja nggak pernah larang lo buat deket sama cewek lain," lanjut Tere.
"Menurut lo?" tanya pria itu sambil menaikkan satu alisnya.
"Yahh, gue nggak suka kalo lo marah cuma karena gue deket sama cowok lain."
"Gue marahnya tuh beralasan!" Aldo mematikan TV menggunakan remote control yang berada di sampingnya.
"Nggak. Marah lo nggak beralasan. Gue hanya pulang bareng sama Kak Fajar, kenapa lo marah gitu?"
"Lo tau kan Fajar itu orangnya kayak gimana," suara Aldo sudah mulai meninggi. "Dia itu bukan cowok baik-baik," lanjutnya.
"Lo nggak tau sifat Kak Fajar yang sebenernya."
"Gue tau!"
"Stop, Aldo! Gue males berantem sama lo cuma gara-gara hal kecil kayak gini," bentak Tere.
"Hal kecil kayak gimana maksud lo? Lo nggak inget apa terjadi sama gue waktu di taman hiburan itu?" Aldo sudah tidak bisa menyembunyikan kemarahannya lagi.
"Do, Kak Fajar udah minta maaf. Udah nggak usah diungkit-ungkit lagi."
"OHHH, JADI LO LEBIH MILIH DIA DIBANDING GUE."
"Lo tau? Sikap lo selama ini kekanak-kanakan, gue udah capek berantem sama lo cuma gara-gara hal kecil, yang entah kenapa bisa jadi sebesar ini." Perkataan Tere membuat Aldo terdiam.
"Gue nggak pernah ngelarang-larang lo buat deket sama cewek lain, karena apa? Karena gue tau, gue nggak ada hak, dunia bukan hanya berputar ngitarin gue, lo juga punya kehidupan lain selain ngurusin gue. Gue tau itu, makanya gue sama skali nggak pernah ngelarang-larang lo."
Aldo terdiam sebentar pandangannya jatuh ke karpet yang sedang ia injak, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Lalu kembali menatap Tere.
"Iya. Gue emang nggak punya hak buat ngelarang-larang lo. Gue hanya takut kalau lo bakalan kenapa-kenapa kalau deket sama Fajar, emang dia baik sama lo, tapi bisa aja itu hanya topeng buat ngedeketin lo doang." Aldo menatap nanar wajah Tere.
"Gue tau keseharian dia gimana, gue sering ngedapet dia lagi ngonsumsi di belakang sekolah bareng teman-temannya, gue tau semua itu, gue takut lo kena pengaruh buruk dia."
"Tapi sepertinya kepedulian gue, ternyata lo anggap sebagai beban yah," ucap Aldo sambil tertawa renyah.
"Nggak. Bukan gitu Do." Tere memegang kedua tangan Aldo.
"Seperti yg lo katakan, lo udah capekkan? Lo udah capek dengan sifat kekanak kanakan gue." Aldo memasang ekspresi datar.
"Nggak Do, bukan gitu, gue hanya nggak suka kalau kita berantem kayak gini." Pandangan Tere mulai mengabur karena air mata yang tertampung di pelupuk matanya.
"Jadi, mulai sekarang gue nggak bakal ngelarang-larang lo lagi, terserah lo mau deket dengan cowok manapun. Karena apa? Karena seperti yang lo katakan, itu bukan hak gue." Aldo menghempaskan kedua tangan Tere.
"Aldo, lo jangan marah sama gue."
"Gue gak marah."
Aldo kemudian mengambil kunci mobil dan tasnya yang terletak di meja sebelah sofa, lalu beranjak pergi menuju pintu apartemen Tere.
"Aldo, jangan pergi." Tere berteriak ke Aldo yang terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.
"Aldo, kalau lo pergi persahabatan kita sampai disini." Tere mulai mengeluarkan air matanya.
"ALDO, PLEASE!"
Aldo berhenti melangkah, lalu berbalik badan menghadap Tere yang sudah berderai air mata.
"Ohh iya, satu lagi. Gue minta maaf kalau selama ini udah jadi beban buat lo."
Lalu melanjutkan langkahnya hingga hilang dari pandangan Tere.