
Gadis itu berjalan keluar kelas, sesekali terlihat gerombolan kakak kelas cowok menggoda para murid baru tidak terkecuali Tere dengan panggilan 'Dedek Gemay'.
Tere hanya membalas mereka dengan senyum seadanya, takut dibilang kurang ajar oleh para senior.
Tere naik ke tangga menuju rooftop, setelah sampai gadis itu berjalan ke salah satu sisi pagar pembatas rooftop.
Ia menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Wahhh, udara pagi di rooftop emang yang terbaik."
Fyi, sekolah Tere terdiri dari 5 lantai, lantai 1 ditempati kelas 12, lantai 2 ditempati kelas 11, lantai 3 ditempati kelas 10, lantai 4 ada perpustakaan, kantor guru, kantin yang sudah seperti cafe, dan di lantai 5 terdapat ruang ekstrakurikuler, jumlah ekskul di sekolah Tere mencapai 21 ekskul.
Lalu yang terakhir rooftop sekolah, entah kenapa di rooftop itu ada lapangan basket mini.
Saat menikmati pemandangan siswa siswi yang berlalu lalang dibawah dari atas ... tiba-tiba.
Gubrak....
Ada sesuatu yang menabrak gadis itu dari belakang, kalau saja tidak ada pembatas pagar di rooftop sekolah, Tere bisa memastikan bahwa besok namanya akan langsung ada di koran dengan judul. "Siswa cantik tewas jatuh dari rooftop di hari pertama sekolah."
Sungguh sangat amat tidak lucu pemirsa.
"ASTAGA!" teriak Tere ke orang yang baru saja menabraknya.
"Awww, kuping gue!" Orang yang diketahui berjenis kelamin pria itu menutup telinganya, tak kalah kaget dengan teriakan Tere.
"Gue hampir mati!" teriak gadis itu lagi.
"Kenapa pake teriak-teriak sih, nggak mati juga kan?" balas cowok itu santai.
"Gila lo yahh, kalau gue terjun ke bawah lo mau tanggung jawab?" Mata Tere menatap tajam ke anak itu.
Pria itu menghela nafas. "Ya udahh, gue minta maaf, gue tadi keasikan main hp jadi nggak liat ke depan, sorry."
"... Oke, gue maafin," jawab Tere ikhlas tak ikhlas ke anak cowok itu.
Tere memperhatikan cowok itu, tingginya mungkin sekitar 170 cm, kulit putih, alis tebal dan bermata coklat berkesan cool, badboy, dan... lumayan?
Tere tidak melepaskan pandanganya dari cowok itu, cowok itu mengibas-ngibas kan tangannya di depan wajah Tere yang membuat gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Kenapa lo diam? Kagum," tanya cowok itu sambil memasang ekspresi datarnya.
"Ihhh najong," balas Tere sambil memutar bola matanya.
"Lo ngapain sih disini?" tanya Tere.
"Cari angin, belum nemu kelas," jawab cowok itu sambil memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
Tiba-tiba bel upacara berbunyi.
Gadis itu berjalan menuruni tangga rooftop. "Emangnya lo kelas berapa?" tanya Tere ke anak cowok itu.
"Seriusan? Berarti kita sekelas dong."
"Lo juga 10 Mipa B?"
"Iya."
"Btw, nama lo siapa?" tanya cowok itu.
"Nama gue Tere, Tere Astelia. Kalau lo?" tanya balik Tere saat sudah sampai di lantai kelas 10.
"Gue Aldoni Reydirza." Tere menganggukkan kepalanya.
"Lo liat pot merah yang di gantung di depan kelas itu?" tanya Tere sambil menunjuk salah satu pot yang bertengger di dinding depan kelas.
Pria itu mengikuti arah telunjuk Tere. "Itu kelas 10 Mipa B, lo ke sana sendirian aja atau perlu gue anter?"
"Sendiri," ucap Aldo dan langsung meninggalkan gadis itu sendirian.
Tere yang ditinggal sendiri hanya memasang ekspresi dongkol. "Tau gini tadi ga usah gue kasih tau dimana kelasnya," ucapnya lalu segera menuju ke lapangan upacara.
Setelah satu jam lebih, akhirnya upacara bendera sekaligus upacara penerimaan siswa baru selesai dilakukan, semua murid disuruh kembali masuk ke kelas masing masing.
Tere berjalan menunduk, ia merasa sangat letih, telapak tangannya mengusap keringat yang mengucur di dahinya, sebelum sebuah tangan meyodorkan selembar tisu ke depan wajahnya.
Gadis itu seketika menghentikan langkahnya dan mendongakkan wajah melihat siapa yang berdiri di depannya sambil menyodorkan tisu itu.
"Kalau jalan itu liat ke depan bukan liat ke bawah," ucapnya sambil mengelap keringat di dahi Tere.
"Apaan sih lo." Gadis itu merebut tisu dari tangan Aldo dan mengelap mukanya sendiri.
"Gue baik tau bersihin muka lo yang udah kayak tambang minyak."
"Ck, ini bukan minyak, ini keringat kalau lo belum tau," ucapnya sambil menunjukkan tisu bekas lap wajahnya dan membuangnya di tong sampah depan kelas.
Aldo berjalan duluan menuju ke dalam kelas disusul oleh Tere di belakangnya, saat sampai di kursinya ia langsung duduk. Tere pun ikut duduk manis di sampingnya.
"Ngapain duduk disamping gue?" tanya Aldo dengan menaikkan satu alisnya.
"Emang ini kursi gue," ucap Tere sambil mengangkat tasnya ke atas meja.
"Cari tempat lain sana," ucap pria itu sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
"Ada kursi lain yang kosong selain kursi yang gue dudukin sekarang?" tere bertanya dengan tatapan jengah.
Pria itu pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan yah... emang sisa kursi itu yang kosong.
Aldo pun menghela nafas panjang.