
Jam pelajaran telah usai, tetapi Tere dan Audri tetap nyaman terus bercerita di kelas mereka. Menceritakan tentang sesuatu yang sangat tidak penting namun lucu buat mereka berdua.
Audri pun sudah tidak terlalu khawatir dengan keadaan Tere, melihat akhir akhir ini Tere dan Aldo sudah tidak pernah berhubungan lagi membuat Audri khawatir dengan keadaan Tere, mengetahui kalau Gadis itu sama sekali tidak bisa jauh jauh dari Aldo.
Sekarang semua teman teman mereka sudah meninggalkan kelas dan pulang ke rumah masing masing.
Hanya mereka berdua, tidak ada orang lain. Aldo dan cila pun hari ini tidak terlihat di kelas, seperti biasa mereka harus di karantina.
Di saat mereka sedang mengobrol, tiba tiba terdengar pintu ditendang keras dari luar, membuat Tere spontan berdiri dari kursinya, sementara Audri yang tadi tertawa langsung diam dan menatap Tere.
Dari balik pintu muncul Bela, ingatkan mantan Aldo kelas XII MIPA E, ketua geng hitz di sekolah mereka. Yang pernah datang melabrak Tere di kantin sekolah.
Ia masuk dengan beberapa teman teman yang setia mengikutinya sepanjang hari. Dan mengunci pintu dari dalam.
"Hai Re," sapa Bela dengan senyum angkuh di wajahnya.
Tere tidak menjawab dan menatap Bela awas.
Bela berjalan mendekat ke arah dua adik kelasnya,
"Denger denger, Aldo udah punya pacar lagi yah?"
Mendengar hal itu tubuh Tere kembali menegang, setelah bisa melupakan masalah itu, kini ia diharuskan kembali untuk mengingatnya.
"Tapi kali ini kok rasanya ada yang beda?"
"Gue udah ga pernah liat lo sama sama dia lagi."
Bela lalu tiba tiba menepuk jidatnya, lalu seolah\- olah kaget.
"Ohh, gue tau lo udah ga dibutuhin Aldo lagi kan," ucap Bela, membuat ia dan dayang dayangnya tergelak.
Lucu? Apanya yang lucu? Apakah sakit hatinya ini pantas ditertawakan?
"Harusnya lo sadar diri dari dulu, lo tuh ga pantes deket deket sama Aldo."
"Lo cuma kayak orang kurang perhatian, yang bertingkah seperti orang gila agar di perhatikan."
Brakk...
Tere memukul meja dengan telapak tangannya, membuat Bela yang tadi tertawa diam dan menatapnya sinis.
"Kenapa?" Bela maju selangkah dan menoyor kepala Tere.
"Marah?" Kali ini Bela mengulangi lagi kegiatannya.
Bela mendecak kesal sebelum menyuruh teman temannya memegang kedua tangan Tere.
"Kak!" teriak Audri saat tamparan keras dari Bela melayang ke pipi sahabatnya.
"Apa lo! Mau gue tampar juga!" Nyali Audri langsung menciut mendengar ancaman Bela.
Bela mengambil ponsel dari saku kemejanya lalu memperlihatkan sebuah foto ke Tere,
"Gue tadi ga sengaja gitu ngambil foto ini waktu lagi ke kantin."
"Gue juga sakit sih liatnya, tapi ga papa..."
"Selagi lo menderita."
Di foto itu terlihat foto Aldo dan Cila yang sedang berpelukan.
Tere tidak bergeming dari tempatnya, badannya terasa kaku, ia merasa sakit di pipinya tidak seberapa dengan sakit di hatinya.
"Ayam KFC disandingin dengan yokobana, jelas kebanting lah," celetuk salah seorang teman Bela.
Bela berjalan ke pojokan kelas, mengambil sebuah ember berisi air pel, kemudian kembali ke tempatnya tadi.
"Ngelawan dong Re, ga seru nih."
Air yang berada dalam ember itu sudah berpindah ke kepala Tere, teman Bela yang memegang Tere pun langsung melepaskan pegangan mereka, seolah olah jijik.
"Eww..." cuit salah seorang Teman Bela, membuat mereka semua kembali tergelak, kecuali kedua adik kelas di sana.
"Kenapa ga ngelawan Re?"
"Takut? udah ga da pelindung lagi?"
"Mana Aldo lo?"
"Bela ga usah sok bego deh, kan Aldo udah pergi ama cewek lain," celetuk salah seorang temannya.
"Yang lebih cantik," ucap yang lain.
"Dan yang terpenting lebih pintar dari si tolol ini," Mereka kembali tertawa.
"Okey Re, sampe jumpa besok lagi ya, jangan bosan bosan datang ke sekolah," ucap Bela lalu pergi diikuti teman temannya.