MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
21



"Bye, hati-hati di jalan yah." Aldo melambaikan tangannya ke arah Cila yang berada di dalam mobilnya.


Mobil Cila melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah Aldo.


Sedari tadi Aldo tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Apalagi suara jantungnya yang berdegup sangat kencang ketika berada di samping Cila.


Aldo masuk kembali ke dalam ruang tamu dan duduk di tempat yang sama dengan yang tadi. Aldo meraih ponsel di samping tubuhnya, mata Aldo terbelalak melihat berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Tere.


"Astaga, mati gue!" Aldo memukul kepalanya.


Aldo segera menelpon balik Tere dan langsung ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya.


Ponsel Tere tidak aktif menambah kekhawatiran Aldo. "Kok gue bisa lupa sih?!" Aldo mengacak-acak rambutnya frustasi.


Pria itu segera melesatkan mobilnya menembus jalan raya yang basah dan menuju ke taman dekat sekolahnya.


Saat sampai di taman, suasana taman sudah sangat sepi, sudah tidak ada orang disana. Hanya ada tulisan besar yang tergantung di dinding bagian barat taman itu.


-HAPPY BIRTHDAY BEKICOT-


Dan sebuah kue tart basah karena terkena air hujan di atas meja di depan tulisan itu.


Aldo segera kembali ke dalam mobil dan mengambil ponselnya, tiba-tiba ada satu pesan masuk.


"Tere ngechat, alhamdulillah Ya Allah."


'Do, lo nggak usah datang yah. Tadi gue udah ke taman, trus tiba-tiba perut gue mules banget karena habis makan rujak, karena nggak nemuin toilet umum, gue akhirnya langsung pulang ke rumah buat boker. Tapi waktu gue mau pergi lagi, tiba-tiba hujan turun, jadinya Kak David ngelarang gue buat keluar'


Ting...


Satu pesan masuk lagi


'Sorry yah acaranya nggak jadi, kapan-kapan aja deh, nanti gue yang traktir deh okey.'


Ada perasaan lega di hati Aldo mengetahui bahwa Tere tidak menunggunya sampe basah-basahan.


Ting...


Satu pesan masuk lagi.


'Btw, besok lo nggak usah jemput gue yah, gue mau pergi sekolah sama Kak David' Aldo menaikkan satu alisnya. Merasa ada yang aneh karena biasanya Tere yang maksa Aldo buat jemputin dia tiap hari. Tapi dia cepat-cepat mengusir pikirannya itu.


Dan langsung membalas pesan dari Tere.


'Okey'.


 


Aldo duduk di kamarnya sendirian. Kamarnya gelap, tersisa pencahayaan dari rembulan yang mengintip dari balik horden kamarnya, sudah dua jam ia duduk di situ dengan cangkir teh yang sudah dingin.


Ia masih ingat degan jelas wajah Cila yang tertawa ketika ia menceritakan tentang masa kecilnya dulu. Dan saat tangannya tidak sengaja menyentuh tangan Cila saat memberikan air putih ke Cila.


Ia juga teringat waktu Cila menceritakan tentang kehidupannya di sekolahnya yang dulu.


Wajah Cila masih sangat membekas di ingatan Aldo.


Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, ia segera turun ke dapur lalu menaruh bekas cangkir tehnya ke dalam bak cuci piring.


"Gue sayang Tere."


"Gue juga masih sayang sama Cila."


Gile lu ndro -Author


 


 



Maaf yah ini teksnya agak sedikit hehe biar kalian penasaran aja.



Hai semua ini Author, panggil aja Thor atau kalo mau lebih nyaman panggil sayang juga boleh \**ditabok readers*. Hehe



Jadi buat kalian semua yang udah mampir *diwork* aku ini, aku makasih banget, kalian udah mau luangin waktu buat ngehargain karya aku.



Makasih buat like, komen, dan \*supportnya\*.



\*Next\*? komen yah.



Komen yang banyak ga papa, Thor suka baca komenan kalian.



Berani ngehujat? gue block


bcanda sayang.



\*Stay tune\* yah \*guys\*



Love you♡♡



~