MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
89



Jam 4 sore, Aldo memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah, setelah tadi singgah di rumah untuk menukar motornya dengan mobil.


Sialnya, tadi Tere malahan menahan mereka untuk tetap di rumah Aldo dan pdkt-an dengan Novan terus selama berjam jam.


"Adikmu sangat tampan," ucap Tere yang dari tadi terus menerus memuji Novan.


"Kakanya lebih tampan," ucapan Aldo sukses membuat Tere mendengus.


Mereka keluar dari mobil lalu berjalan beriringan,


"Ini...sekolah kita?" tanya Tere ragu.


"Iya."


Aldo berjalan sambil menarik tangan Tere menuju ke dalam sekolah, hari ini libur jadi cuma beberapa orang saja yang terlihat berada di dalam sekolah.


Satu tempat yang terlintas di otak Aldo.


Ia menarik gadis itu untuk mengikutinya,


Gadis itu menarik sudut bibirnya ketika tahu dimana Aldo membawanya.


"Rooftop? Kau tau--"


"Ini tempat kesukaan mu dan David," sambung Aldo cepat.


"Kok tau?" Ia mengernyit bingung, namun sedetik setelahnya ia langsung tersenyum.


"Pasti di dua tahun itu aku sudah pernah menceritakannya," ucap Tere.


Ia berjalan menuju ke pinggir rooftop sekolah, menikmati semilir angin yang menyapu wajahnya, Meninggalkan Aldo di belakangnya.


Aldo memperhatikan gadis di depannya, gadis itu terlihat sangat menikmati tempat ini.


Ia kembali mengenang memori dua tahunnya yang menghilang di ingatan gadis itu, kenangan yang sepertinya tak akan terulang lagi.


"Aldo." Gadis itu memanggilnya tanpa menoleh ke arahnya.


Baru saja ia akan menjawabnya, namun suaranya tercekat, tertahan di pangkal tenggorokan. Matanya semakin memanas.


Pria itu membenci dirinya yang lemah.


Tapi perasaan mencekam yang sedari kemarin menghantuinya membuatnya jatuh ke titik yang paling rendah. Ia merindukan gadis di depannya ini, entah kapan ia bisa memeluk Tere lagi, meluapkan kerinduan yang mencekik kuat lehernya.


Ekhem...


Pria itu berdehem, menetralkan suaranya, ia berjalan dan berdiri di samping gadis itu. mungkin saja kalau ingatan gadis itu tidak hilang, Aldo akan memeluknya langsung dari belakang dan membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.


"Aldo." Gadis itu kembali memanggil namun kali ini ia sambil menghadap ke pria yang sedari tadi diam saat ia memanggilnya.


Mata Tere membulat lebar. "Ada apa?" tanya gadis itu panik, ketika melihat Pria yang berada di hadapannya menangis tanpa suara.


"Kau kenapa?" tangan gadis itu mulai menyingkirkan air mata yang membuat sungai di pipi pria tampan itu.


"Sepertinya kau sedang memiliki banyak masalah?"


Kau lah masalahku.


Aldo menarik gadis itu langsung ke dalam pelukannya, ia sungguh merindukan gadis ini, bisakah waktu berhenti saat ini juga? Biar gadis ini tidak menjauh dan memarahinya lagi.


Beberapa detik ia menunggu dorongan gadis itu, namun dorongan itu tak kunjung datang.


Puk..puk..puk...


Matanya membulat lebar tatkala ia merasakan sebuah tangan menepuk nepuk dan sesekali mengelus punggungnya. Gadis itu membalas pelukannya.


"Sstt... Don't cry." Isakan lelaki itu mulai terdengar. Tere merasa lega, hal ini lebih baik dibandingkan melihat pria itu menangis tanpa suara.


Entah kenapa, hatinya ikut merasa sakit melihatnya.


Apa yang bisa dilakukan Tere ketika melihat seorang temannya menangis selain menenangkannya.


"Ada apa? Ada masalah?" Aldo menggeleng dengan cepat di dalam pelukan Tere.


"Tenang saja, kalau kau sudah siap cerita, aku siap menjadi tempat curhatmu," kata Tere sambil memejamkan matanya, menikmati embusan angin hangat sore.