MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
98



Sudah 10 hari sejak terakhir kali Aldo menatap wajah Tere, selama 10 hari juga Aldo tidak dapat nyenyak dalam tidurnya. Ia mengkhawatirkan gadis itu, bagaimana keadaannya? apa ia baik-baik saja?


Sekarang SMA CriYa sedang dalam masa libur penaikan kelas, para siswa sudah mengatur jadwal liburan mereka, mereka manfaatkan dengan baik untuk hang-out bareng teman teman mereka. Namun berbeda dengan Aldo, pria itu lebih memilih untuk tetap dirumah dan mengunci diri di dalam kamar.


Aldo sedang baring di atas kasur, menatap langit langit kamarnya, sebelum matanya mengarah ke pintu yang terbuka, muncul Cila dengan membawa tempat bekal di tangannya.


Ini sudah hari ke 5 Cila terus mendatangi rumah Aldo untuk membawakannya makanan, gadis itu tau Mama dan Adik Aldo sedang pergi keluar kota sehingga tidak ada yang mengurus Aldo yang sedang dalam mode patah hati sendirian di rumah. Aldo sama sekali tidak memperdulikan makannya, ia hanya berdiam diri dan terus mencoba menghubungi Tere.


Cila juga sudah tau masalah tentang Tere yang pindah secara tiba-tiba, awalnya ia senang mendengar berita itu, terlebih Aldo sama sekali tidak dapat menghubungi atau pun menyusul Tere ke sana. Namun, melihat Aldo yang sekarang lebih mirip mayat hidup entah kenapa membuatnya bersedih.


"Gue udah kasih tau berapa kali, ga usah bawain gue makanan, gue gabakal-,"


"Lo gabakal suka kan sama gue, karna hati lo cuma untuk Tere seorang," potong Cila.


"Gue tau kok... gue cuma mau nganter makanan ini aja," sambung gadis itu dengan senyum manis di bibirnya.


Gadis itu menaruh tempat bekal itu di atas meja samping kasur Aldo.


"Jangan lupa dimakan yah," ucap gadis itu lalu berjalan keluar dari kamar Aldo.


Pria itu hanya menghela nafas, ia sebenarnya kasihan pada gadis itu, gadis yang masih mau baik ke orang yang sudah menolak pernyataan cintanya. Iya, gadis itu menyatakan perasaannya ke Aldo, saat Aldo menemaninya menjenguk ibunya ke rumah sakit. Namun pria jahat dan tidak tahu diri itu malah menolaknya mentah-mentah.


Pria itu sudah tahu pasti siapa wanita yang disukainya sekarang.


Aldo mengalihkan pandangannya ke sekumpulan hasil polaroid yang Tere susun sedemikian rupa di sudut kamarnya. Sebagian foto tentang kegiatan mereka berdua, dan sebagian lagi adalah foto dirinya yang diam diam Tere abadikan tanpa sepengetahuannya.


Aldo tersenyum mengingat kelucuan dan kebodohan gadis itu.


Ia mengambil sebuah surat dari dalam laci nakas, surat yang diberikan Tere beberapa hari lalu melalui perantara Audri.


*Hai...Aldo.


Kalau lo baca surat ini sudah bisa dipastikan gue udah nggak ada di jakarta.


Gue hanya ingin minta maaf ke lo atas perkataan gue tempo hari di dalam mobil lo.


Gue ga pernah bermaksud nyakitin hati lo.


Gue yakin lo termasuk orang spesial yang ada di dua tahun itu, walaupun gue nggak bisa inget, tapi entah kenapa gue yakin kalau lo berharga.


Tiap gue ada di dekat lo...


Jantung gue berdebar...


Jantung ini berdebar untuk lo...


Dan gue yakin debaran ini mempunyai kisah yang hebat di masa lalu. Yang sudah gue lupakan.


Gue Tere Astelia. Sepertinya diri gue yang bodoh ini sudah melupakan sesuatu yang seharusnya gak gue lupakan.


Gue pergi, lo ga usah cari gue, gue pun saat ini ga berniat untuk bertemu lo langsung.


Biarkan gue berusaha untuk mengingat kembali dua tahun itu, jadi kalau kita bertemu nanti gue akan bisa langsung ngenalin lo dan mungkin... bisa meluk lo?


Salam.


Tere*.


Sudah berpuluh puluh kali Aldo membaca surat itu dan berpuluh puluh kali juga ia meneteskan air mata di atas surat itu.


Bayangkan saja orang yang selalu ada di hari-hari mu kini menghilang begitu saja, tanpa jejak.


Suara pintu terbuka membuat Aldo buru-buru menyeka air matanya.


"Sudah gue bilang ga usah kesini lagi Cila," ucap Aldo tanpa melihat ke arah pintu.


"Aldo..."


Hening.


"Te...Tere?" Aldo menghadapkan wajahnya ke arah pintu saat itu juga. Namun yang didapatnya hanyalah wajah seorang gadis yang menatapnya dengan kening berkerut.