
Sepuluh menit mereka lalui dengan keheningan, Aldo sudah mulai tenang, ia melepaskan pelukannya.
Pria itu menghela nafas panjang.
"Aku memiliki seorang pacar..."
Tere diam menunggu perkataan selanjutnya yang akan keluar dari mulut pria itu.
"Dia gadis oon, aku baru saja menyatakan cintaku padanya, dan pada detik berikutnya juga ia langsung pergi dari hidupku."
"Pergi dari hidupmu?" Tere mengerutkan dahinya.
"Iya, dia pergi sangat jauh dan tidak mungkin akan kembali."
"Maksudnya? Aku tak mengerti?"
"Kau tak mengerti?" Pertanyaan Aldo disambut anggukan oleh Tere.
"Dasar gadis oon."
Hening.
Tere mendengus pelan.
"Malah ngehina, udah didengerin juga ceritanya." Pria iru terkekeh pelan.
Pria itu menatap ke arah lapangan basket mini yang berada di rooftop itu.
"Emm, Re....apa kau tau tempat ini?"
Gadis itu berfikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya.
Senyuman getir tanpa sadar terpasang di wajah tampan Aldo. Harusnya ia sudah tau jawaban yang akan ia terima tanpa perlu mempertanyakannya lagi. Pertanyaan bodoh.
"Kenapa dengan tempat ini?" tanya Tere dengan sorot mata penasaran setelah melihat perubahan mimik wajah Aldo.
"Kau tahu... ini adalah tempat pertamaku bertemu dengan pacarku." Sebuah film tiba-tiba terputar di otak Aldo, mengingat pertemuan pertamanya dengan Tere membuatnya mengukir senyuman di bibirnya.
"Bagaimana aku bisa tahu kalau ini tempat pertemuan pertama mu dengan pacar mu."
"Ya kecuali kalau memang aku pacarmu..." Suara Tere mengecil tatkala ia menyadari perkataannya. Ia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Astaga, apa yang baru saja kukatakan? tidak mungkin kan.
Suasana tiba-tiba menjadi canggung, namun tiba tiba Aldo langsung tertawa pelan.
"Tenanglah...kau bukan pacarku." Ia mengusap puncak kepala Tere.
'Benarkah?' batin gadis itu.
"Ayo kita pulang," ajak pria itu.
"Pulang?" Padahal gadis itu masih menikmati tempat ini.
"Iya. Mau jam enam, kita kelamaan di rumahku tadi."
Gadis itu mengangguk pelan, namun tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan baru di benaknya.
Pertanyaan yang akan mengganggunya sepanjang hari bila ia tidak menanyakannya ke Aldo.
Di sela-sela jalannya menuju mobil bersama Aldo, ia menahan tangan Aldo, membuat langkah pria itu terhenti dan berbalik badan menghadapnya.
"Apakah kita pernah pergi ke tempat tadi berdua?" tanya gadis itu, matanya menunjukkan tuntutan agar Aldo menjawab jujur.
Pria itu tersenyum tipis.
"Tidak, tadi yang pertama kalinya."
Syukurlah, pikiran yang mengganggu Tere sejak tadi akhirnya menghilang. Jika tadi adalah yang pertama, berarti itu adalah memori pertama, dan tidak ada di memori dua tahun yang hilang itu.
Mobil hitam itu terparkir di parkiran rumah sakit, Aldo menolehkan wajahnya ke samping, menatap wajah yang sedang tertidur di sampingnya.
Mereka sudah satu jam berada di mobil itu, ketika sampai di parkiran, Aldo berniat membangunkan gadis itu, namun ia malah termenung selama satu jam sambil memandangi wajah tidur pulas Tere.
"Re, bangun udah sampai." Tangannya mengguncang tubuh gadis itu, namun ia sama sekali tak bergeming. Beberapa kali Aldo mengguncangnya namun ia hanya mendapat dengkuran halus dari bibir indah Tere.
"Kecapean yah?" Aldo menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Tere.
Ia turun dari mobilnya, memutarinya dan membuka pintu dekat gadis itu dan membukakan sabuk pengamannya.
"Tere bangun." Pria itu berbisik di dekat telinganya, "Gue ga mau gendong, lo berat."
Namun gadis itu masih tak bergeming, ia tidur pulas setelah capek berkaraoke di dalam mobil Aldo.
Tak ada pilihan lain, Aldo menggendong gadis itu di dalam pelukannya. Menempatkan kepala Tere di dadanya yang bidang, sedangkan gadis itu semakin meringkuk di dalam dekapannya.
Tere terbangun di dalam gendongan seseorang, tanpa membuka mata ia langsung mengetahui siapa orang yang menggendongnya dari aroma tubuh orang itu, aroma yang entah kenapa menjadi aroma favorit dalam beberapa hari terakhir ini.
Ia merasa tubuhnya dibaringkan di atas kasur ranjang rumah sakit, lalu orang itu menyelimutinya hingga batas leher.
"Buka mata," ucap Aldo membuat Tere seketika membuka matanya.
Mata mereka langsung bertatapan, Tere hanya bisa tertawa kecil.
"Kok tau kalau aku ga tidur?"
"Mata lo getar getar."
"Demi?"
"Iya."
"Pantesan Kak David selalu tau kalau aku lagi pura pura tidur."
Pria itu mengambil tas ransel yang sedari tadi ada di atas sofa.
"Sekarang balik tidur, gue pulang dulu."
"Kok pulang, ga nginep lagi?"
"Besok hari senin, tenang aja pulang sekolah gue langsung kesini," ucapnya mendekat dan mengecup kening Tere lama.
"Selamat tidur, jangan lupa mimpiin gue," ucap Aldo sambil berjalan keluar keluar kamar.
"Ga bakal," ucap gadis itu sambil tertawa kecil sebelum menutup mata, karena kantuk kembali menyerangnya.