MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
8



Sekarang jam menunjukkan pukul 8 malam, Sudah sejam lebih Tere duduk di depan laptop menonton drama korea kesukaannya, sambil menunggu Aldo yang tadi pulang untuk mengambil baju dan seragam sekolahnya untuk persiapan nginap di rumah Tere beberapa hari.


Ting...tong....


Ting...tong....


Ting...tong....


Bel rumah Tere ditekan heboh. Membuat gadis itu terlihat kaget dan langsung berlari ke arah pintu.


"Sabar napa, nggak usah ngegas pencet belnyaa," kata Tere saat melihat Aldo sudah berada di depan rumahnya membawa satu tas besar di tangan kanannya yang sepertinya penuh dengan pakaian dan sebuah bantal guling di tangan kirinya.


Konon katanya, Aldo sama sekali nggak bisa tidur tanpa kehadiran bantal tersebut, bantal empuk dengan gambar tazmania di beberapa bagiannya.


Aldo tiba tiba langsung berlari masuk sambil membuang barang\-barangnnya ke lantai dan berlari menuju ke kamar mandi sembari teriak.


"Gue kebelet pipis setan."


"Allahuakbar! setan nggak usah teriak setan ya." Tere tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu yg berlari sambil menahan pipis.


Padahal baru beberapa bulan mereka berteman tetapi mereka sudah sangat dekat. yahh wajar sih, mereka berdua memiliki hobi yang sama, main basket dan ... rebahan.


 


 


"Do, gue cuma punya snack," ucap Tere yang datang dari dapur sambil membawa beberapa snack dan soft drink di dalam pelukannya.


Aldo yang sedari tadi melihat lihat foto yang tertata rapi di ruang keluarga milik Tere, langsung membalikkan tubuhnya, "Gue laper, Re."


Tere mendengus, "Yaudah, kita delivery aja ya," usul Tere sambil mengambil ponsel di saku celananya.


Aldo memperhatikan Tere yang sedang menelepon. Tere mengenakan baju tidur warna merah jambu bergambar beruang.


Tere terlihat ... manis?


"Do, nonton film?" tanya Tere yang ikut duduk di sebelah Aldo setelah memesan pizza.


"Terserah."


"Film apa?"


"Terserah."


"Peran kita ketuker, harusnya gue yang bilang terserah," ucap Tere sambil menabok pelan kepala Aldo.


Mereka pun memilih menonton film kartun, karena sudah tidak ada lagi pilihan film yang menarik.


 


Aldo terbangun dari tidurnya lalu mengerjap-ngerjapkan matanya, tangannya masih memeluk guling tazmanianya. Ternyata Aldo ketiduran waktu nonton tadi, box pizza masih stay di atas karpet.


Aldo melihat jam tangannya, jam menunjukkan pukul 11 malam. Namun, Aldo tidak melihat tanda tanda keberadaan Tere di ruangan itu, di kamar tidur pun tidak ada. Setelah mencari cari keberadaan Tere, Aldo pun menemukan Tere di rooftop rumah itu.


"Ngapain lo tengah malam gini di rooftop? Di culik kunti mampus." Aldo tiba tiba saja sudah berdiri disamping Tere.


Gadis itu menoleh ke arah Aldo namun tidak membalas perkatannya, lalu kembali menatap lurus kedepan. Rambutnya acak acakan matanya terlihat sayu dan sembab tidak seperti biasa.


"Lo kenapa? habis nangis?" Aldo memegang pundak Tere. "Ada masalah apa?"


Aldo mengerutkan dahinya, semenjak dia mengenal Tere, Tere belum pernah memasang ekspresi seperti saat ini.


"Apa jangan\-jangan karna David nginep di rumah Fahri?" tanya Aldo sambil menaikkan satu alisnya.


"Hhh, ya kali gue nangis gara gara itu, gue nggak sebocah itu kali nangis gara gara ditinggalin Kak David," jawab Tere manyun.


"Terus lu kenapa? Ada hubungannya sama yang lo dan David bicarain tadi sore?" Aldo menatap Tere serius.


"Iya, tapi gue nggak apa apa kok cuma masalah kecil aja," jawab Tere lirih.


"Mau cerita?"


"Gue belum siap, yang ada gue tambah sedih kalau cerita."


Hening beberapa saat.


"Ya udah, kalau lo udah siap ceritain masalah lo, gue bakalan siap jadi orang pertama yang mendengar cerita lo," Aldo memecah keheningan.


Tere tersenyum. "Tenang aja Do, kalau gue udah siap, lo bakalan jadi tempat cerita pertama gue, tapi bukan sekarang," kata Tere sambil memejamkan matanya, menahan embusan angin dingin yang rasanya menusuk sampai ke tulang tulang.


"Re?" Panggilnya dengan suara lembut, membuat gadis itu menoleh.


"Peluk, mau?"


Gadis di depannya menatap Aldo gamang.


Mencerna terlebih dahulu apa yang baru saja ia dengar.


Namun kemudian ia memeluk tubuh dengan tangan terbuka itu dengan erat. Gadis itu merasa aman dan nyaman berada di dalam dekapan Aldo.


Setelah beberapa saat hening, Aldo membuka percakapan.


"Lo kenapa suka banget ke rooftop? Hari pertama kita bertemu aja ketemunya di rooftop." tanya Aldo, mencoba mencari topik, berharap gadis itu bisa melupakan masalahnya.


"Sebenarnya yang suka ke rooftop itu bukan gue tapi Kak David, hanya saja Kak David semakin sibuk dengan urusan sekolahnya ditambah lagi urusan osis, jadi Kak David udah jarang ke sini. Hanya gue aja yang keterusan," jelas Tere panjang lebar sambil melepas pelukannya dari tubuh Aldo.


Aldo membalas perkataan Tere dengan mengangguk anggukan kepalanya, tanda mengerti.


Tere menggosok\-gosok telapak tangannya yang kedinginan.


"Disini dingin yah, mau pake jaket gue nggak?" tawar Aldo.


"Nggak usah, nggak apa apa," jawab Tere.


"Entar kalo lo masuk angin, gue yang dimarahin David," lanjutnya.


"Kan lu yang dimarahin bukan gue." Tere terkekeh.


"Pengen banget gue dimarahin ama David?"


Aldo melepas jaket yang ia kenakan, lalu memberikannya kepada Tere. "Nggak usah bilang nggak mau, nanti gue serius diomelin David kalo lo masuk angin."


Karena sebenarnya tubuhnya merasa dingin, Tere pun mengambil jaket tersebut lalu memakainya.


Setelah setengah jam mengobrol ringan dan udara sudah semakin dingin mereka pun memutuskan masuk.