
"Tere kenapa sih?" tanya pria itu kepada kedua gadis yang berjalan di samping kanan dan kirinya.
"Ga tau! Tanya pacar lo!"
Audri mempercepat langkahnya untuk mensejajarkan langkahnya dengan Tere yang berada 3 meter di depan mereka.
"Ck."
"Cila, lo tau kenapa Tere marah?" tanya Aldo namun hanya dibalas gelengan oleh Cila.
"Perasaan gue gak ngelakuin kesalahan deh," ucapnya lalu mempercepat langkahnya dan menyusul Tere dan Audri yang sudah masuk ke dalam mobil.
Kini mobil Aldo sudah keluar dari parkiran kafe yang tadi mereka kunjungi, jalanan jakarta seperti biasa sangat macet, apalagi jam jam pulang kerja seperti saat ini, membuat semua orang yang terjebak macet menjadi kelelahan karenanya.
"Re, besok jangan lupa telfon gue kalau udah selesai persiapan pulangnya, nanti gue yang jemput," ucap Aldo memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.
"Lo gak bantu beres beres?" tanya Audri.
"Nggak bisa."
"Kenapa?" tanya Audri lagi mewakili pertanyaan Tere.
"Gue mau anter Cila untuk jenguk mamanya yang sakit."
"Ga boleh, lo harus bantuin gue," Kali ini Tere buka suara. Shit! apa yang barusan gue bilang.
Aldo menaikkan satu alisnya dan berfikir sejenak.
"Gue ga bisa Re, gue udah janji sama Cila."
"Batalin aja apa susahnya."
Kenapa mulut gue gak mau berhenti bicara sih.
"Ga bisa." ucap Aldo sambil mematap ke arah jalanan.
"Batalin!" Stop bastard!
"Ga Re."
"Gue bilang batalin yah batalin!" Apa yang lo lakuin?
"Kok lo jadi egois sih Re?"
...api cemburu.
Perkataan Tere membuat Aldo kaget bukan kepalang.
"Lo apa-apaan sih Re?"
"Gue kenapa hah?" tanya Tere menantang.
"Lo kayak bukan Tere yang gue kenal."
Gadis itu seketika terpaku mendengar perkataan yang keluar dari mulut Aldo.
"Iya emang. Gue bukan Tere yang lo kenal, Tere yang lo kenal udah hilang bersamaan dengan memori gue yang hilang." Tangan gadis itu terkepal kuat.
"Lo tau? Gue serasa pengen gila dengan keadaan gue yang sekarang, keadaan di mana gue gak ingat kalian semua, dan kalian dengan entengnya bersikap ke gue..." Mata gadis itu berkaca kaca.
"Maksudnya?" Aldo mengerutkan dahinya.
"Gue bingung harus nanggepin sikap kalian kayak gimana, apa yang harus gue lakuin ke orang yang gue gak kenal tapi terus ngajak gue bicara, gue harus berpura pura bersikap seperti kita sudah kenal lama satu sama lain, padahal gue sama sekali nggak tau kalian itu siapa." Gadis itu mencengkeran kuat rambutnya.
"Tere lo kenapa?" tanya Audri panik.
"Kalian sebenarnya siapa? kenapa mempermainkan gue seperti ini?" Gadis itu menangis sambil memukul kepalanya kuat kuat.
"Stop, Re!" Aldo memarkirkan segera mobilnya dan menghentikan pergerakan tangan Tere.
"Gue benci kenapa gue gak bisa ingat dua tahun itu, gue selalu di bayangi perasaan bersalah karena tidak bisa mengingatnya, padahal gue sendiri gak tau hal apa yang harus gue inget, gue cuma takut....gue takut menerima kenyataan kalau ternyata kalian cuma ngebodoh bodohin gue, gue cuma takut kedekatan ini cuma karena rasa kasihan kalian ke gue."
"Ga Re, kita semua sayang sama lo, kita gak mungkin ngebodoh bodohin lo," Ucap Audri ikut menangis mendengar perkataan Tere yang begitu menyedihkan.
Tere menggeleng pelan.
"Cuma dua tahun yang hilang itu yang bisa ngejelasin semuanya, dan dengan tololnya gue gak bisa inget itu,"
"Re-" Pria itu memegang bahu Tere namun langsung di tepis oleh gadis itu.
"Jangan sentuh gue, gue gak kenal sama lo...Lo siapa?"