
"Jangan berharap lebih dengan perasaan itu," Tere mengulangi perkataan yang Aldo katakan tadi padanya dengan nada mengejek.
Ia sekarang berada di kamar sendirian, setelah kembali dari taman, Aldo segera mengejarnya dan membantunya mendorong kursi roda itu, sama sekali tidak ada pembicaraan, saat sampai di depan kamar rawat Tere, pria itu langsung pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Apa apaan dia, apa haknya melarangku berharap." Tanpa ia sadari, air mata telah membuat sungai di atas pipinya.
Sebuah sesak tiba tiba hinggap di dadanya, kenapa ia sesedih ini? Hey sadar Re, kau bahkan tidak tau perasaan apa ini, kenapa kau harus sesedih ini?
Apa yang membuat mu memarahi pria yang mengaku sebagai temanmu yang baru kau kenal hari ini?
Apa karena ia memeluk mu?
Atau....
Karena ia menyuruh mu untuk berhenti berharap pada perasaan itu?
Gadis itu menghela nafas panjang, ia bosan.
"Sudah berapa lama aku berada di rumah sakit ini, satu tahun? Dua tahun?" Gadis itu kembali menghela nafas.
"Bersabarlah, kau bahkan belum cukup satu minggu berada di rumah sakit ini," ucap seseorang yang sedari tadi duduk di sofa sudut ruangan.
Gadis itu tercengang, untuk pertama kalinya Aldo berbicara lagi dengannya.
Tere mengenal Aldo sebagai teman sebangkunya yang berbaik hati selalu mengunjunginya setiap hari ketika pulang sekolah, membawakannya beberapa buah dan juga novel untuk mengisi kekosongannya.
Haruskah ia meminta maaf akan kejadian beberapa hari yang lalu di taman? semenjak hari itu, Aldo memang selalu datang di rumah sakit setelah pulang sekolah, ia selalu duduk di sofa dekat jendela sambil mengutak atik hp nya atau mengerjakan PRnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dan ketika jam menunjukkan pukul delapan malam, ia akan pulang dengan sendirinya.
"I was bored." Gadis itu mengulum senyum diam diam, kenapa ia sebahagia ini?
"Tunggulah sebentar lagi teman teman mu akan datang," kata pria itu malas.
"Teman teman ku?" Mata gadis itu langsung berbinar.
Demi apa sekarang ia gugup, apa yang harus ia lakukan ketika bertemu teman temannya? Haruskan ia bersikap sewajarnya karena tidak mengingat mereka, atau ia harus bersikap sok akrab kepada mereka.
Ia kini kembali berdua dengan Aldo sejak para suster itu pergi.
"Kau enak bisa berkata seperti itu, aku bahkan sama sekali tidak mengenal mereka."
Aldo mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap Tere sejenak dan kembali memainkan ponselnya.
Tere mendengus pelan, apa pria itu masih marah?
Tere kembali memusatkan perhatiannya ke novel yang barusan dia baca, sebelum akhirnya ia menoleh ke arah pintu yang terbuka menampilkan dua orang gadis dan seorang pria yang memakai seragam sama seperti Aldo.
'Mereka pasti teman temanku'
Tere memperbaiki posisi rambutnya agar terlihat lebih rapi.
"Hai semua."
Berbeda dengan sebelum sebelumnya, kali ini Tere memberanikan diri untuk menyapa orang lain terlebih dahulu.
Salah satu dari gadis yang datang itu tiba-tiba langsung berlari ke arah Tere, memeluk Tere itu dan menangis di ceruk lehernya seperti bayi, membuat gadis itu kaget bukan main.
"Re, hiks, gue kangen banget sama lo." Tere hanya bisa menaikkan tangannya dan mulai mengelus kepala gadis yang sedang menangis itu. Sambil memberikan tatapan meminta jawaban ke Aldo dari apa yang sedang terjadi sekarang.
"Jadi Re, ini teman teman sekolahmu."
"Ini namanya Audri." Aldo menunjuk gadis yang sedang menangis di dalam pelukan Tere.
"Ini Cila." Aldo menunjuk gadis yang berdiri di sampingnya.
"Dan Bryan." Tanpa menunjuk lagi Tere sudah pasti mengetahui siapa yang bernama Bryan.
"Audri paling dekat dengan kamu, dari kemarin ia sudah ingin mematahkan leherku karna tidak mengijinkannya datang kesini."
"Salah lo sendiri, lo bukan dokter sok sokan ngelarang gue."
"Lo tau alasan sebenarnya gue ngelarangkan?" Tanya Aldo tegas.
"Iya..." cicit Audri.