MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
25



Gadis mungil itu hampir jatuh ke lantai kalau saja Wira tidak sigap langsung menahan tubuhnya.


"Astaga! Re." Wira menepuk-nepuk pelan pipi Tere.


Dengan cepat ia mengangkat tubuh Tere menuju ke ruang UKS. Wajah Tere sudah basah dengan keringat yang bercucuran, wajahnya sangat pucat.


Koridor sangat sepi, semua siswa belajar di dalam kelas masing-masing.


Wira memasuki UKS, ada tiga petugas PMR dan satu dokter volunter di sana. Wira membaringkan Tere di salah satu kasur, gadis itu masih tidak sadarkan diri.


"Kenapa dia?" tanya Dokter Dinda, segera memeriksa kedua mata Tere dengan pen-light.


"Dia tiba-tiba saja pingsan di hadapan saya, jadi saya segera membawanya ke sini," jelas Wira.


Saat Dokter Dinda memeriksa Tere, Wira segera merogoh kantung celananya mengambil ponsel dan menelfon David.


"Dav, lo cepetan kesini!"


'Kemana?'


"UKS UKS."


'buat apa?'


"Lo kesini aja dulu!"


'Apa sih? Siapa yang sakit?'


"Tere pingsan."


Tutt...tut...tut...


"Halo...halo,"


"Yah di matiin."


Wira segera mengalihkan perhatiannya kembali ke Dokter Dinda yang sedang memeriksa Tere.


"Apa keadaanya parah dok?" Tanya Wira.


Petugas PMR dan Dokter pun meninggalkan Tere dan Wira berdua di dalam kubin Tere.


 


David sedang membersihkan laci mejanya yang penuh hadiah dari para fansnya, sebelum jam istirahat pertama lacinya masih kosong namun setelah jam istirahat pertama selesai, laci mejanya sudah dipenuhi berbagai macam cokelat dan surat cinta.


David tidak pernah membuka surat ataupun memakan cokelat dari mereka, palingan David hanya membawa pulangnya ke rumah terus suratnya disimpan di dalam lemari dan semua cokelatnya dikasih ke Tere.


"Wahhh panen raya lo ya?" Fahri takjub melihat semua coklat dan surat cinta itu.


"Hmm," jawab David.


"Bagi dong... dede pahli lapel." Fahri memasang wajah yang diimut\-imutkan.


"Stop! Jangan sok imut, gue mual." David lalu memberikan satu batang coklat putih ke Fahri.


"Emang kenapa? Lo takut jatuh cinta ya?" Fahri mengedipkan genit satu matanya ke arah David dan mengambil coklat yang disodorkan David.


"Heh! Gue normal." David menabok kepala Fahri. Pria itu mendengus kesal.


Fahri menatap David berapi\-api, lalu muncul ide ter\-emejing di otaknya. Fahri menatap David dengan senyum picik.


Ia mengedarkan pandangan mencari sesosok gadis.


"AGIIIIT!" teriak Fahri yang membuat seisi kelas yang tadinya ribut mendadak hening.


Gadis yang merasa terpanggil pun langsung menatap ke arah Fahri, menatap kebingungan.


"KATA DAVID LO MAU NGGAK JADI PACAR DIA?" David yang mendengar itu langsung membulatkan matanya. Sekelas pun langsung heboh dibuatnya.


"Heh!! Mulut lo!" David kesal dikerjai Fahri.


"KATA DAVID KALAU NGGAK MAU JADI PACAR, JADI ISTRI JUGA BOLEH!!!" Setelah teriak seperti itu Fahri langsung lari menuju pintu kelas, lalu hilang tak berbekas.


Agit hanya menatap wajah David lalu menggeleng\-gelengkan kepalanya melihat kelakuan dua orang tidak waras itu dan kembali ke aktivitasnya seperti sedia kala.


"Wira mana sih?" David kesal karena Wira hilang entah kemana setelah izin mau ke WC dan sampai sekarang nggak balik\-balik. Padahal tugas OSIS masih banyak yang harus di kerjakan.