
Satu pesan dan sepuluh panggilan tak terjawab tampil di notifikasi ponsel Aldo tertanda dua jam yang lalu, ia baru saja keluar dari rumah sakit tempat Mama Cila dirawat, ia bergegas ke parkiran dan masuk kedalam mobilnya ketika melihat siapa peneleponnya.
Setelah kemarin mengantar Tere sampai ke dalam ruangannya, Tere langsung mengusir mereka bertiga termasuk dirinya untuk segera meninggalkan ruangan itu.
Ia merasa sakit dengan perkataan yang keluar dari mulut gadis itu, namun ia bisa apa? Gadis itu bahkan tidak mengenalnya.
Tapi kenapa sekarang gadis itu meneleponnya?
Ia melajukan mobilnya secepat mungkin sambil terus menghubungi nomor yang dua jam lalu meneleponnya, namun panggilannya sama sekali tak diangkat. Terlalu fokus sama panggilannya Aldo sama sekali belum membuka pesan yang dikirim oleh Tere.
Ia akhirnya membuka pesan itu.
Pesan itu sukses membuat matanya membulat penuh, badan pria itu seketika menegang, ia memegang kuat stirnya dan langsung menambah kecepatan mobilnya, beberapa orang mengumpat ketika mobil pria itu dengan brutal menyalip mobil mobil yang menghalangi jalalnnya.
"Kenapa lagi sekarang Re?!" Ucap pria itu di sela sela injakan gasnya.
Pacargue :
If you wanna see me, better hurry because i'm leaving soon.
Pria itu berlari kencang kedalam rumah sakit setelah memarkirkan mobilnya. Ia langsung menuju kamar yang digunakan Tere di hari-hari sebelumnya. Ada yang janggal disini, kaca buram yang menutupi ruangan itu kini tidak menunjukkan kehidupan. Ruangan itu kosong.
Aldo melihat seorang suster yang sering merawat Aldo berjalan menuju ke arahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster dengan pakaian kerja serba putihnya.
"Pasien yang kemarin dirawat di kamar ini sudah pulang sus?" tanya Aldo.
Suster itu mengangguk, "Iya, pasien sudah mengosongkan ruangan sekitar satu jam yang lalu."
"Makasih sus."
Tanpa mau mendengar jawaban dari suster lagi Aldo segera berlari keluar rumah sakit dan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Tere.
Di perjalanan ia tak henti hentinya mencoba untuk menelepon Tere, namun panggilannya sama sekali tidak dijawab. Ia kemudian mencoba menelepon David namun hasilnya sama juga, tak ada yang menjawab teleponnya.
Aldo menghela nafas berat, ia kemudian kembali menekan bel rumah itu berkali kali. Namun tetap tak ada jawaban. Saat berniat kembali ke mobilnya, tiba tiba ada seseorang yang menyentuh bahunya.
Aldo menaikkan satu alisnya melihat siapa orang itu,
"Mas ada perlu apa?" tanya wanita paruh baya itu.
"Saya Aldo, Temannya Tere Tante," jawab Aldo ke wanita yang sepertinya tinggal di sebelah rumah Tere.
"Mas nya ini gak tahu?"
Aldo menatap wanita itu dengan dahi berkerut,
"Tahu apa?"
"Pak Angga, Bu Ingrid, dan anak anaknya sudah pindah ke bandung."
"Bandung?" tanya Aldo memastikan.
"Iya Mas, setahu saya tadi pagi setelah keluar dari rumah sakit mereka langsung ke bandara, tidak sempat singgah disini juga."
Aldo tersenyum kecut, perasaan menyesal merundungi dirinya, ia menyesal tidak mengangkat telepon ketika gadis itu menghubunginya.
"Tante tau alamat rumah Tere di Bandung?" tanya Aldo berharap pertanyaannya terjawab, namun wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau gitu saya pergi dulu Tante."
"Iya hati hati Mas."
Pria itu hanya mengangguk lemah dan berjalan ke arah mobilnya. Ia memukul keras stirnya lalu memukul kepalanya frustasi, apa yang baru saja ia lakukan, membiarkan gadisnya pergi begitu saja, padahal gadis itu sudah berbaik hati menghubunginya.
"Damn."
Wajah pria itu memucat begitu juga dengan tangannya yang mulai mendingin. Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas dashboard, berusaha kembali menghubungi nomor Tere. Beberapa kali panggilannya diabaikan. Dan yang terakhir, nomor itu tidak aktif.