MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
85



Aldo mendorong kursi roda Tere, menelusuri jalan setapak dan berhenti di samping air mancur kecil di tengah taman.


Ia membawa Tere keluar setelah mendapat izin dari dokter dan David untuk membawa Tere jalan-jalan menghirup udara segar.


"Kau tau, aku sangat kuat," ucap gadis itu sambil melihat ikan yang berenang di dasar air mancur.


"Kenapa bisa?" tanya pria itu heran.


"Kata Kak David aku mengalami kecelakaan motor parah sehingga amnesia, tapi aku sama sekali tak merasakan sakit apapun di tubuh ku dari awal bangun, aku cuma merasa lemas dan tidak dapat mengingat dua tahun sebelumnya."


"Kak David tidak mau menceritakan tentang kejadian dua tahun yang menghilang dari ingatanku." Gadis itu menatap daun daun yang berserakan di bawah kursi rodanya.


"Kau sama sekali tidak perlu mengingatnya." Pria itu kembali mendorong pelan kursi roda Tere.


"Iya, aku pun sama, tak mau mengingatnya lagi..." Kata kata itu sukses membuat hati Aldo bergemuruh, ia sedih mengingat gadisnya tidak lagi dapat mengingat kenangan mereka, tapi ia tidak boleh egois.


"...tapi kau tau, ada sesuatu di dalam diriku yang menolak keras akan hal itu, sesuatu yang tidak rela jika ingatan itu hilang, sesuatu yang menurutku itu adalah.... perasaan?"


"Perasaan yang sama sekali tidak membiarkan hati ku tenang karena tidak bisa mengingat kejadian dua tahun yang telah berlalu." Langkah kaki Aldo terhenti, membuat Tere mendongakkan kepalanya untuk melihat Aldo yang sama sekali tidak berjalan lagi.


"Hey, kau kenapa?" tanya gadis itu, lamunan Aldo terpecah.


"Tidak kenapa kenapa." Pria itu berjalan memutari kursi roda itu dan berhenti tepat di depan Tere. Ia kemudian berlutut untuk menyejajarkan kepala mereka berdua.


Tere merasakan telapak tangan hangat yang menangkup wajahnya. Jari tangan itu membelai kulit wajahnya lembut. Ia menahan nafas merasakan sentuhan itu.


"Tidak usah berusaha untuk mengingat, hal itu hanya akan membuatmu semakin sakit, perasaan itu hanyalah ilusi sementara, jangan berharap lebih dengan perasaan itu." Ia kemudian menarik Tere kedalam pelukannya.


Menenggelamkan wajahnya di sela sela helai rambutnya. Ya Tuhan, Aldo merindukannya.


Ia rindu memeluk gadis ini, gadis yang akan meliuk-liuk bak anak kucing ketika di dalam pelukannya. Ia rindu ketika gadis itu memeluknya balik dengan erat.


"Apa yang kau lakukan..."


Tere berkata lirih sambil mendorong tubuh Aldo menjauh, ia memundurkan beberapa senti kursi rodanya kebelakang, menciptakan jarak diantara mereka.


Wajahnya merah padam. Sementara Aldo masih tertegun mendengar ucapannya barusan.


"Kau sudah melakukan hal itu dua kali padaku, kenapa? Sebenarnya siapa kau?" Suara Tere bergetar, Aldo semakin frustasi, bahkan untuk memeluk gadisnya pun ia sudah tak bisa.


Aldo tau Tere tidak mengingatnya. Walaupun ia sudah memperkenalkan dirinya Tere pasti masih merasa asing dengannya yang baru ia kenal hari ini. Tapi tetap saja, mendengar apa yang gadis itu ucapkan membuat luka baru di hatinya.


"Aku..." Aldo bahkan tidak sanggup mengeluarkan suara.


"Siapa pun kau... tolong jangan melakukan hal itu lagi padaku. Rasanya... Aneh. Bukankah kau cuma teman ku? Bertingkahlah layaknya teman."


Aldo benar-benar ingin tenggelam di lautan saat ini juga, ia benar benar menjadi sosok asing dihadapan Tere. Tidak berguna.


"Cobalah untuk mengerti, sedekat apapun kita dulu, ingatan ku tetap baru saja mengenalmu."


Aldo menggapai bahu Tere pelan, "Tapi ak-"


"Jangan menyentuhku...." Kilatan kesedihan di mata Tere membuat Aldo terdiam.


Ia mulai mendorong kursi rodanya menggunakan tangan dan menjauh meninggalkan Aldo yang terdiam membeku disana.


"Tunggu." Aldo bersuara parau, namun tampaknya Tere tidak mendengarnya.


"Tunggu Re." Atau mungkin sengaja tidak mendengarnya.


"Aku mencintaimu." Aldo bergumam pelan, menatap punggung gadis itu yang semakin kecil dari pandangannya.