MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
74



David berlari kecil melewati koridor rumah sakit, setelah mendapat telfon dari Aldo ia segera pergi dari tempat lesnya dan pergi ke rumah sakit.


ia melihat Aldo dan kedua teman Tere yang sedang duduk di kursi depan ruangan tempat adiknya diperiksa.


"Gimana?" tanyanya ketika sampai di depan ruangan Tere.


"Masih diperiksa," ucap Aldo sambil mengusap wajahnya kasar.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok dokter yang keluar dari ruangan itu.


"Keluarga pasien?" tanya dokter itu.


"Saya dok," ucap David.


"Ikut saya."


 


Aldo masuk kedalam ruangan diikuti Audri dan Bryan setelah diizinkan masuk oleh perawat disana.


"Gue nyesel karna ngajak dia," ucap Audri lirih ketika melihat sahabatnya terbaring kaku disana.


"Semua ini terjadi gara gara gue." Air mata mulai membanjiri wajah Audri.


"Udah Dri, ini bukan salah lo." Bryan menenangkan Audri menariknya ke dalam pelukan.


"Yang pantes disalahkan atas kejadian ini adalah Bela," ucap Aldo tegas, tangannya mengepal keras, buku buku jarinya memutih.


"Gue ga bakalan biarin dia kalau Tere kenapa napa." Ia menyingkirkan surai rambut yang ada di wajah gadis itu.


"Kalau gitu gue anter Audri pulang dulu," ucap Bryan pamit ke Aldo.


"Nggak Yen, gue mau disini sampe Tere sadar," cegah Audri saat Bryan menarik tangannya.


"Dri lo harus tenangin diri dulu, tenang aja Tere gue yang jaga," ucap Aldo meyakinkan Audri.


Audri mengangguk pelan lalu mengikuti Bryan yang menuntunnya keluar ruangan.


 


Beberapa menit tanpa suara diruangan itu, tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok David dengan muka yang bisa dibilang tidak baik.


Sebelum masuk ruangan, David sudah menelfon Angga dan Ingrid tentang keadaan Tere, dan menyuruh mereka untuk datang besok pagi saja karena Tere sedang tidur dan tidak boleh di ganggu.


Ia menarik sebuah kursi di samping kanan ranjang Tere, berseberangan dengan Aldo.


"Apa Tere sudah sadar?" suara David terdengar berat dan lelah.


Aldo menggeleng seraya memainkan jari jari Tere yang tersampir di samping tubuhnya yang sedang terlelap.


"Ada apa?" tanya Aldo yang melihat David bergerak gelisah ditempatnya.


"Kondisinya memburuk," jelas David.


"Tadi..."


"Dokter bilang kalau penyakit mental illnes Tere sudah sepenuhnya kembali," David meremas selimut yang digunakan adiknya itu.


Aldo membeku di tempat, mencerna kalimat demi kalimat yang David lontarkan. Mendadak rasa takut yang sedari tadi menyergap, kini kian membesar.


"Hanya satu hal yang dapat menolongnya..."


Aldo mengangkat wajahnya, secercah harapan kembali bersarang di hatinya.


"ECT."


"ECT? Apa itu?"


"Suatu jenis pengobatan untuk penderita PTSD dengan menggunakan aliran listrik yang dialirkan ke tubuhnya."


"Pada pengobatan, pasien diberi rangsangan singkat secara elektrik pada bagian kulit kepala. yang menghasilkan aktivitas sel syaraf melepaskan kimia-kimia yang membuat kegelisahan didalam otak dan membantu memulihkan kembali fungsinya secara normal."


"Secara singkat ketika bangun nanti, pasien akan sembuh total dari PTSDnya."


Sebuah senyuman muncul di bibir manis Aldo. "Kalau begitu kenapa tidak melakukannya sesegera mungkin agar Tere dapat sembuh total."


David mengusap kasar wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"Tapi..." David menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Kalau ECT dilakukan, lo harus bersiap kehilangan Tere." Badan Aldo seketika menegang kembali.


"Ke-kenapa?" tanyanya segera.


"ECT mempunyai semacam efek samping yaitu menghilangkan sejumlah memori ketika terapi sedang berlangsung, termasuk memori yang terjadi bertahun-tahun lalu sebanyak 12%..."


"...dan kalau dihitung-hitung dari umur Tere, maka ia akan kehilangan memori 2 tahun sebelumnya."


"Lebih tepatnya sebelum lo kenal adik gue."