MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
95



Audri berdiri bersampingan dengan Tere di atas rooftop rumah sakit, ketika mendengar isakan Tere saat meneleponnya, Audri langsung segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Tere.


Gadis itu kemarin marah marah tidak jelas, meluapkan kekesalannya selama ini, berpura pura mengikuti alur cerita yang bahkan sama sekali ia tidak ingat. Ada perasaan bersalah di dalam diri Audri, ia melupakan fakta bahwa dirinya tidak ada di dalam ingatan Tere namun ia terus memaksa untuk berada di samping gadis malang itu.


Keduanya terdiam sejenak, merasa enggan untuk membahas masalah kemarin.


"Lo kenapa Re?" Audri membuka suara ketika mereka berdua sudah duduk di sisi pagar pembatas rooftop.


"Gue sedih," ucap Tere sambil melihat langit.


"Sedih? Bukannya hari ini harusnya lo seneng, karena udah bisa keluar dari rumah sakit?" Audri menatap wajah Tere heran.


Tere mengangguk perlahan,


"Iya, seharusnya gue senang karena udah bisa keluar dari tempat membosankan ini."


"Tapi... sebuah kenyataan mengharuskan gue untuk sedih."


"Kenyataan apa Re?"


"Gue..."


"Gue?" Audri membeo perkataan Tere.


"...Gue harus pergi ninggalin kalian."


"Maksudnya?"


"Gue...Bakal pindah ke Bandung."


"Hah? Kenapa?"


"Lo tau kan, Kak David bakalan sekolah di luar negeri dan gue nggak mungkin tinggal sendirian di Jakarta."


Mendengar jawaban Tere, Audri hanya menganggukkan kepalanya lemah.


"Kalau lo pergi, gue gak punya temen sebaik dan se oon lo lagi dong." Mata gadis itu tiba\-tiba berkaca kaca saat mengeluarkan kalimatnya.


"Lo kan punya Bryan, kalian dekatkan?" Pertanyaan Tere dibalas anggukan oleh Audri.


"Maaf..." ucap Tere.


"Maaf kenapa?"


"Kalau gue udah nyakitin kalian dengan perkataan gue kemarin."


Audri kembali tersedu.


"Sst, udah ga usah nangis, kok lo nangis sih?" ucap Tere menepuk\-nepuk punggung Audri.


"Gue sedih." Gadis itu mencubit pelan lengan Tere.


"Hehe, Ya udah sini peluk gue sepuasnya...." Audri menghabur ke pelukan Tere, gadis itu menangis tersedu\-sedu disana.


"Puas\-puasin...."


"Sebelum gue pergi." Gadis itu menepuk\-nepuk punggung sahabatnya.


"Terus Aldo gimana?" Pergerakkan tangan Tere terhenti saat mendengar pertanyaan itu.


"Gue boleh minta satu hal dari lo?" Tere meregangkan pelukannya dari tubuh Audri.


"Kasih ini ke dia," Tere menyerahkan sebuah surat yang diambilnya dari kantong saku kemeja ke Audri.


"Jangan di buka yah, kalau lo ketemu Aldo gue harap lo kasih dia langsung."


Audri menerima surat berbentuk kotak berwarna hitam itu, memperhatikannya sejenak dan langsung memasukannya ke dalam tas selempangnya.


"Satu lagi..." ucap Tere, ia menghela nafas panjang lalu melanjutkan perkataannya.


"....Anggap kita tidak pernah mengenal satu sama lain."


Dengan mengakhiri perkataannya, Tere segera mencium kedua pipi sahabatnya itu lalu beranjak pergi dari sana, meninggalkan Audri yang masih terdiam dan berusaha untuk mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Tere.


q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q qq q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q