MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
15



Fajar.


Kakak kelas mereka berdua. Fyi Aldo sangat tidak menyukai pria ini, Fajar adalah kakak kelas yang nakal, dia sering membully adik kelas, berkelahi, tawuran, dia pemakai (yahhh you know lah) dan juga karena Aldo tau kalau Fajar...menyukai Tere.


"Ehh, Kak Fajar!" Tere membalas panggilan Fajar.


"Kalian nggak dapat tempat duduk? Sini duduk satu meja sama gu--"


Fajar belum menyelesaikan perkataannya dan Aldo tiba-tiba sudah berada di sana dan memotongnya.


"Nggak usah, terima kasih. Gue dan Tere bakalan makan di mobil."


"Ihh Aldo nggak apa-apa kali, kalo kita makan di mobil lo nanti mobil lo kotor." Tere menarik tangan Aldo dan langsung duduk di samping Fajar.


Tere bersenda gurau dengan Fajar membuat Aldo mendengus kesal, ia merasa tersisihkan, Tere duduk diantara Aldo dan Fajar.


Pesanan mereka berdua pun datang, Aldo dengan cepat memakan ketopraknya agar bisa cepat-cepat membawa pergi Tere dari tempat itu.


Setelah beberapa menit bersenda gurau, entah apa yang terjadi tiba-tiba tangan Fajar memegang tangan Tere, Aldo yang menyadari itu langsung melirik tajam ke arah Fajar.


"Awasin tangan lo! sebelum patah," ancam Aldo.


Tere yang menyadari ketidaksukaan Aldo dan langsung berusaha melepaskan tangannya, namun Fajar malah tambah menguatkan pegangannya.


Fajar memberi tatapan meremehkan ke arah Aldo. "Kalau gue gak mau?"


Tiba-tiba Aldo berdiri dan langsung mencengkeram kerah Fajar. Membuat pegangan tangan Fajar di tangan Tere terlepas.


"Mau lo apa?" tanya Aldo dengan nada dingin.


"Lepas!!! Malu diliatin banyak orang." Tere berusaha melepaskan cengkeraman tangan Aldo dari kerah baju Fajar dan akhirnya berhasil.


"Apasih Re?" ucap Aldo kesal.


"Gue ga mau lo berkelahi Do," balas Tere.


"LO JANGAN KURANG AJAR HAH! LO ITU BUKAN SIAPA-SIAPA TERE, JADI JANGAN SOK NGATUR-NGATUR," teriak Fajar tepat di depan wajah Aldo, tentu saja hal itu mebuat kuping dan hati Aldo menjadi panas


"APA LO BILANG??" teriak Aldo tak kalah besar.


Saat ini emosi Aldo sudah tak terkendali, sedetik kemudian tangan kanan yang sudah dikepalkan terlebih dahulu berhasil mendarat di pipi kiri Fajar dengan keras.


BUGH!!


"Brengsek lo!" Aldo terus memukul Fajar dengan ganas, Aldo tidak memberikan celah untuk Fajar menyerang kembali. Sesekali pria itu mencoba menyerang namun sama sekali tak ada kesempatan.


Fajar sudah terkulai lemas tidak berdaya.


Tak tinggal diam Tere menarik hoodie yang dipakai Aldo dengan keras. Tere marah melihat sikap arogan Aldo. Tidak biasanya pria itu seperti ini.


"Lo apa-apaan sih?" teriak Tere dengan lengan yang terus menarik hoodie Aldo.


Aldo pun mengakhiri kegiatan memukul Fajar, baru saja berdiri tiba-tiba tamparan keras dari Tere langsung mendarat mulus di pipi kiri Aldo.


Tere mengusir Aldo dari tempat itu.


"Lo ngusir gue?" Aldo menggelengkan kepala tidak percaya.


"Iya, pergi lo dari sini, lo nggak sadar? Dia anak orang woy, kalau mati lo mau tanggung jawab hah."


"Iya gue tau di anak orang, siapa bilang dia anak hewan?" Dengan kecewa Aldo langsung berlari menuju mobilnya.


Pada saat Aldo menyeberang tiba\-tiba ada mobil melaju kencang dari arah kanan, Tere yang masih memperhatikan Aldo menyeberang ingin segera berlari mendorong Aldo dari tengah jalan itu, namun waktu tiba\-tiba berjalan sangat lambat.


Tere dengan jelas melihat bagaimana cara Aldo tertabrak oleh mobil sialan itu, badan Aldo terpental beberapa meter ke samping jalan.


shit!


Bagaimana dengan Tere? Tere seperti orang kesurupan ia tidak memperhatikan lagi kondisi Fajar, dan berlari secepat mungkin ke arah tubuh Aldo yang tidak berdaya, darah segar mengalir dari kepalanya dan beberapa bagian tubuh lainnya, wajah dan tubuhnya bersimbah darah, bau anyir menyeruak ke hidung Tere, kesadaran Aldo sudah menghilang.


Para pengendara lain membantu Tere mengangkat Aldo ke dalam mobilnya.


Tere menyuruh orang lain untuk membawa mobil itu sedangkan dia berada di belakang bersama Aldo.


"Do, lo harus kuat sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, lo harus kuat." Tere berkata frustasi sambil memeluk tubuh Aldo.


"Kenapa? Kenapa gue tadi nyuruh lo pergi? Kenapa gue malah nampar lo? Kenapa?" Tanpa sadar lelehan kristal mulai berjatuhan dari matanya.


'Lo harus bangun Do,' batin Tere.


Orang yang sedang menyetir di depan tidak berani membuka suara dia hanya terus menyetir dan berusaha secepat mungkin untuk sampai di rumah sakit.


"Apa yang harus gue lakuin Do...."


♡♡♡


David berlari kecil di sepanjang koridor rumah sakit, waktu sedang makan malam dengan Fahri dan kawan\-kawan, David mendapat telepon dari Tere, dengan isak tangis Tere memberi tahu David apa yang terjadi dengan Aldo.


Sekarang David sudah sampai di depan ruang operasi, ia melihat Tere yang sedang duduk dilantai depan ruang operasi, Tere menangis, bahunya bergetar hebat, ia duduk sambil memeluk lututnya.


"Re...." David jongkok di depan adiknya, Tere yang melihat kedatangan David langsung memeluknya.


"Kak, Aldo jadi begini karena Tere kak, apa yang harus Tere lakuin, Tere nggak mau kehilangan Aldo."


David merengkuh tubuh adiknya itu dalam dekapannya, di saat seperti inilah David harus bersikap sangat dewasa.


"It's okey Re, kita berdoa semoga Aldo baik baik saja."


Tere melepaskan pelukannya, lalu kembali duduk sambil memeluk lututnya.


"Maafin gue Do."


David menuntun Tere untuk duduk di kursi dan tidak duduk di lantai lagi.