
Sudah beberapa jam setelah Aldo dilarikan ke rumah sakit. Tere sekarang berdiri di depan jendela ruang rawat inap Aldo.
Gadis itu menatap iba wajah Aldo, terdapat beberapa luka di bagian kanan wajah Aldo, kepalanya diperban.
Sementara itu, David sedang menemani Diana, Ibu Aldo untuk mengurus administrasi biaya perawatan Aldo.
Saat Diana datang Tere langsung memeluk Diana yang sudah Tere anggap seperti ibunya sendiri. Perkataan maaf terus saja keluar dari mulut gadis itu, Diana hanya bisa memeluk dan menenangkan gadis itu.
Tere ingin masuk ke ruang rawat Aldo, namun perasaan bersalah masih membuatnya enggan untuk masuk. Ia termenung sebelum sebuah suara kembali menyadarkannya.
"Kalau mau masuk, lo masuk aja, dokter udah ngijinin." Tiba-tiba Novan muncul dari belakang Tere, Adik Aldo, masih SMP kelas 3 wajahnya sangat mirip dengan kakaknya, namun sifatnya sangat bertolak belakang dengan Aldo.
Aldo lumayan ceria sedangkan Novan sangatlah pendiam, lebih tepatnya dingin. Semenjak kenal sama Novan, Tere hanya pernah berbicara dua kali sama dia, itupun waktu dikenalkan dengan Aldo dan baru-baru saja tadi.
"Nggak usah gue disini aja." Tere tersenyum namun lawan bicaranya tetap memasang wajah datar.
"Ya udah terserah lo." Novan berjalan melewati Tere, saat melewati Tere, Novan berbisik tepat di telinganya.
"Lo tau kan, kakak gue butuh lo banget." Novan menatap dingin Tere lalu melanjutkan langkahnya santai meninggalkan gadis itu sendirian di depan ruang rawat Aldo.
Novan mengetahui kedekatan Aldo dengan Tere, karena setiap hari Aldo tidak ada habis-habisnya untuk menceritakan kesehariannya dengan gadis itu.
Tere mendekati pintu ruang rawat Aldo, mengumpulkan keberanian Tere akhirnya membuka pintu itu.
Gadis itu berjalan perlahan menuju ke tempat Aldo dibaringkan, Tere tentu saja tidak dapat membendung air matanya, air itu turun begitu saja.
Saat melihat wajah Aldo yang tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit, walaupun luka yang didapatkannya tidak cukup parah tetapi melihatnya bisa membuat Tere meringis kesakitan.
Tere duduk di kursi samping ranjang Aldo.
"Sorry..." Tere berbisik lirih.
"Bangun Do, gue capek banget nunggu lo bangun, gue juga pingin tidur, tapi nggak bisa.... tiap gue tutup mata gue kebayang lagi muka lo, suara lo. Lo harus bangun." Tere memejamkan matanya agar air matanya tidak keluar.
"Kepala lo berat. Singkirin." Tere masih memejamkan matanya.
"Tuh kan tiap kali gue tutup mata suara lo kedengeran lagi," gumam Tere yang kepalanya masih terbaring nyaman di perut Aldo.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh kepala Tere dengan sangat lembut, Tere terkesiap dan langsung membuka mata serta menegakkan badannya.
Dia melihat wajah Aldo yang sedang menatapnya.
"Aldo... Lo udah bangun?" Tere langsung memegang tangan Aldo yang tadi menyentuh kepalanya.
"Nggak, gue masih tidur." Aldo langsung menarik tangannya dan menutup kembali matanya.
"Stupid.." Gumam pasien itu.
"Ihhh Aldo." Tere langsung menekan tombol interkom khusus di ruang Aldo yang terhubung dengan ruang jaga perawat.
Beberapa saat setelah pemeriksaan ringan dari dokter dan beberapa suster, dokter menyatakan semuanya normal dan baik-baik saja.
Saat melakukan pemeriksaan, Tere segera menelfon David agar memberitahu Diana dan Novan bahwa Aldo sudah sadar.
Diana memasuki ruang rawat Aldo, melihat Aldo yang terbaring lemah membuat Diana sedih, namun ia harus kuat, ia tidak ingin terlihat lemah di depan anak-anaknya.
"Sayang, are you okay?" Diana mengelus pipi Aldo dengan lembut.
"Yes, i'm okay" Aldo memaksakan dirinya tersenyum agar tidak membuat ibu yang paling disayangnya itu khawatir.