MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
55



"Mentall illnes dapat dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang. Contohnya memiliki pengalaman perih dan kenangan buruk yang tidak bisa dilupakan."


"Penyakit mental bisa mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berhubungan dengan orang lain, dan membuat pilihan. Hal ini dapat memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri."


"Sayangnya, belum ada obat yang dapat menyembuhkan semua penyakit mental sekaligus."


"Untuk kasus kali ini saya hanya bisa memberikan Tere beberapa obat, Terapi obat biasanya melibatkan obat\-obatan yang dapat mengubah kimia otak di otak. Obat tersebut termasuk selective serotonin reuptake inhibitor \(SSRI\), serotonin\-norepinefrin reuptake inhibitor \(SNRIs\) dan antidepresan trisiklik."


"Saya harap Tere bisa menjalani hari harinya dengan baik, dan kamu sebagai kakaknya harus selalu setia di sampingnya, karena tidak ada yang tau kapan mentall illnes Tere akan kambuh lagi, jangan biarkan dia berfikiran yang aneh aneh."


"Terus untuk perubahan emosi dia, kamu harus memakluminya, jangan biarkan dia putus asa, kamu harus selalu memotivasinya."


"Makasih, saya permisi." David berjabat tangan dengan Heri\-psikiater, lalu keluar dari ruangan dokter yang menangani masalah kejiwaan itu.


Sekarang ia sudah berada di dalam ruang tunggu praktek, melihat adik perempuannya yang sedang menatap kosong ke dinding yang berada di depannya.


David mendekat dengan langkah kaki yang lemas,


"Re sekarang kita pulang yah."


Tere hanya terdiam, tidak berniat bergerak dari tempat duduknya,


"Apa maksud kakak bawa Tere kesini?"


"Tere gila ya kak?"


"Re..." David berjalan ke depan Tere, lalu berjongkok di depan gadis yang duduk di kursi ruang tunggu itu,


"Kamu sama sekali tidak gila."


"Kalau memang Tere tidak gila...." ia menghentikan perkataannya dan meremas ujung bajunya, "Kenapa sekarang Tere selalu ngelihat Reyhan?"


Untuk kesekian kalinya badan David kembali menegang, ia sama sekali tidak bisa berfikir lagi, apa yang harus dia lakukan untuk membuat Tere kembali normal.


Ia kemudian berdiri dari hadapan Tere, menggenggam kuat tangan Tere dan membawanya ke dalam pelukannya,


"Maaf, kalau kakak nggak bisa ngejagain kamu dengan baik...."



"Cila...gue ga bisa."



"Maaf..."



"Gue cinta sama Tere."



"Semakin gue ngejauh, semua ini semakin terasa sakit, gue benci sama diri gue yang gak bisa ngejagain dia, maaf...." Aldo mematikan sambungan telfon sepihak, sebelum Cila disana berbicara dan membuat tekadnya runtuh lagi.



Sepulang dari sekolah tadi, Aldo berencana untuk berbicara dengan Tere, tetapi ia sama sekali tidak dapat menemukan Tere yang sudah duluan keluar kelas.



Melihat wajah Tere yang sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi apa pun membuat Aldo sama sekali tidak tenang selama jam pelajaran berlangsung.



"Lo dimana?" tanya Aldo entah kesiapa.



"Aldo." Seseorang menepuk pundak Aldo dari belakang membuat pria itu membalikkan badannya.



q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q. q q q a a a. a q q q q a a a a a. a a a a a a. a a a a a a. a a