Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Mother's protection



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor.


Terima kasih.


Bandar Udara Internasional Tokyo


Setelah menempuh perjalan selama hampir 14 jam pesawat jet milik Archie akhirnya sampai di bandara internasional Tokyo, si kembar pun nampak tak sabar untuk segara turun dari pesawat untuk menghirup udara segar. Udara didalam pesawat jet benar-benar terasa pengap dan menyesakkan untuk mereka berdua, mereka yang awalnya sangat antusias pergi ke Jepang kini terlihat lebih tenang dan tak berani banyak bicara di dekat sang ayah yang terlihat mengerikan, sorot mata tajam Archie benar-benar membuat kedua anaknya takut mendekat.


"Akhirnya sampai juga di Jepang,"


"Akh segarnya udara ini, rasanya seperti lama sekali aku merindukan bisa menginjakkan kaki di bumi,"


Archie hanya melirik tajam ke arah kedua anak kembarnya yang sedang strecing di landasan pacu sesaat setelah mereka turun dari pesawat tanpa bicara, tak lama kemudian ia melangkahkan kaki menuju lobby bandara dimana sudah ada beberapa orang yang menunggunya. Walau Archie tak punya perusahaan di Jepang namun nama besarnya yang sudah sangat mendunia tak menyulitkan dirinya mendapatkan pengawalan VIP seperti saat ini, ia menyewa sebuah jasa pengamanan dari sebuah perusahaan khusus yang menyediakan fasilitas itu.


"Selamat datang tuan Durran," sapa seorang pria berjas rapi menyapa Archie ramah saat sampai di depan lobby.


"Terima kasih sudah menjemput saya tuan Kenzo," jawab Archie ramah menggunakan bahasa Jepang yang lancar.


"Sebuah kehormatan bagi saya bisa bertemu dan menjemput orang hebat seperti anda tuan, jadi anda tak usah sungkan. Mari silahkan masuk, saya antarkan ke rumah sakit," sahut pria yang bernama Kenzo pelan sambil mempersilahkan Archie masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggunya di lobby, ia sudah tau kemana tujuan tamu pentingnya itu.


Tanpa bicara Archie pun langsung masuk ke dalam mobil diikuti si kembar dengan cepat sambil menggendong tas ransel mereka yang besar, dua orang pria berpakaian serba hitampun langsung mengambil alih tas yang dibawa oleh Allard dan Ashley untuk dibawakan. Pada awalnya si kembar tak paham dengan kedua pria itu namun saat tuan Kenzo mengatakan kalau kedua anak buahnya itu ingin membantu mereka berdua membawakan tas akhirnya keduanya paham dan mau memberikan tas ransel mereka.


"Dadd, aku tak tau kalau daddy bisa bicara bahasa Jepang," ucap Allard pelan membuka percakapan mencoba untuk memecah keheningan di dalam mobil.


"Saat umur Daddy 20 tahun Daddy sudah bisa lima bahasa asing termasuk Jepang, tak seperti kalian berdua yang hanya baru bisa tiga bahasa saja. Itupun kalian masih belepotan bicara dengan bahasa Indonesia bahasa yang sering Mommy kalian pakai sehari-hari," jawab Archie ketus.


Glek


Allard menelan salivanya perlahan mendengar perkataan sang Daddy , ia menyesal telah bebicara seperti tadi. Niatnya ingin mencari perhatian sang ayah sia-sia. Ashley yang duduk disebalahnya hanya tersenyum kecut mendengar perkataan sang Daddy yang menusuk itu. Sementara itu Allard langsung meraih botol air mineral yang disediakan di dalam mobil dan menenggaknya dengan cepat tanpa sisa sampai terbatuk-batuk, ia ingin sekali bertemu dengan sang ibu dan mengadukan semua perbuatan sang Daddy yang kejam itu.


"Sabar All, penderitaan kita akan berakhir sebentar lagi. Saat kita bertemu Mommy kita adukan semua apa yang Daddy lakukan pada kita," bisik Ashley pelan sambil menepuk-nepuk punggung Allard pelan untuk meredakan batuk sang saudara kembar.


"Iya Ash, aku juga sudah tak sabar," jawab Allard tanpa suara dengan mata berkaca-kaca, ia benar-benar sudah tak kuat ada didekat sang ayah yang mengerikan itu.


Allard langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat  mendengar perkataan saudara kembarnya dengan penuh semangat, Archie yang duduk didepan kedua anak kembarnya tak bergeming. Ia tau kalau kedua anak kembarnya itu sedang membicarakan dirinya, namun ia tak memperdulikan hal itu. Yang ada di otaknya adalah bisa secepatnya melihat Sasa, melihat rekaman CCTV Sasa terjatuh di bebatuan tajam itu benar-benar membuat dadanya sesak.


"Butuh berapa lama lagi kita sampai dirumah sakit tuan Kenzo?" tanya Archie pelan.


"Lima menit lagi kita sampai tuan, itu rumah sakitnya sudah ada didepan. Kita hanya tinggal masuk saja menunggu area lobby kosong, karena anak buah saya sedang mensetrilkan area itu," jawab tuan Kenzo ramah.


"Baguslah," sahut Archie datar, ia sedikit terhibur saat tau tuan Kenzo melakukan servise terbaiknya. Kemarin saat ia menghubungi perusahaan jasa pengawalan itu memang dirinya minta pengawalan tingkat satu dimana ia tak mau ada orang ada didekatnya setidaknya dalam jarak sepuluh meter.


Archie tak mau mengambil resiko, walaupun saat ini di Jepang ia tak punya proyek apapun namun ia tak mau memberikan ruang pada rival bisnisnya untuk mencelakainya. Apa yang menimpa sang istri saja sudah membuatnya hampir terkena serangan jantung, oleh karena itu ia tak mau mengambil resiko lain. Apalagi saat ini ia sedang bersama kedua anaknya yang lain, bagi Archie keselamatan keluarganya diatas segala-galanya. Maka dari itu saat mendengar permintaan Arthur untuk tinggal dan kuliah di Jepang sendiri enam bulan yang lalu ia langsung menolak keras, hal itu bukan tanpa alasan. Ia hanya tak mau ada yang mencelakai putra kebanggaannya itu yang ia gadang-gadang menjadi penerusnya kelak, namun karena sang istri mengijinkan akhirnya ia mengalah dan memberi kesempatan pada Arthur untuk tinggal mandiri di negara asing. Namun setelah kejadian ini ia berniat akan membawa paksa anaknya itu kembali ke Quebec apapun yang terjadi.


Tak lama kemudian mobil Royce Roll anti peluru yang membawa Archie dan kedua anak kembarnya pun sampai di lobby rumah sakit, seperti perkataan tuan Kenzo sebelumnya area lobby benar-benar sudah steril dari para pengunjung dan staff rumah sakit. Hanya ada satu dokter dan dua suster saja yang menyambut kedatangan Archie, mereka adalah dokter dan suster yang merawat Sasa sejak tadi malam.


"Selamat datang tuan Duran," sapa dokter Fujiwara ramah menyambut Archie sambil menundukkan kepalanya.


"Kamar nomor berapa istriku dirawat?" tanya Archie datar.


"Nyonya dirawat di lantai sembilan kamar VIP nomor 903 tuan," jawab dokter Fujiwara dengan cepat.


"Thanks," ucap Archie singkat tanpa menoleh, ia lalu meneruskan langkahnya menuju ke lift dimana sudah ada dua orang anak buah Kenzo yang bersiap mengawalnya menuju lantai 9.


Allard dan Ashley yang berjalan dibelakang sang ayah tak berani berkomentar apapun, mereka hanya berjalan tanpa suara menuju ke lift. di dalam lift Archie terlihat sudah sangat tidak sabar berkali-kali ia melihat jam mahal yang terpasang di tangan kirinya rasanya naik ke lantai 9 yang hanya membutuhkan waktu 2 menit itu terasa seperti 1 jam.


Saat pintu lift terbuka di lantai 9 Archie langsung keluar tanpa menunggu kedua bodyguard sewaan yang menjaganya itu keluar terlebih dahulu, ia benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tak bertemu dengan Sasa belahan jiwanya.


"Sayang..." ucap Archie dengan suara parau saat melihat Sasa duduk di ranjang rumah sakit, Sasa yang sudah tau kalau suaminya akan datang sudah bersiap. Tangan kirinya menggenggam tangan Arthur dengan erat, ia tak mau Archie berbuat macam-macam pada Arthur.


"Mom.."


"I knows honey, calm down im here to facing your father," bisik Sasa pelan mencoba menenangkan Arthur yang sedikit khawatir.


🌺 to be continued 🌺