Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Lampu hijau



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Sepanjang perjalanan pulang menuju ke asrama Zarina di dalam mobil Arthur dan Sasa terus bergurau, sedangkan Zarina hanya tersenyum sesekali menanggapi percakapan dua orang yang ada di kursi depan. Saat ini merasa seperti nyamuk di antara mereka berdua, Zarina ingin sekali turun dari mobil dan menaiki angkutan umum untuk menuju ke asramanya. Namun karena hari sudah malam ia tak bisa melakukan itu, alhasil ia hanya bisa pasrah sambil menguatkan dirinya melihat Arthur dan Sasa yang ia kira sebagai kekasih Arthur.


Penampilan Sasa yang terlihat masih seperti anak muda benar-benar membuat Zarina tak tau kalau ia adalah seorang wanita berusia empat puluh tahun lebih, ditambah lagi dengan gaya bicara Sasa yang menyenangkan jati dirinya benar-benar tersamarkan.


"Jadi ini sekolahmu Zarina?" tanya Sasa pelan ketika mereka sudah sampai di depan asrama sekolah Zarina.


"Iya kak, ini sekolahku bisa bersekolah di sini saja aku sudah sangat bersyukur," jawab Zarian sambil tersenyum.


"Semua yang terjadi dalam hidup kita sudah diatur dengan baik oleh Tuhan Zarina, jadi kau jangan pernah bersedih atas apa yang terjadi. Karena percayalah semua yang sudah kau lewati ini akan berguna di masa depan nanti," bisik Sasa pelan sambil memeluk Zarina.


"Iya kak aku juga percaya itu," ucap Zarina tersipu.


Saat Zarina dan Sasa terlibat pembicaraan seru membahas mengenai kegiatan disekolah setiap akhir semester tiba-tiba sebuah taksi berhenti di belakang mobil Arthur, tak lama kemudian turunlah teman-teman Zarina yang tadi pergi bersamanya dan meninggalkan dirinya terlebih dahulu. Saat menyadari Zarina sudah sampai disekolah lebih awal mereka berkali-kali meminta maaf pada Zarina karena meninggalkannya, Sasa hanya tersenyum melihat anak-anak remaja yang polos itu.


"Tidak usah minta maaf terus, lagipula tadi aku pulang diantar oleh kak Sasa. Jadi kalian tak usah merasa bersalah seperti itu," ucap Zarina berkali-kali.


"Maafkan kami ya Zarina, tadi kami buru-buru takut telat. Makanya kami langsung pulang dan melupakanmu," sahut salah satu gadis yang sudah meninggalkan Zarina penuh sesal.


"Sudahlah Rin, tak usah dipikirkan. Aku tak apa-apa kok," jawab Zarina pelan mencoba untuk menenangkan teman-temannya yang terus meminta maaf padanya.


"Ya sudah lebih baik sekalian segera masuk, lihatlah petugas pintu gerbang sudah membawa kuncinya kemari. Aku khawatir kalian semua justru akan terkunci di luar dan tak bisa masuk ke dalam," bisik Sasa pelan mengingatkan pada gadis remaja itu.


Mendengar perkataan Sasa membuat semua gadis itu langsung menoleh ke arah pintu gerbang termasuk Zarina, mereka pun langsung berlari menuju ke dalam asrama sambil berteriak. Sementara Zarina masih berdiri di tempatnya menatap Sasa yang terus tersenyum kepadanya.


"Terima kasih atas malam ini kak," ucap Zarina tulus.


"Sama-sama yang penting kau bisa sampai ke asama dengan selamat dan tepat waktu," jawab Sasa lembut.


"Apakah kita bisa bertemu lagi kak?" tanya Zarina terbata, walaupun baru sebentar bertemu dengan Sasa namun Zarina merasa nyaman. Oleh karena itu ia memberanikan dirinya untuk bertanya seperti itu kepada Sasa yang ia panggil dengan sebutan kakak.


"Tentu saja, besok siang sepulang sekolah kalau kau ada waktu aku jemput lagi ya. Kita bisa jalan-jalan lagi mengelilingi kota Tokyo," jawab Sasha penuh semangat.


Mendengar perkataan Sasa membuat Zarina senang, ia bahkan sampai memeluk Sasa dengan erat karena terlalu bahagia. Tak lama kemudian ia pun masuk ke dalam asrama karena sang petugas penjaga gerbang asrama sudah memintanya untuk masuk, setelah masuk ke dalam asrama Zarina melambaikan tangannya kearah Sasa yang masih berdiri disamping mobil. Ia pun naik ke lantai dua menyusul teman-temannya yang sudah naik terlebih dahulu.


"Sungguh gadis yang sangat manis," ucap Sasa dalam hati.


"Sudah maam?" tanya Arthur pelan kepada sang ibu.


"Yes, ya sudah kita pulang. Hari sudah cukup malam dan Mommy belum menghubungi Daddymu sampai sekarang, lebih baik kita cepat sampai dirumah atau kita berdua akan mendengar tuan Durran marah-marah," jawab Sasa sambil tersenyum.


"Siap madam, silakan pasang sabuk pengaman anda kita akan segera berangkat ke apartemen tuan Arthur Sebastian meninggalkan wilayah SMA Tokyo Gei Ongaku," sahut Arthur dengan cepat mengikuti gaya bicara supir taksi.


Setelah berkata seperti itu Arthur kemudian menginjak gas mobilnya meninggalkan area SMA Zarina menuju ke apartemennya, ia senang sekali karena sang ibu ternyata menyukai Zarina. Tiga puluh menit kemudian mobil Audi A8 milik Arthur akhirnya sampai di basement gedung apartemen, mereka berdua pun langsung menuju lift untuk naik ke lantai 25 di mana unit apartemen Arthur berada.


Begitu sampai di kamar Sasa langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia berpacu dengan waktu supaya tak tepat menghubungi suaminya. Walaupun sudah menikah lama namun sikap posesif Archie kepada dirinya tidak berkurang sedikitpun, sifat posesifnya justru semakin bertambah. Ia tak mengerti kenapa suaminya masih sepisesif itu pada dirinya, padahal dari apa yang sering ia dengar bahwa banyak sekali pasangan yang sudah menikah lebih dari dua puluh tahun kehidupan rumah tangganya sudah tidak harmonis. Namun hal itu tak berlaku dalam rumah tangganya dengan Archie, pasalnya sikap romantis Archie kepada dirinya tak pernah berkurang sedikitpun walaupun mereka sudah punya tiga anak yang sudah dewasa.


Perbedaan usia antara Sasa dan Archie yang cukup jauh membuat Archie takut akan kehilangan Sasa, pasalnya dirinya sudah mulai menua dan sudah tidak muda lagi. Archie takut kalau Sasa akan meninggalkan dirinya demi pria yang jauh lebih muda, oleh karena itu Archie selalu berusaha untuk memanjakan Sasa dengan apapun yang ia miliki.


"Momm...Daddy telepon!!!" jerit Arthur keras dari ruang tamu.


"Iya iya mommy sedang mengeringkan rambut, tinggi sebentar. Kau angkat saja sayang," jawab Sasa setengah berteriak dari dalam kamar.


"Ok," ucap Arthur singkat, ia kemudian meraih ponsel pintar sang ibu yang ada diatas meja dan menerima panggilan masuk dari ibunya itu.


"Yes Dad" sapa Arthur pelan saat tersambung dengan sang ayah di Quebec Kanada.


"Kenapa kau yang angkat, mana mommy? " tanya Archie kesal.


"Kenapa Daddy menanyakan Mommy? kan ada aku di sini," jawab Arthur mencoba memprovokasi sang ayah.


"Arthur cepat berikan ponselnya kepada Mommy-mu, Daddy ingin bicara serius padanya," hardik Archie dengan nada meninggi.


Arthur tertawa lebar mendengar perkataan sang ayah, ia kemudian memberikan ponselnya kepada ibunya yang sudah selesai berganti pakaian dan mengeringkan rambut.


"Iya mas ada apa? maaf tadi aku sedang didalam kamar mandi sebentar," tanya Sasa pelan sambil menatap layar ponselnya.


"Pulang...mas rindu padamu," jawab Archie tanpa rasa malu merengek seperti anak kecil.


Arthur hanya tertawa mendengar perkataan sang ayah, ia kemudian masuk ke dalam kamar untuk mandi dan membiarkan ayah dan ibunya melepas rindu. Di bawah kucuran air shower Arthur tersenyum mengingat apa yang sudah ia lalui bersama Zarina hari ini.


"Mommyku menyukaimu Zarina, aku harap kedepannya tak ada masalah yang menghalangi kita," ucap Arthur pelan sambil membayangkan wajah Zarina yang sedang cemburu tadi di mobil.


🌺to be continued🌺