Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Jatuh bersama



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Melihat Zarina berlari meninggalkan apartemen membuat Arthur berlari mengejarnya bersama Maxwell, namun karena kamar baru Zarina belum ditutup dan dikunci akhirnya Maxwell kembali untuk menguncinya sedangkan Arthur terus mengejar Zarina menggunakan lift kedua dimana Zarina pergi menggunakan lift pertama.


"Zarina tunggu kenapa kau harus pergi," panggil Arthur berkali-kali pada Zarina yang sedang berlari dari apartemen menuju taman yang tak jauh dari apartemen.


Karena Zarina tak mau berhenti akhirnya Arthur mengerahkan kemampuannya, ia manambah kecepatan larinya dan berhasil mendekati Zarina dan menubruknya agar membuat Zarina berhenti. Namun naas saat Arthur berhasil menangkap Zarina ia tak bisa berpijak dengan baik di tanah dan akhirnya terpeleset dan akhirnya jatuh bersama dengan Zarina, mereka berdua jatuh berguling-guling di tanah yang berbentuk bukit dan terperosok bersama menuju ke arah danau yang ada dibawah bukit. Kedua tangan Arthur terasa pedih karena tergores oleh ranting pohon yang ada di tanah, ia tak melepaskan pelukannya pada Zarina saat sedang berguling-guling di tanah


Mereka berdua hampir saja benar-benar masuk ke dalam danau kalau saja Arthur tak meraih sebuah akar pohon yang menjuntai, Arthur meringis menahan perihnsaat memegang akar pohon yang ia jadikan pegangan itu. Zarina yang ada dalam pelukan Arthur bahkan sampai mencium bau anyir darah, ia yakin itu adalah darah Arthur. Pasalnya dirinya tak terluka sama sekali karena dilindungi oleh Arthur.


"Kau baik-baik saja kan Zarina?" tanya Arthur pelan saat sudah duduk dengan baik disamping danau.


"Iya aku baik-baik saja bagaimana dengan...


Deg


Arthur tak dapat menyelesaikan perkataannya saat melihat telapak tangan kanan Arthur yang penuh darah, ia lalu menoleh ke arah akar pohon yang ada disamping Arthur.


"Kau terluka, ayo ke klinik!!!" pekik Zarina panik.


"Tak usah ini bukan luka yang berarti, aku bisa obati sendiri," sahut Arthur pelan mencoba untuk menenangkan Zarina.


"Ayo ke klinik!!!" ajak Zarina kembali.


"Ke klinik hanya membuang waktu saja, aku tak apa-apa. Kau tenang saja Zari...


"Kalau kau tak mau ke klinik aku tak mau menemuimu lagi!!" hardik Zarina dengan cepat memotong perkataan Arthur.


Arthur tertegun beberapa saat mendengar perkataan Zarina, ia menatap wajah Zarina yang terlihat sangat serius.


"Arthur...Zarina where are you guys???" teriak Maxwell keras memanggil nama Arthur dan Zarina berkali-kali.


*Arthur, Zarina dimana kalian?


Mendengar suara teriakan Maxwell membuat Arthur berhenti menatap Zarina.


"We're down here Maxwell!!!!" sahut Arthur keras menjawab panggilan Maxwell.


*kami dibawah sini Maxwell.


"Dibawah... dibawah dimana?" tanya Maxwell kembali dengan suara tak kalah keras.


"Di dekat danau!!!" jawab Arthur kembali.


Suara teriakan Maxwell tak terdengar lagi sehingga membuat Arthur tersenyum, ia yakin tangan kanan barunya itu sedang mencari dirinya dan Zarina.


Tak begitu lama kemudian Maxwell pun terlihat di atas bukit, ia berteriak memanggil Arthur dan Zarina dari atas bukit untuk memastikan kedua orang yang ia cari itu baik-baik saja. Dengan perlahan Maxwell turun menuju danau melewati jalan setapak yang lebih aman, setelah sampai di danau ia berlari mendekati Arthur dan Zarina yang masih duduk di tanah.


"Sebenarnya apa yang kalian lakukan di danau dan...


"Kalian..


"Ayo cepat bawa Arthur ke rumah sakit, lihatlah tangannya penuh dengan luka tadi saat kami jatuh ia sempat memegang batang pohon mawar yang berduri itu. Aku yakin lukanya pasti sangat sakit saat ini," ucap Zarina dengan cepat memotong perkataan Maxwell sambil menunjuk ke arah batang pohon mawar yang dikira akar pohon yang yang tadi dipegang oleh Arthur, ia yakin saat ini Arthur pasti sangat kesakitan melihat banyaknya duri di batang pohon mawar yang sudah mengering itu.


Tanpa menunggu lama Maxwell langsung membantu Arthur bangun, ia lalu memapah Arthur di pundaknya dan mengajaknya berjalan menuju jalan setapak tadi tempat ia menuruni bukit. Sementara itu Zarina di belakang Arthur menjaga agar Maxwell dan Arthur tidak jatuh ke belakang, saat sudah sampai di atas Maxwell segera berlari menuju apartemen untuk mengambil mobil sedangkan Zarina menjaga Arthur menunggu Maxwell datang.


Klinik dr Yamamura


"Untung saja anda segera pergi ke dokter, terlambat sebentar saja luka-luka ini bisa menjadi sangat berbahaya tuan," ucap dokter Yamamura ramah saat sedang mengobati luka ditubuh Arthur.


"Apakah parah sekali dok?" tanya Zarina dengan cepat.


"Kalau tadi anda mengatakan baru saja jatuh dari bukit maka luka-luka ini akan berbahaya kalau didiamkan saja tanpa diberi perawatan insentif, di bukit itu kita tak tau ada besi atau benda tajam berkarat apa yang mengenai tubuh anda. Kadi alangkah lebih baiknya jika langsung ke dokter supaya diberikan obat yang jelas," jawab dokter Yamamura sambil tersenyum.


"Kalau begitu periksa gadis ini juga dok, tadi dia juga jatuh bersamaku," pinta Arthur pelan sambil mencengkram tangan Zarina.


"Anda jatuh juga nona? tapi tubuh anda tak ada luka yang berarti seperti pemuda ini?" tanya dokter Yamamura heran.


"Itu...karena tadi saya dipeluk olehnya dok, jadi dia terluka karena melindungi saya," jawab Zarina malu-malu.


Mendengar perkataan Zarina membuat dokter Yamamura tersenyum, ia akhirnya mengerti kenapa di tubuh pemuda yang sedang dirawat itu memiliki banyak sekali luka di tubuhnya. Sementara gadis yang sedang berdiri di hadapannya ini tak memiliki luka yang berarti, ia lalu meminta Zarina untuk duduk supaya bisa ia periksa lebih lanjut sesuai permintaan Arthur.


"Silahkan nona," titah dokter Yamamura perlahan minta Zarina untuk menggulung lengan bajunya untuk diperiksa.


"T--tapii dok saya...


"Tenang saja nona, anda gak usah khawatir. Saya hanya ingin melihat kondisi lenganmu untuk memastikan ada luka atau tidak, lagipula ada kekasihmu di sini jadi kau tak usah khawatir saya akan berbuat macam-macam," ucap dokter Yamamura pelan menggoda Zarina sambil melirik ke arah Arthur.


"Dokteeerrrr...


"Ha ha ha ha baik maaf maaf, ya sudah ayo buka. Saya harus memastikan ada luka atau tidak supaya kita bisa memberikan penanganan yang tepat," sahut dokter Yamamura ramah sambil memberikan kursi pada Zarina supaya duduk.


Tanpa bicara Zarina pun duduk di kursi yang sudah diberikan oleh dokter Yamamura, ia lalu menggulung lengan kemejanya dan memperlihatkan lengannya yang hanya memiliki bekas-bekas merah saja tanpa ada luka yang mengeluarkan darah.


"Beruntunglah anda nona, kekasih anda ini sangat bertanggung jawab sehingga tubuh anda tak terluka, silahkan anda tunggu diluar saya akan mengobati kekasih anda ini dan akan membutuhkan waktu yang agak lama, " ucap dokter Yamamura pelan.


"A-apa boleh saya duduk disini saja dok, saya ingin...


"Tentu saja, tentu saja anda boleh menemani kekasih anda ini," sahut dokter Yamamura sambil tertawa.


Zarina hanya diam saja mendengar perkataan dokter Yamamura, ia tak bermaksud untuk menyanggah perkataan sang dokter walaupun sebenarnya ia sangat malu saat ini karena disebut sebagai kekasih Arthur.


"Duduklah di sampingku sayang," pinta Arthur pelan sambil mengulurkan tangannya pada Zarina.


"Ok...


🌺to be continued 🌺