Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Pencuri hati



Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor.


Arthur berangkat ke kampusnya menggunakan taksi karena masih kesulitan membaca rute bus, ia masih bingung membaca tulisan kanji yang ada dipapan petunjuk yang ada di halte dekat dengan apartemennya. Oleh karena itu Arthur memilih naik taksi pergi ke kampus, saat di dalam taksi ia terlihat membaca kamus kecilnya dan hmengulang-ulang kalimat yang baru ia baca. Sang supir taksi nampak tersenyum melihat betapa kerasnya usaha Arthur menghafal kalimat-kalimat itu, Arthur bahkan menggunakan penerjemah otomatisnya untuk mengkoreksi apa yang baru saja ia ucapkan.


Tiga puluh menit kemudian Arthur Akhirnya sampai di Tokyo institute of technology, kampus barunya tempat ia akan kuliah selama empat tahun kedepan.


"Ini uangnya pak," ucap Arthur pelan sambil memberikan beberapa uang Yen pada supir taksi.


"Terima kasih anak muda dan semangat belajarnya," sahut sang supir taksi memberikan semangat kepada Arthur sambil mengepalkan tangannya ke udara.


"Terima kasih pak," jawab Arthur pelan sambil tersenyum lebar.


Arthur kemudian masuk ke dalam kampusnya setelah taksi yang baru saja mengantar nya berjalan pergi meninggalkan area kampus Tokyo institute of technology, ia berjalan pelan sambil membawa ponselnya untuk mencari tahu letak ruang daftar ulang berada. Saat Arthur berjalan menuju ke ruang dosen banyak mahasiswa yang menghentikan kegiatannya, mereka menatap Arthur tanpa berkedip dimana saat ini Arthur sedang berjalan dengan langkah tegap menuju ruangan dosen. Pesona Arthur benar-benar membuat para mahasiswi yang ada di kampus itu terhipnotis, tak ada satu pun yang meneruskan kegiatannya ketika Arthur melewati mereka sampai akhirnya Arthur tidak terlihat lagi karena sudah masuk ke dalam ruangan administrasi pengurusan mahasiswa baru.


"Itu manusia atau malaikat?"


"Ya Tuhan, baru kali ini aku melihat ada manusia sesempurna itu,"


"Dadaku terasa sesak melihatnya,"


"Dia seperti tokoh dalam komik, tak ada cela sedikitpun dari tubuh dan wajahnya."


"Siapa namanya?"


"Aku baru pertama melihatnya,"


"Gen unggulan,"


"Tidur dalam pelukannya pasti akan sangat nyaman,"


Terdengar bisik-bisik dari para mahasiswi yang baru saja dilewati Arthur, mereka mengomentari fisik Arthur yang sangat sempurna. Apalagi ditunjang dengan pakaian mahal yang terlihat sangat pas di tubuhnya seolah pakaian dan semua aksesoris yang dipakai oleh Arthur memang di desain khusus untuknya, mereka penasaran dan ingin tau siapakah pemuda yang baru saja mereka lihat itu.


Sehingga saat ini di depan ruang rektorat tempat pendaftaran ulang mahasiswa baru nampak dipenuhi oleh para mahasiswi senior yang berlomba-lomba ingin melihat Arthur lebih dekat lagi dari jendela, padahal sebenarnya mereka tak bisa melihat kedalam karena jendela terbuat dari kaca khusus. Sehingga hanya orang yang di dalam ruangan sajalah yang bisa melihat keluar sedangkan orang yang ada di luar ruangan tak bisa melihat kedalam, alhasil saat ini semua orang yang ada di dalam ruangan bisa melihat kearah kaca yang sudah dipenuhi oleh para mahasiswi yang saling dorong untuk melihat ke dalam.


"sepertinya gara-gara mahasiswa ini para gadis seperti itu," bisik seorang petugas administrasi pada temannya sambil melirik ke arah Arthur yang sedang duduk didepan seorang petugas khusus untuk mahasiswi asing.


"Aku rasa begitu, tapi para gadis itu tidak salah sepenuhnya. Lihat saja pemuda ini sangat tampan," sahut seorang wanita paruh baya menimpali perkataan petugas wanita pertama.


"Jaga bicaramu jangan keras-keras, nanti pemuda itu mendengar perkataan kita semua," ucap seorang petugas lainnya yang baru saja bergabung dengan tiga orang wanita itu untuk mengingatkan rekan-rekannya agar tak membicarakan Arthur yang sedang melakukan pendaftaran terakhir.


"Akkkh mana mungkin dia bisa cara bahasa Jepang, lebih baik kau ikut kami saja melihat wajahnya yang berkarisma itu dan jangan ganggu kesenangan kami...


"Ppfffttt.....


Arthur tiba-tiba tak bisa menahan tawanya, rupanya ia bisa mendengar dengan jelas perkataan ketiga wanita setengah baya yang sedang membicarakan dirinya itu. Arthur bisa mendengar mereka dengan jelas karena ia menggunakan alat penerjemah otomatis yang dipasang di telinganya, alhasil semua perkataan wanita-wanita yang sedang menatapnya tanpa berkedip itu dapat didengar dengan sangat jelas.


"What's up, Arthur?" tanya nyonya Emily seorang warga negara Inggris yang bekerja di Tokyo Tech sebagai kepala administrasi dikampus Tokyo Tech.


"it's okay maam," jawab Arthur dengan cepat sambil melepas kacamatanya dengan perlahan.


Brak...prankk


"Awww....."


Tak lama kemudian datanglah seorang petugas kebersihan yang memang stand by di dalam ruangan itu, ia langsung membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai itu dengan cepat. Sedangkan keempat wanita itu masih diam di tempat tak bergeming, mereka tak mau pindah dari tempatnya dan masih terus mengagumi Arthur yang masih sibuk menandatangani beberapa berkas yang harus ia rampungkan hari ini juga sebelum perkuliahan dimulai besok pagi.


"Terima kasih banyak nyonya Emily saya sudah dibantu sampai sejauh ini," ucap Arthur pelan sambil mengulurkan tangannya ke arah nyonya Emily perlahan setelah ia menandatangani sebuah berkas.


"Sama-sama nak Arthur dan selamat bergabung di Tokyo institute of teknologi," jawab nyonya Emily pelan sambil tersenyum menerima uluran tangan Arthur yang mengarah kepadanya.


"Baik kalau begitu saya permisi nyonya, masih ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan hari ini sebelum besok pagi mulai kuliah, " pamit Arthur pada nyonya Emily.


"Silakan nak Arthur, hati-hati di jalan," sahut nyonya Emily dengan ramah.


Arthur menganggukkan kepalanya perlahan merespon perkataannya Emily, ia lalu menggendong tas ranselnya dan berbalik badan menuju ke pintu keluar.


"すみません," ucap Arthur pelan saat melewati keempat wanita setengah baya yang masih melihatnya itu dengan sopan.


*( sumimasen/ permisi)


Glek


Keempat wanita itu langsung terdiam ketika mendengar perkataan Arthur, mereka terlihat saling pandang satu sama lain. Mereka terlihat panik karena Arthur mengucapkan salam, mereka saat ini sedang menerka-nerka apakah benar pemuda yang baru saja mereka bicarakan itu bisa bahasa Jepang atau tidak seperti perkataan seorang temannya tadi. Melihat ekspresi kebingungan dari keempat wanita setengah baya itu membuat Arthur membatalkan niatnya untuk mengatakan kepada mereka bahwa ia mendengar semua percakapan keempat wanita itu, Arthur akhirnya hanya tersenyum saja dan meneruskan langkahnya menuju pintu keluar yang sudah ada di sampingnya.


Saat Arthur membuka pintu tiba-tiba lima orang mahasiswi langsung terjatuh kedalam, rupanya mereka sedang menguping dari balik pintu mencoba mencuri dengar pembicaraan yang ada di dalam. Arthur yang sigap langsung mundur ke belakang sehingga kelima gadis itu terjatuh langsung mencium lantai.


"大丈夫ですか?" tanya Arthur dengan keras.


*( daijobu desuka/ apa kalian baik-baik saja)


Kelima gadis yang sedang ada dilantai langsung bangun ketika mendengar perkataan Arthur, pria yang membuat mereka melakukan perbuatan memalukan itu. Setelah berhasil berdiri kelima gadis itu terlihat menundukkan kepalanya ke bawah karena merasa malu karena ketauan menguping, seorang petugas langsung menghampiri kelima gadis itu dan meminta mereka untuk pergi kesebuah tempat khusus untuk mendapatkan tindakan disiplin karena berani menguping.


Melihat kelima gadis itu dibawa pergi oleh seorang dosen membuat Arthur tersenyum tipis, ia merasa bersalah karena membuka pintu.


"Bukan salahmu Arthur, salah mereka sendiri yang berani menguping," ucap nyonya Emily pelan sambil berjalan mendekati Arthur, nyonya Emily seperti tau apa yang ada dalam pikiran Arthur.


"Kasian nyonya," jawab Arthur pelan.


"Biarkan saja, ini hukuman untuk mereka-mereka yang berani melakukan tindakan tidak sopan," sahut nyonya Emily datar sambil menoleh kearah keempat wanita petugas administrasi yang tadi menggosipkan Arthur.


Arthur hanya tersenyum tipis mendengar perkataannya nyonya Emily, ia mengerti dengan maksud perkataan nyonya Emily yang sedang menyindir keempat wanita yang ada di belakang Arthur. Tak lama kemudian Arthur pun berpamitan pergi pada nyonya Emily, ia harus mencari Zarina yang kemarin pergi meninggalkannya sewaktu sedang makan malam bersama.


Saat Arthur melangkah keluar dari ruangan administrasi para mahasiswa yang masih menempel di kaca langsung salah tingkah, mereka langsung merapikan pakaiannya untuk mencari perhatian Arthur. Arthur hanya menggelengkan kepalanya perlahan melihat tingkah para gadis itu, karena Arthur masih ada tujuan lain ia akhirnya meneruskan langkahnya meninggalkan area kampus walau banyak gadis yang berteriak histeris ingin mengetahui namanya.


"Hanya kau yang pergi dariku Zarina, disaat gadis lain mencoba mencari perhatianku," ucap Arthur dalam hati sambil membayangkan wajah Zarina yang sedang tersenyum.


"Who are you Zarina, let me know you," ucap Arthur pelan sambil tersenyum.


*Siapa kau Zarina, biarkan aku mengenalmu.


🌺To be continued🌺


Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.


Love u kakak-kakak.