Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Jealous



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Zarina berdiri mematung ketika melihat wanita yang tadi memanggil Arthur dengan sebutan sayang berjalan mendekati dirinya, jantungnya berdegup sangat kencang ketika melihat wanita itu di depan matanya. Walaupun tadi sore ia sudah melihatnya namun saat bertemu langsung seperti ini ia merasa takut.


"Hello nice to meet you," ucap sasa pelan. menyapa Zarina terlebih dahulu.


"Nice to meet you too sis," jawab Zarina terbata.


Sasa terdiam saat mendengar perkataan Zarina yang menyebutnya dengan panggilan kakak, ia lalu melirik kearah sang putra yang berdiri di sampingnya sambil mengedipkan satu matanya seperti sedang memberikan kode kepada Arthur.


"Siapa namamu?"tanya Sasa kembali.


"Namaku Zarina kak, aku adalah teman Arthur saja tidak lebih. Maaf bukan bermaksud untuk mengganggu waktu kalian, tadi aku hanya sedang lewat saja dan kebetulan Arthur memanggil namaku jadi ya aku sekarang ada disini," jawab Zarina tergagap berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, padahal Sasa tidak mengatakan apa-apa.


"Zarina, nama yang bagus. Senang bertemu denganmu Zarina, kau boleh memanggilku dengan panggilan jakak seperti yang tadi kau sebutkan sebelumnya," ucap Sasa lembut sambil meraih tangan Zarina yang terlihat gemetaran untuk ia genggam.


"I-iya kak terimakasih," sahut Zarina lirih, wajahnya memucat saat tangannya dipegang oleh Sasa, ia benar-benar takut kalau akan dimarahi oleh wanita yang ada di hadapannya saat ini. Zarina mengira Sasa adalah kekasih Arthur, ia tak mau kalau sampai membuat mereka bertengkar.


Setelah perkenalan singkat seperti itu Sasa kemudian mengajak Zarina untuk masuk ke dalam tenda karena udara semakin dingin, ia tak tega melihat Zarina menggigil kedinginan karena hanya memakai kaos yang tipis. Arthur hanya tersenyum melihat ibunya menarik Zarina masuk ke dalam tenda, ia senang karena Zarina sudah bertemu langsung dengan ibunya maka ia tak perlu susah-susah mencari cara untuk memperkenalkan sang ibu dengan Zarina.


Arthur memesan dango dan ocha hangat kembali untuk cemilan mereka atas perintah sang ibu, Sasa merasa ada hubungan spesial antara putranya itu dengan gadis yang kini sedang duduk di sampingnya.


"Dimana kau tinggal Zarina ?" tanya Sasa perlahan sambil meraih dango dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Aku tinggal di asrama sekolah selama ini, karena aku tak memiliki orangtua," jawab Zarina jujur sambil menunduk.


Sasa yang baru saja memasukkan dango ke dalam mulutnya langsung menghentikan punya hanya dan terdiam mematung melihat kearah Zarina tanpa berkedip, ia lalu menoleh kearah Arthur untuk memastikan kebenaran ucapan Zarina dan ternyata atur membalas keingintahuan Sasa dengan sebuah anggukan kecil. Arthur seperti tau apa yang ada di dalam pikiran sang ibu maka dari itu ia mengangguk seolah membenarkan perkataan Zarina, karena tak mau membuat suasana menjadi kaku Arthur kemudian memberikan dango kepada Zarina untuk ia makan pada awalnya Zarina menolak suapan dango dari Arthur namun karena Arthur tak juga menyingkirkan tangan besarnya dari depan mulutnya terpaksa Zarina menerima suapan Arthur dan memakannya dengan perlahan.


Melihat apa yang dilakukan Arthur kepada Zarina membuat Sasa tersenyum penuh arti, pasalnya selama ia tau putranya dekat dengan gadis manapun ia belum pernah melihat cara Arthur memperlakukan Zarina seperti yang baru saja ia lihat. Bahkan dari tatapan mata Arthur pada Zarina pun merasa ada yang berbeda, karena ingin memberikan waktu berdua untuk Arthur dan Zarina tiba-tiba Sasa terpikirkan ide untuk meninggalkan anaknya itu sebentar. Ia meraih ponselnya dan pura-pura menerima panggilan telepon.


"Kakak mau kemana?"tanya Zarina kaget ketika melihat Sasa bangun dari kursinya secara tiba-tiba.


"Aku menerima panggilan telepon, rasanya tidak enak kalau berbicara di sini. Aku keluar sebentar ya cari tempat yang nyaman untuk bicara," jawab Sasa pelan sambil tersenyum menatap Zarina.


"Oh begitu, baiklah kak jangan jauh-jauh keluarnya," ucap Zarina terbata, ia tadi khawatir kalau Sasa marah kepadanya karena tiba-tiba bangun dan berdiri seperti ingin meninggalkan mereka. Namun saat mengetahui kalau ternyata Sasa ingin menerima panggilan telepon sebuah senyum lega tersungging di wajah cantik Zarina.


"Cantik sekali," ucap Zarina lirih tanpa sadar saat menatap Sasa yang berdiri tak jauh dari tenda.


"Kau juga cantik," sahut Arthur dengan cepat.


Alih-alih senang mendengar pujian dari Arthur yang sedang menggodanya, Zarina justru terlihat marah ia menatap Arthur tanpa berkedip dengan penuh amarah.


"Kau ini seorang pria yang jahat ternyata, aku kira kau pria baik tapi nyatanya kau sama dengan pria-pria di luar sana yang suka mempermainkan seorang wanita Arthur," ucap Zarina ketus sambil menatap tajam kearah Arthur dengan mata berapi api.


Arthur tersenyum mendengar perkataan Zarina, ia lalu meraih ocha yang ada di hadapannya dan meneguknya perlahan. Tak lama kemudian ia meletakkan gelas ocha-nya kembali di atas meja. "Singkirkan pikirkan jelekmu itu, Zarina," jawab Arthur pelan sambil tersenyum tanpa dosa.


Zarina yang sebenarnya tak ingin marah kepada Arthur, tiba-tiba emosinya terpancing saat mendengar perkataan pria yang ada di hadapannya saat ini. Ingin rasanya ia menyiram Arthur dengan ocha yang ada dihadapannya, namun akal warasnya masih menahan dirinya untuk tak melakukan hal serendah itu di tempat umum.


"Kau sudah memiliki kekasih yang cantik seperti itu Arthur, lalu kenapa kau harus membuatku terjebak ada disisimu setiap waktu. Bahkan kau dengan sangat arogan menyebut diriku sebagai milikmu di hadapan Maxwell tanpa rasa malu," ucap Zarina tanpa jeda menahan emosi, nafasnya naik turun ketika berbicara seperti itu. Zarina belum pernah semarah seperti saat ini, ia tak menyadari bahwa dirinya bukanlah marah biasa. Dirinya saat ini sedang cemburu pada wanita cantik yang ia panggil kakak itu.


"You are jealous of her?" tanya Arthur perlahan mencoba untuk memancing emosi Zarina kembali.


"No Arthur, aku tak cemburu!!! L-lagipula aku tak akan bisa bersaing dan pantas disandingkan dengan kak Sasa yang sangat cantik itu, dia bahkan lebih cantik dilihat dari dekat seperti ini," jawab Zarina lirih, tanpa sadar ia mengatakan pada Arthur kalau sudah melihat Sasa sebelumnya.


Senyum Arthur mengembang mendengar perkataan Zarina, ia sangat yakin saat ini kalau gadis yang ada di hadapannya sedang cemburu. Saat akan meraih tangan Zarina tiba-tiba sang ibu datang masuk kembali ke dalam tenda dan membuat Arthur tak dapat menyelesaikan niatnya.


"Karena hari sudah malam lebih baik kita pulang, tak baik seorang siswa yang masih sekolah jam sembilan malam masih berkeliaran di luar. Aku takut nanti kalau tidak bisa masuk ke asrama lagi Zarina," ucap saat pelan sambil menghabiskan ocha miliknya.


"Ya Tuhan jam sembilan malam!!!" pekik Zarina panik, pasalnya jam malamnya kali ini akan berakhir tiga puluh menit lagi.


"Tenang saja Zarina tak usah takut, kita akan mengantarmu kembali ke asrama. Bukan begitu Arthur," sahut Sasa pelan sambil melirik ke arah Arthur.


"T-tentu saja, tentu saja kita akan mengantarnya pulang sayang," jawab Arthur tergagap.


Jantung sering berdetak sangat cepat ketika mendengar Arthur menyebut Sasa dengan sebutan sayang rasanya ia ingin sekali lari sejauh-jauhnya saat ini.


"Perasaan sakit apa ini Tuhan," ucap Zarina dalam hati.


🌺 to be continued 🌺