Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Sumpah setia



Jangan lupa untuk vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, Terima kasih.


Maxwell menahan rasa malunya saat Arthur menunjukkan semua foto ibu kandungnya dari mulai dari sewaktu ibunya menikah dengan sang daddy sampai ketika mengandung dirinya dan beberapa foto lainnya, termasuk foto bersama dengan kedua adik kembarnya Ashley dan Allard yang juga tak kalah tampan dengan dirinya.


"Pantas saja kau dan kedua adikmu punya wajah diatas rata-rata, gen kedua orangtuamu benar-benar sempurna," ucap Maxwell tanpa sadar.


"Ha ha ha...sudah puas kan, kau adalah orang kesekian yang mengira mommy-ku adalah kekasihku Max," jawab Arthur jujur.


Maxwell terdiam mendengar perkataan Arthur, ia sebenarnya masih tak percaya pada awalnya namun saat Arthur menunjukkan foto masa kecilnya barulah ia percaya. Saat Arthur menyimpan foto-foto berharganya ke dalam file yang lebih rapi lagi Maxwell masih menatap foto Sasa dengan tatapan tak percaya, ia benar-benar terpesona dengan kecantikan ibu dari bos barunya itu yang masih nampak seperti gadis umur dua puluh tahunan.


"Jangan lihat foto mommy-ku terus Max, awas kau jatuh cinta dengannya ha ha ha....daddy-ku sangat posesif padanya lho," ucap Arthur menggoda Maxwell.


"S--siapa yang akan jatuh cinta, aku hanya takjub pada ibumu, siapapun yang melihatnya pertama kali pasti akan mengiranya kekasihmu jika kau jalan berdua dengannya" jawab Maxwell mencoba memberikan penjelasan.


"Kau benar, orang pasti akan mengira mommy-ku sebagai kekasihku. Itu juga salah satu alasan daddy-ku mau minta anak lagi darinya ha ha ha...


Uhukk...uhukkkk...


Maxwell yang sedang minum langsung terbatuk-batuk saat mendengar perkataan Arthur, wajahnya bahkan memerah seperti kepiting rebus. Arthur yang kasian pada tangan kanan barunya itupun langsung menepuk-nepuk punggung Maxwell dengan perlahan.


"Aku tak minta minumanmu kenapa kau harus buru-buru seperti itu Max," ucap Arthur tanpa rasa bersalah.


"Kau yang menyebabkan aku batuk," jawab Maxwell ketus.


"Aku??kenapa aku?" tanya Arthur pura-pura bodoh.


"Kau tadi asal bicara, mana mungkin seorang wanita yang sudah berumur empat puluh lima tahun...


"Mommyku baru akan berumur empat puluh tahun enam bulan lagi," sahut Arthur memotong perkataan Maxwell dengan cepat.


"Mommy dinikahi daddy saat usianya enam belas tahun dan melahirkanku saat usianya masih sembilan belas tahun," ucap Arthur menambahkan perkataannya yang sebelumnya.


Maxwell membatu mendengar perkataan Arthur, kalau yang mengatakan hal ini adalah orang lain mungkin ia akan percaya namun karena Arthur yang berbicara Maxwell harus percaya walau sebenarnya semua yang dikatakan oleh Arthur tak masuk dalam logikanya. Karena merasa Maxwell tak percaya dengan perkataannya Arthur kemudian merangkul Maxwell, ia kemudian menceritakan awal mula kenapa sang daddy menikahi mommy-nya dalam usia mommy-nya yang masih sangat muda waktu itu.


Arthur akhirnya menyudahi ceritanya ketika Zarina masuk ke dalam ruang kerjanya sambil membawa makanan kecil, setelah mencuci baju ia membuatkan Arthur churros seperti yang Arthur minta tadi sewaktu di mobil saat dalam perjalanan menuju apartmen. Kedua mata Maxwell langsung mengamati Zarina dengan tajam tanpa berkedip, ia lalu menoleh ke arah Arthur secara bergantian.


"What do you means?" tanya Arthur bingung.


"Obsesimu pada Zarina, aku tau alasannya sekarang," jawab Maxwell singkat.


"Jangan berputar-putar, bicaralah yang jelas. Aku tak tau arah pembicaraanmu brengsekk," sengit Arthur kesal.


"Karena Zarina mirip ibumu, dia tak hanya polos dan cantik tapi nasibnya mirip dengan ibumu. Hanya saja jika ibumu mempunyai warisan dari orang tuanya yang membuatnya tak kesusahan Zarina tidak, dia harus berjuang untuk melanjutkan hidup," sahut Maxwell memberikan analisanya pada Arthur.


Mendengar perkataan Maxwell membuat Arthur terdiam, ia merasa apa yang dikatakan oleh anak buah barunya itu ada benarnya. Selama ini juga merasa aneh kenapa perasaannya sangat berbeda pada Zarina dibanding dengan gadis lainnya.


"Aku terlalu memuja ibuku Max, sampai aku serig berkata bahwa aku ingin punya istri berdarah asia sepertinya juga," ucap Arthur pelan sambil menatap tajam ke arah Zarina yang sedang sibuk di pantry merapikan alat-alat dapur yang baru saja ia pakai untuk membuat makanan kecil.


"Tapi aku rasa perjuanganmu akan lebih berat dari daddy-mu, orang yang mengincar gadismu itu bukan orang sembarangan," sahut Maxwell dengan cepat.


"Maka dari itu aku memutuhkanmu Max, aku membutuhkan bantuanmu untuk ikut menjaga gadis itu. Setidaknya kalau suatu saat nanti ia tak berjodoh denganku kita sudah berbuat baik karena menyelamatkan nyawa seorang gadis itu dari perdagangan manusia," ucap Arthur lirih, saat berkata seperti itu entah mengapa hatinya terasa sakit.


Maxwell tersenyum mendengar perkataan Arthur,ia lalu menepuk pundak Arthur dengan perlahan.


"Kau tenang saja, aku sudah memutuskan akan ada disampingmu. Jadi percayalah kita bisa menjaga gadis itu dengan baik bersama-sama, sekaligus memberi pelajaran pada orang-orang yang tega menjual wanita itu," ucap Maxwell dengan penuh keyakinan.


"Thanks Max, thank you very much," sahut Arthur penuh syukur.


Maxwell menepuk pundak Arthur perlahan, ia sudah benar-benar yakin kali ini untuk bekerja bersama Arthur. Ia yang biasanya tak pernah bekerja lama dengan satu orang bos merasa berbeda lain saat bersama Arthur, apalagi sejak mengetahui bahwa Archie Durran August adalah ayah Arthur. Keyakinannya semakin besar untuk tetap setia ada disamping Arthur, pasalnya nama Archie Durran August cukup terkenal di dunia cyber apalagi dia juga mempunyai seorang tangan kanan hacker terbaik juga yang bernama Gustaf.


"Kau tenang saja Zarina, selama aku masih hidup tak akan ada yang bisa menyentuhmu," ucap Arthur dalam hati, ia tadi sempat khawatir saat mengetahui kabar bahwa nama Zarina sudah tercantum di daftar nama gadis penghibur di bisnis prostitusi milik keluarga Hyuga. Untung saja Maxwell sudah menghapus nama Zarina dan menggantinya dengan nama orang lain yang agak mirip dengannya, nama seorang gadis yang sudah meninggal karena kecelakaan. Data dirinya pun sudah digantikan dengan data diri gadis korban kecelakaan itu.


Arthur yang pada awalnya diminta untuk kuliah dengan baik oleh sang ayah kini justru harus terlibat dengan para Yakuza yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, namun Arthur sudah bertekad melawan mereka yang berani melukai orang-orang yang ia sayangi.


"Aku percaya Tuhan pasti membantu kita Max, kau tenang saja. Dia tak akan membiarkan kejahatan terus meraja lela di dunia ini, kalau mereka punya anggota banyak maka kita juga harus menciptakan pasukan sendiri juga Max," ucap Arthur pelan, kedua matanya menatap ke layar komputer dimana Maxwell sedang membrowsing nama-nama preman yang sering keluar masuk penjara di Tokyo.


🌺 To be continued 🌺