
Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor
Terima kasih
Maxwell masih terdiam membisu tak bersuara ketika melihat Sasa mengulurkan tangan ke arahnya, ia tak percaya kalau wanita yang sedang di hadapannya ini adalah ibu dari sang bos. Pasalnya wanita yang ada dihadapannya saat ini jauh terlihat lebih cantik dari foto yang ia lihat waktu pertama kali datang ke apartemen Arthur.
Plakkk
"Apa perlu aku ingatkan lagi kalau Daddy-ku sangat protektif pada Mommy-ku Max," ucap Arthur ketus sambil memukul pundak Maxwell untuk mengembalikan kesadarannya.
Maxwell hanya meringis kecil menahan sakit dengan wajah memerah, ia lalu meraih tangan Sasa dengan sopan.
"Maxwell nyonya..."
"Panggil tante saja, lagipula kau adalah teman Arthur sangat tidak nyaman rasanya kalau kau memanggilku dengan sebutan nyonya," ucap Sasa pelan memotong perkataan Maxwell.
"B--baik tante," jawab Maxwell terbata, ia tak menyangka kalau ibu dari tuannya ternyata sangat baik dan ramah. Sangat berbeda jauh dengan Arthur yang yang mudah marah apalagi kalau berhubungan dengan Zarina.
Arthur hanya tersenyum melihat ekspresi kekagetan Maxwell, Arthur sudah tidak heran melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Maxwell. Pasalnya hampir semua teman sekolahnya dulu saat bertemu dengan sang ibu pun menunjukkan ekspresi yang sama seperti Maxwell, mereka tak percaya kalau Sasa adalah ibunya karena menurut mereka merasa Sasa lebih pantas menjadi kakaknya daripada menjadi ibunya. Setiap kali Arthur menceritakan itu kepada kedua orangtuanya Archie sang ayah pasti akan marah, ia tidak suka mendengar ada orang yang mengatakan bahwa Sasa lebih pantas menjadi kakak dari Arthur daripada menjadi ibunya.
Tak lama kemudian Arthur mengajak sang ibu untuk masuk ke dalam mobil Honda Civic bututnya, sepanjang perjalanan Sasa menahan tawa saat mendengar alasan dibalik keputusan Arthur untuk membawa mobil butut ke kampus ketimbang membawa mobil Audi A8 terbaru miliknya.
"Entahlah Mom, aku juga heran kenapa para gadis itu. Meraka gampang sekali silau dengan apa yang aku miliki, padahal mobil itu pun bukan hasil dari jerih payahku tetapi sebuah hadiah dari Daddy," ucap Arthur pelan mengakhiri penjelasannya kenapa ia memilij memakai mobil honda Civic ketimbang memakai mobil Audi A8.
"Karena itu sudah sifat dasar seorang wanita sayang, seorang wanita pasti akan silau dengan sesuatu yang berkilau dan menarik jadi kau tak usah heran kalau melihat banyak wanita yang akan terpesona melihat mobil itu. Bahkan Mommy sendiri pun waktu pertama kali melihatnya dari Daddy-mu juga ikut terpesona, ya mungkin ekspresinya tidak jauh berbeda dengan para gadis-gadis itu," sahut Sasa pelan mencoba untuk mencairkan kekesalan sang anak.
"Akh mana mungkin Mommy seperti gadis-gadis itu, Mommy kan berbeda dari mereka," bantah Arthur dengan cepat, ia tak suka mendengar ibunya berkata seperti tadi.
Sasa tersenyum mendengar perkataan sang anak, ia tau kalau anak pertamanya itu sangat tidak suka kalau dirinya berkata seperti tadi. Dengan penuh kasih Sasa membelai rambut Arthur yang sedang tertidur di pahanya, ia menatap putranya yang terlihat lebih dewasa dari enam bulan yang lalu saat ia melihatnya di bandara Montreal.
"Oh ya Maxwell dari mana asalmu nak?" tanya Sasa pelan kepada Maxwell yang sedang menyetir mobil.
"Saya dari Inggris tante, tapi sejak remaja saya merantau ke Jepang dan mencoba peruntungan di negara ini," jawab Maxwell sambil tersenyum kearah spion menatap ibu dari tuannya yang sedang menatap dirinya juga.
"Wah berarti pengalaman hidupmu di Jepang sudah cukup lama ya, lalu bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Sasa kembali mencoba mencari tau.
"Dia bekerja part time di sebuah supermarket yang sering aku kunjungi ketika membeli bahan makanan Mom, karena aku kasihan melihatnya yang kurus kering seperti itu jadi aku rekrut saja menjadi supir pribadiku. Itung-iyung itu aku membantunya dengan memberinya kehidupan yang layak dan memberi gaji yang lebih besar dari gajinya yang bekerja menjadi seorang kasir," jawab Arthur dengan cepat.
"Dasar anak nakal, jangan bicara seperti itu. kau harusnya berterima kasih kepada Maxwell karena mau membantumu selamat tinggal di Jepang, setidaknya kau miliki seorang teman yang bisa diajak untuk bepergian jadi Mommy tidak terlalu khawatir padamu lagi. Bukannya malah mengejeknya seperti tadi," ucap Sasa kesal sambil mencubit hidung mancung Arthur dengan gemas, ia tak suka kalau mendengar anaknya merendahkan pekerjaan orang lain.
Sebab sewaktu ia kecil dulu, almarhum kedua orang tuanya selalu memintanya untuk menghargai pekerjaan orang lain apapun itu walaupun orang itu adalah pekerja kebersihan sekalipun . Maka dari itu Sasa kesal ketika mendengar putranya merendahkan pekerjaan Maxwell yang hanya sebagai kasir di supermarket.
"Aduhh Mom sakit sakitt ampun," pekik Arthur kesakitan saat sang ibu kembali mencubit hidungnya untuk yang kedua kali.
"Minta maaf dulu kepada Maxwell baru Mommy akan melepaskan hidungmu ini, kalau kau tak mau minta maaf padanya maka Mommy akan terus mencubit hidungmu terus sampai sepanjang Pinokio," jawab Sasa dengan cepat.
"Iya iya, Max maafkan aku. Aku hanya bergurau tadi, kau jangan marah ya," ucap Arthur dengan suara sengau meminta maaf pada Maxwell.
"Aku tak marah jadi tak ada yang perlu dimaafkan, jadi kau tenang saja," jawab Maxwell dengan cepat.
"Nah kau dengarkan, Maxwell sangat baik sekali. Jangan ulangi lagi atau Mommy akan menghukummu lagi jika Mommy mendengarnya lagi," sahut Sasa dengan cepat sambil melepas hidung sama putra yang sudah memerah.
Arthur menyentuh hidungnya yang baru saja dilepaskan oleh sang ibu, ia menggerutu sendiri melihat ibunya membela Maxwell.
"Mommy hanya ingin kau menjadi seorang pria yang baik, seorang pria yang tak menilai status sosial orang lain untuk berteman, seorang pria yang mampu melindungi siapapun yang ada di dekatmu. Karena percayalah sayang suatu saat nanti kau akan menjalani kehidupan sendiri tanpa bantuan Mommy dan Daddy, jika saat itu tiba Mommy hanya berharap kau bisa menjadi seorang lelaki dan pemimpin yang baik di dalam kehidupan rumah tangga mu sendiri sayang," ucap Sasa pelan sambil membelai wajah Arthur dengan penuh sesal karena sudah menyakiti putranya itu.
"Mommy kenapa harus bicara seperti itu, aku kan sudah bilang aku tak mau mendengar Mommy berbicara seperti itu lagi. Yang pasti Mommy dan Daddy akan hidup seribu tahun lagi sampai anak-anakku dewasa, sampai mereka menikah dan sampai mereka mempunyai anak dan cucu lagi," sahut Arthur dengan cepat sambil duduk menghadap sang ibu yang menatapnya dengan penuh kasih.
Sasa tersenyum mendengar perkataan sang anak, ia lalu meraih wajah Arthur dan mencium keningnya dengan penuh cinta.
"Setiap yang bernyawa pasti akan mati sayang kau harus tau itu," ucap Sasa kembali.
"Tapi tidak untuk Mommy dan Daddy," sahut Arthur bersikeras.
"Iya iyaaa maaf Mommy minta maaf, ya sudah jangan marah. Nanti kalau marah Mommy tak memasakkan telur balado lho," bisik Sasa pelan.
"Mommy..."
"Ha ha ha iya iya, Mommy akan memasakkan semua makanan kesukaanmu," pekik Sasa dengan cepat saat melihat anaknya merajuk.
Arthur kemudian memeluk ibunya dengan sangat erat ia sudah tidak sabar ingin sampai ke apartemen dan menikmati masakan buatan sang ibu yang sudah enam bulan ini tak ia rasakan, di bangku depan Maxwell hanya tersenyum mendengar percakapan Arthur dan ibunya. Ia kini tahu darimana sifat murah hati Arthur berasal.
🌺 to be continued 🌺