Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
contract letter



Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor.


Setelah Zarina setuju bekerja dengan Arthur ia langsung melaksanakan tugas pertamanya yaitu mencuci pakaian milik Arthur yang ada di mesin cuci dan membersihkan apartemen yang sebenarnya masih bersih, Arthur sengaja membuat Zarina sibuk karena ia ingin membuat surat perjanjian kerja bersama Zarina. Arthur ingin mengikat Zarina sedikit lebih kuat menggunakan surat kontrak supaya Zarina tidak bisa pergi seenaknya tanpa izin darinya.


Arthur juga tidak tau mengapa ia melakukan hal sejauh ini, yang pasti saat ini mau agar Zarina tidak bisa pergi darinya ada beberapa hal yang ingin ia selidiki lebih jauh tentang Zarina.


"Sudah selesai?" tanya Arthur pelan pada Zarina yang nampak sedang sibuk merapikan alat-alat kebersihan rumah.


"Sudah tinggal menunggu bajunya sebentar lagi untuk dikeringkan, soalnya sedang aku rendam dengan pewangi," jawab Zarina pelan sambil menyeka keringat yang keluar di keningnya.


"Duduklah, aku ingin bicara hal penting denganmu," ucap Arthur pelan sambil duduk di sofa.


"Ada apa lagi tuan?" tanya Zarina bingung.


Arthur menepuk-nepuk sofa, seperti sedang memberikan isyarat pada Zarina untuk duduk. Zarina memiringkan kepalanya perlahan melihat apa yang dilakukan Arthur, namun tak begitu lama kemudian ia akhirnya bisa membaca kode yang diberikan majikan barunya itu. Dengan perlahan Zarina duduk diseberang Arthur, di kursi yang berbeda. Melihat Zarina duduk jauh darinya membuat Arthur tersenyum tipis, ia kemudian mengeluarkan sebuah surat kontrak yang baru saja ia buat ke arah Zarina.


"Apa ini?" tanya Zarina bingung.


"Itu adalah surat kontrak mu selama bekerja padaku," jawab Arthur dengan cepat.


"Surat kontrak," gumam Zarina lirih, kedua mata indahnya terlihat membaca lebih teliti satu persatu poin yang dibuat Arthur.


"Bacalah," titah Arthur pelan.



Sebagai karyawan yang baik dilarang untuk datang terlambat.


Selama bekerja dilarang keras memainkan ponsel.


Saat berada di apartemen dilarang makan mie instan.


Dilarang memakai pakaian seksi dihadapan tuan Arthur.


Kalau libur harap tetap memberikan laporan apa yang sedang dilakukan dirumah.


Tidak boleh pergi dengan teman pria manapun tanpa ijin tuan Arthur.



Arthur tersenyum mendengar Zarina membacakan satu persatu poin yang sudah ia tulis di dalam surat kontrak yang ia buat, ia nampak menahan tawanya ketika Zarina membacakan point kelima dan keenam.


"Kenapa kau diam Zarina, apa kau tak setuju dengan isi kontrak itu?" tanya Arthur pelan saat menyadari perubahan ekspresi wajah Zarina.


"Bukan tuan...aku hanya...


"Hanya apa?" tanya Arthur kembali memotong perkataan Zarina


Deg


Arthur yang pada awalnya ingin menguap tak jadi menguap mendengar perkataan Zarina, ia sampai meminta Zarina mengulangi lagi perkataannya itu.


"Aku tak punya ponsel tuan," ucap Zarina untuk yang kelima kalinya dengan nada meninggi, ia sedikit kesal karena merasa Arthur sedang menghinanya karena ia tak punya ponsel.


"Ini 2020 dan kau tak punya ponsel Zarina," sahut Arthur tak percaya.


"Kalau tuan tak percaya tak apa-apa, tapi saya bicara jujur," jawab Zarina pelan.


Melihat ekspresi Zarina yang sedih seperti itu membuat Arthur yakin bahwa Zarina bicara jujur, tak lama kemudian Arthur menarik surat kontrak yang sudah ditandatangani Zarina. Ia kemudian menyimpannya di sebuah file yang sudah ia siapkan.


"Ya sudah itu bukan masalah, yang penting kau sudah setuju dengan apa yang tertulis dalam surat kontrak tadi bukan," ucap Arthur pelan memecah keheningan.


"Iya tuan, saya tak ada masalah," jawab Zarina dengan cepat.


"Oh iya kau tinggal dimana?" tanya Arthur kembali sambil menyalakan televisi.


"Aku tinggal di asrama sekolah," jawab Zarina pelan.


"Asrama sekolah? apa maksudmu?" tanya Arthur kaget.


Zarina kemudian mengatakan secara jujur dimana ia tinggal dan dengan siapa ia tinggal, Arthur terdiam mendengar perkataan Zarina. Ia ingin sekali tak percaya dengan apa yang dikatakan Zarina namun saat melihat bagaimana Zarina bicara ia yakin kalau gadis yang ada dihadapannya itu bicara jujur.


"Oh tuan, ini hampir enam sore aku harus sampai asrama sebelum jam delapan malam," ucap Zarina panik saat menyadari kalau hati sudah sore.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Arthur bingung, ia tak tau dengan sistem asrama.


"Kalau aku pulang terlambat maka aku tak boleh masuk kedalam asrama, aku tak punya tempat tujuan lain tuan," jawab Zarina ketakutan.


"Kau bisa tinggal disini....


"Tidak bisa tuan, nilaiku...nilaiku pasti jelek kalau aku tak disiplin," sahut Zarina memotong perkataan Arthur dengan suara bergetar menahan tangis.


Melihat gadis didepannya akan menangis membuat Arthur bertindak cepat, ia lalu menyambar kunci mobil Audi anti pelurunya dan menarik tangan Zarina yang masih tertunduk di sofa menuju ke pintu.


"Tuan...


"Tak akan kubiarkan nilaimu jelek, aku ajarkan kau pulang," ucap Arthur memotong perkataan Zarina sambil berjalan cepat menuju ke lift sambil merangkul Zarina tanpa sadar.


🌺To be continued🌺


Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.


Love u kakak-kakak