
Jangan lupa untuk vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, Terima kasih.
Zarina yang belum mengerti dengan perkataan Arthur sepenuhnya nampak bingung, ia yang belum pernah mendengar perkataan seperti ini sebelumnya tak tau harus berbuat apa atau merespon apa.
"Kenapa kau diam Zarina?" tanya Arthur lembut sambil membantu Zarina agar duduk dengan posisi tegak.
"Aku bingung, aku tak tau harus berbuat apa," jawab Zarina jujur.
"Kau hanya perlu mengiyakan perkataanku tadi dan melakukannya dengan baik, kedepannya kau hanya boleh berhubungan dengan satu pria saja yaitu aku. Kau harus menjaga jarak dengan pria lain dan lindungi dirimu selayaknya wanita yang sudah menikah," ucap Arthur pelan sambil menghadiahkan satu kecupan di kening Zarina.
"S--selayaknya wanita yang sudah menikah!!!apa maksudmu tuan...kita tak akan melakukan itu bukan, aku tak mau melakukan itu...aku tak boleh mmmm maksudku kita tak boleh...
"Heii heii heiii listen to me, aku tak akan menyentuhmu saat ini Zarina kau tak perlu takut. Yang tadi aku katakan adalah sebuah petunjuk untuk apa yang harus kau lakukan selanjutnya, sebagai satu-satunya wanita Arthur Sebastian kau harus pintar menjaga dirimu. Aku tak mengijinkanmu dekat dengan lelaki manapun, kau adalah milikku. Kau paham sampai sini Zarina?" tanya Arthur memotong perkataan Zarina.
"Aku milikmu?" tanya balik Zarina tanpa sadar.
"Yes, you are," jawab Arthur dengan senyum penuh kemenangan.
"Bagaimana bisa aku jadi milikmu, sedangkan aku adalah manusia bukan barang. Manusia punya hak hidup sendiri dan tak bisa dimiliki oleh...
Zarina tak bisa menyelesaikan perkataannya karena Arthur sudah menciumnya, melumaatt bibirnya dengan rakus untuk kedua kalinya. Ia tak memperdulikan Zarina yang meminta untuk dilepaskan, Arthur ingin menunjukkan siapa bosnya disini. Arthur melepaskan Zarina ketika ia merasa lidahnya yang sedang bergerilya di dalam mulut Zarina sakit karena di gigit oleh Zarina, alih-alih menyudahi permainannya Arthur justru terpancing. Ia menyukai tipe wanita seperti Zarina yang pembangkang diatas ranjang, oleh karena itu Arthur merubah sasarannya. Ia melepaskan bibirnya dan bibir Zarina yang sudah basah bercampur salivanya, ia lalu mengarahkan wajahnya ke leher jenjang Zarina dan mendapatkan sebuah kecupan disana.
"Akhhh jangannn tuannn...jangan lakukan itu, aku tak mau berbekas!!!!" pekik Zarina panik dilanda ketakutan.
Tubuh Zarina langsung menegang seketika saat Arthur mulai mendaratkan lidahnya di kulit lehernya, ia mengingat dengan baik bagaimana teman-teman sekolahnya memiliki tanda merah keunguan di leher. Mereka selalu mendapatkan tanda itu ketika hari senin tiba setelah libur selama 2 hari, mererka bahkan dengan tanpa malu menceritakan bagaimana bisa mendapatkan tanda seperti itu dilehernya.
Arthur membatalkan niatnya saat merasakan tubuh Zarina bukan hanya dingin tetapi juga menggigil dengan hebat, sisi lainnya tiba-tiba muncul dan melarangnya untuk melakukan hal seperti itu kepada Zarina.
"Kau takut Zarina?" tanya Arthur pelan sambil menatap wajah Zarina yang sudah memerah dan keluar keringat dingin di keningnya
"Jangan tuan, aku tak mau seperti mereka. Aku tak mau memiliki tanda seperti itu...aku malu," jawab Zarina terbata dengan membuka matanya perlahan.
"Malu, apa maksudmu dengan malu?" tanya Arthur dengan nada meninggi, ia merasa tersinggung mendengar perkataan Zarina yang menganggap ciumannya membuat dia malu.
Zarina mengangguk pelan merespon perkataan Arthur, ia lalu menceritakan kepada Arthur tentang apa yang ia tahu di sekolah. Mulai dari pertama ia melihat tanda itu dileher salah satu temannya, sampai akhirnya ia tahu bahwa tanda seperti itu biasanya dibuat oleh seorang pria kepada seorang wanita ketika mereka mempunyai hubungan spesial. Terlebih lagi teman-teman Zarina selalu mengatakan bahwa mereka akan mendapatkan tanda seperti itu sebelum memulai bercinta, Zarina tak mau melakukan hal serendah itu sebelum menikah. Oleh karena itu saat tadi Arthur mulai mendaratkan kecupan di leher ia langsung terbayang dan teringat perkataan teman-temannya.
"Jadi kau takut kalau aku akan mengajakmu bercinta setelah memberikan ciuman itu?" tanya Arthur menahan tawa.
"Huum," jawab Zarina polos.
"Dasar gadis bodoh, aku tak sekotor itu dan sejahat itu Zarina," ucap Arthur pelan sambil mengacak-acak rambut Zarina yang sudah berantakan.
Zarina hanya diam saja diperlakukan seperti itu oleh Arthur, ia lalu merapikan rambutnya kembali setelah Arthur menarik tangan dari kepalanya.
"Aku punya permainan seru apa kau mau ikut bermain?" tanya Arthur tiba-tiba dengan wajah penuh semangat.
"Permainan apa?" tanya balik Zarina.
"Tak bisa dijelaskan, kita harus langsung bermain supaya kau tau," jawab Arthur singkat sambil menarik tangan Zarina untuk bangun dari ranjang.
"Untuk apa botol ini?" tanya Zarina bingung.
"Nama game ini adalah game kejujuran dan kita membutuhkan botol ini untuk menentukan giliran siapa yang menjawab selanjutnya," jawab Arthur dengan cepat sambil meletakkan botol kosong di atas meja kaca yang ada di hadapannya dan Zarina.
"Bagaimana cara mainnya?" tanya Zarina semakin penasaran.
Arthur kemudian memutar botol itu dengan cepat dan membiarkannya terus berputar sampai berhenti sendiri dan ujung botol akhirnya terarah ke dirinya.
"Ok, kau sudah mulai boleh bertanya padaku apa saja," ucap Arthur pelan sambil tersenyum.
"Bertanya apa saja bagaimana aku tak mengerti tuan," sahut Zarina bingung.
"Jadi begini Zarina kita akan memainkan game kejujuran menggunakan botol ini, salah satu diantara kita akan memutarnya dengan cepat dan membiarkan botol ini berhenti dengan sendirinya. Saat ujung botol ini berhenti mengarah kepadamu maka aku boleh bertanya apa saja kepadamu dan kau harus menjawabnya dengan jujur begitu juga dengan sebaliknya kau juga bisa menanyakan apa saja kepadaku dan aku akan menjawabnya dengan jujur juga," ucap Arthur mencoba untuk menjelaskan aturan dalam game yang akan ia mainkan itu.
"Tapi aku tak ingin bertanya apapun denganmu tuan," jawab Zarina dengan cepat tanpa merasa bersalah.
Mendengar perkataan Zarina membuat Arthur menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia ingin sekali mencubit pipi gadis yang ada dihadapannya itu karena merasa gemas. Setelah menarik nafas panjang atur kemudian mencoba untuk merayu Zarina agar aku bermain game dengannya, setelah berbicara hampir berbusa selama hampir tiga puluh menit akhirnya Zarina pun setuju untuk bermain.
"Ok kalau begitu sekarang kau yang memutarnya," ucap Arthur pelan mempersilahkan Zarina untuk memutar botol pertama kali.
"Baiklah," jawab Zarina bersemangat, iya lalu memutar botolnya dengan cepat dan berharap agar botol itu berhenti mengarah ke Arthur ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada tuannya itu.
"Asikkk berhenti ke arah anda, ok aku akan bertanya. Kenapa dan apa alasan anda ingin menjadikanku milikmu?"tanya Zarina dengan cepat.
Arthur tersenyum mendengar perkataan Zarina, ia lalu meletakkan kedua sikunya di atas meja dan mendaratkan wajahnya di kedua telapak tangannya yang terbuka lalu menatap tajam kearah Zarina sambil tersenyum.
"Karena itu kau Zarina, kalau bukan kau aku tak akan mau," jawab Arthur tanpa jeda.
"Heh apa maksudnya?" tanya Zarina tak mengerti.
"Heii ingat, kau hanya boleh bertanya satu kali dalam satu putaran. Jadi kalau kau ingin menanyakan alasannya lagi kau harus memutarnya dan membuat ujung botol itu mengarah kepadaku baru setelah itu kau bisa bertanya lagi Zarina, kau tak boleh curang mengerti," jawab Arthur sambil tersenyum lebar dan memegang ujung botol untuk bersiap memutarnya.
Zarina memajukan mulutnya membuat ekspresi menggemaskan merespon perkataan Arthur, ia merasa sedikit dicurangi oleh Arthur saat ini.
"Ok sekarang giliranku Zarina, bersiaplah untuk menjawab apapun pertanyaanku secara jujur," ucap Arthur penuh semangat sambil memutar botol.
Dengan penuh harap Arthur melihat ke arah botolnya yang masih berputar dengan cepat, ia lalu tersenyum ketika melihat ujung botol berhenti mengarah ke Zarina.
"Are you virgin Zarina?"
🌺To be continued🌺
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.
Love u kakak-kakak