Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Wanita misterius



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Sudah satu minggu Arthur belum bertemu dengan Zarina, ia pun sudah terlihat lebih tenang dari 2 hari pertama saat ia tak bertemu dengan wanita yang sudah mencuri hatinya itu. Sekarang ia sedang fokus untuk mengerjakan tugasnya di kampus bersama teman-temannya yang lain sebagai persiapan untuk menuju ujian akhir semester, sementara itu Maxwell sudah pindah ke apartemen barunya yang diberikan oleh Arthur. Ia pun bertugas untuk memberitahukan kepada Arthur tentang kegiatan Zarina di sekolah selama ia tidak datang menjumpai Arthur, jadi Arthur tetap mendapatkan info tentang Zarina dari Maxwell meskipun Zarina sendiri tidak datang kepadanya.


Selama sebulan terakhir ini Victoria dan Michiko terlihat sangat antusias sekali mendekati Arthur, terutama Michiko karena ia mendapatkan info dari detektif yang sudah ia bayar mengenai Arthur bahwasanya Arthur adalah lelaki normal bukan seorang gay seperti kabar yang beredar. Oleh karena itu ia terlihat sangat agresif sekali mendekati Arthur sehingga membuat Victoria merasa cemburu dan tak mau kalah.


Dddrrrrttttt


Ponsel yang ada di dalam saku Arthur bergetar berkali-kali dan memaksa si empunya untuk meraih ponselnya itu, dengan sedikit malas Arthur kemudian meraih ponselnya dan membaca pesan masuk yang jumlahnya sudah sangat banyak itu. Kedua matanya sedikit memicing ketika membaca pesan yang masuk itu.


xxx:


"Aku tahu kau bukanlah seorang pria gay Arthur,"


Deg


Arthur terdiam ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh nomor tanpa nama itu ke dalam ponselnya, nomor yang baru saja mengirimnya pesan itu memang akhir-akhir ini selalu menghubunginya. Pada awalnya ia hanya menganggap nomor itu adalah nomor dari bank yang menawarkan kartu kredit kepadanya, namun ternyata setelah sekian lama ia mengabaikan si pemilik nomor itu akhirnya mengirimkan pesan kepadanya yang berisi kalimat yang membuatnya kaget itu.


Karena merasa tak tenang Arthur akhirnya menghubungi Maxwell untuk mencari tahu siapa pemilik nomor yang baru saja mengiriminya pesan itu.


"Waktumu hanya setengah jam untuk mencari tahu siapa pemilik nomor telepon ini," ucap Arthur pelan saat sudah tersambung dengan Maxwell.


"Aku sedang ada di depan sekolah Zarina, aku tak membawa laptop lalu bagaimana aku mencari tahu pemilik nomor telepon itu bos," sahut Maxwell mencoba memprovokasi Arthur, padahal sebenarnya ia membawa laptopnya kemanapun ia pergi.


"Semakin lama kau bicara semakin berkurang juga waktu yang aku berikan kepadamu untuk mencari tahu pemilik nomor itu Max...


"Michiko...nama gadis itu Michiko dan dia satu kampus denganmu, hanya saja ia ada satu tingkat diatasmu bos," sahut Maxwell pelan memotong perkataan Arthur sambil menatap layar laptopnya dimana ia berhasil mendapatkan data diri Michiko dari nomor telepon yang diberikan oleh Arthur.


Arthur tersenyum mendengar perkataan Maxwell ia tau kalau tangan kanannya itu dapat diandalkan.


"Ok, terima kasih. Lanjutkan pekerjaanmu sampai bertemu nanti sore," jawab Arthur singkat sambil menutup teleponnya.


Arthur lalu meninggalkan mejanya dan berjalan mendekati meja Michiko dimana hari ini Michiko dan Veronika masuk kedalam kelas yang sama dengan Arthur, Michiko yang tak menyadari kehadiran Arthur nampak masih sibuk dengan tugasnya.


"Michiko...


"Ya aku...


Michiko tak dapat menyelesaikan perkataannya saat Arthur yang ternyata memanggil namanya.


"Ada apa Arthur?" tanya Michiko salah tingkah.


"Aku hanya ingin mengatakan sedikit masukan untukmu," jawab Arthur pelan sambil tersenyum.


"Iya Arthur, ada apa? aku siap mendengarkan," ucap Michiko penuh semangat.


"Never interfere in matters that are not yours," bisik Arthur pelan sambil menunjukkan ponselnya yang menampilkan pesan dari Michiko


*Jangan pernah ikut campur dalam hal-hal yang bukan urusanmu.


"どういう意味ですか" tanya Michiko terbata, ia tak menyangka Arthur bisa tau kalau ia yang mengirim pesan.


Arthur tersenyum mendengar perkataan Michiko, ia lalu masukkan kembali ponselnya ke dalam saku bajunya.


"Bukankah sangat memalukan untuk seorang gadis mencari tau kehidupan seorang pria, bahkan sampai ia menyewa jasa detektif untuk membuntuti pria itu dan bagaimana kalau semua orang di kampus ini tahu bahwa seorang nona Michiko yang terhormat melakukan hal serendah itu," bisik Arthur lirih.


Brakkk


Tablet yang dipegang oleh Michiko jatuh ke lantai saat mendengar perkataan Arthur yang tak pernah ia duga, wajahnya memucat menahan malu karena usahanya sudah diketahui oleh Arthur. Padahal ia sudah berpesan kepada Taro detektif bayarannya untuk hati-hati supaya tak ada yang mengetahuinya, tapi kini justru orang yang ia minta untuk cari informasinya yang mengetahuinya.


Arthur tersenyum melihat ekspresi kekagetan dari Michiko, setelah berkata seperti itu Arthur pun kembali ke mejanya dan mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. Ia sudah tidak mood untuk meneruskan pelajaran ditambah ia sudah selesai mengerjakan tugas yang diberikan oleh sang dosen.


"Saya sudah selesai bu, harus diletakkan di mana paper saya?" tanya Arthur pelan kepada ibu Yoshie sang dosen seksi yang pernah menggodanya.


"Kau tidak sedang berbohong kan Arthur, itu adalah tugas yang cukup rumit. Apa kau benar-benar sudah menyelesaikannya atau hanya alasan saja supaya bisa keluar dari kelas ibu dengan cepat?" tanya balik ibu Yoshie penuh curiga.


"Kalau ibu tidak percaya ibu boleh memeriksa nya sendiri dan kalau misalkan saya hanya bergurau ibu bisa memberikan saya nilai D, tapi kalau emang saya sudah selesai apakah ibu berani membelikan saya nilai A + ?"tanya Arthur singkat sambil meletakkan tangan kekarnya di meja tepat di hadapan ibu Yoshie.


Ibu Yoshie yang seorang janda dan terkenal sering menggoda para mahasiswa tampan dampak menelan salivanya perlahan ketika melihat deretan otot di tangan Arthur, nafasnya terlihat naik turun ketika melihat betapa kekarnya otot trisep dan bisep Arthur yang ada di depan matanya.


"Apakah boleh ibu memeriksanya terlebih dahulu?"tanya ibu Yoshie terbata.


"Silahkan," jawab Arthur singkat.


Tanpa Arthur duga ibu Yoshie mengambil paper sambil menyentuh lengannya, Arthur hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh dosen wanita yang ada dihadapannya itu. Tak lama kemudian ibu Yoshie terlihat membaca paper milik Arthur dengan serius, dua menit kemudian sebuah senyum tersungging di wajah cantik dosen seksi itu.


"Kau hebat Arthur semua kau sudah mengerjakannya dengan baik karena kau sudah selesai, kau diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu," ucap ibu Yoshie pelan sambil menatap tajam kearah Arthur, ia yakin kalau Arthur bukanlah seorang gay seperti yang pernah pemuda tampan itu katakan kepadanya 6 bulan yang lalu.


"Terima kasih bu, saya permisi," jawab Arthur singkat dengan senyum mengembang.


Ibu Yoshie hanya mengangguk pelan ketika Arthur keluar dari ruangannya, matanya tak melepaskan tubuh Arthur sama sekali sampai Arthur benar-benar tak terlihat dari pandangan matanya lagi.


Saat Arthur keluar dari ruangan ia merasa heran ketika melihat banyak orang berkumpul di lapangan, ia sebenarnya ingin melihatnya juga namun karena ia membelokkan langkahnya menuju toilet yang ada di ujung lorong karena sudah tak tahan ingin buang air kecil. Saat baru sampai di dalam toilet bel tanda selesai pelajaran berbunyi para siswa yang masih ada di dalam kelas mulai berhamburan satu demi satu termasuk dengan ruang kelas Arthur.


"Cantik sekali,"


"Iya aku belum pernah melihat wanita secantik ini,"


"Barang-barang yang ia pakai branded semua,"


"Akh paling dia simpanan pengusaha, lihat saja betapa sempurnanya dia,"


"Benar-benar apa yang kau katakan benar, mana ada wanita semuda ini punya uang untuk membeli barang-barang semahal itu kalau bukan hasil menjadi wanita penghibur,"


Arthur memicingkan satu matanya ketika mendengar bisik-bisik di antara para gadis yang baru saja berjalan dari lapangan, karena penasaran ia akhirnya melangkahkan kakinya menuju ke lapangan padahal sebenarnya ia adalah tipikal orang yang tak peduli dengan apapun tapi entah mengapa kali ini ia merasa penasaran.


Saat berhasil melewati kerumunan Arthur tertegun ketika melihat sesosok wanita cantik yang ada dihadapannya.


"Arthur....my loveeee!!! " jerit wanita itu dengan keras saat melihat Arthur muncul dari kerumunan, ia lalu berlari menuju tempat Arthur.


🌺 to be continued🌺