
Jangan lupa untuk vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, Terima kasih.
Zarina tak mendengar perkataan Arthur karena ia bersin dengan tiba-tiba, ia lalu berlari ke arah meja makan untuk mengambil tissue meninggalkan Arthur yang sedang duduk di karpet sendirian.
Tak lama kemudian ia kembali berjalan menuju tempat Arthur setelah membuang tissue yang ia pakai ketempat sampah.
"Maafkan aku tuan, tiba-tiba saja bersin tadi. Oh iya tadi anda bertanya apa padaku?" tanya Zarina pelan sambil tersenyum.
Arthur tersenyum mendengar perkataan Zarina, ia lalu mengarahkan botol untuk Zarina agar memulai gilirannya.
"Lho kenapa aku? tadi kak anda belum bertanya padaku?!" tanya Zarina kembali bingung.
"Bukanlah aku bilang tadi, tak ada dua kali pertanyaan. Aku harus sportif Zarina sekarang giliranmu," jawab Arthur sambil tersenyum.
Zarina memiringkan kepalanya kekiri mendengar perkataan Arthur, ia merasa bersalah karena telah membuat Arthur kehilangan satu kesempatan untuk bertanya kepadanya. Akan tetapi karena Arthur terus memintanya untuk bermain Zarina akhirnya memutar botol yang ada di hadapannya dengan kecepatan penuh, namun alih-alih botol itu berhenti menghadap Arthur sesuai harapannya botol itu justru kembali terarah kepadanya.
"Akh bagaimana bisa!!!" jerit Zarina tak percaya.
"Kau yang memutarnya sendiri bukan aku, jadi tak ada yang bisa kau salahkan Zarina," sahut Arthur menahan tawa melihat Zarina kesal.
"Iya aku tau, ya sudah silahkan anda bertanya padaku," ucap Zarina ketus.
"Siapa cinta pertama mu?" tanya Arthur pelan.
Zarina membelalakkan kedua matanya mendengar pertanyaan dari Arthur yang sama sekali tak ia duga, ia kemudian merapikan rambutnya yang berantakan dengan perlahan.
"Ayo jawab, ingat peraturan awal Zarina. Kita bisa bertanya apapun yang dan yang ditanya juga harus menjawab jujur," ucap Arthur pelan mencoba mengingatkan Zarina dengan peraturan game pertama tadi.
Zarina menggelengkan kepalanya perlahan sambil menggigit bibirnya saat menatap Arthur dengan tatapan sendu, sikap yang ditunjukkan oleh Zarina membuatnya terlihat makin menggemaskan dan membuat jantung Arthur berdetak dengan sangat kencang.
Arthur langsung berpindah tempat dan menarik Zarina agar melihat ke arahnya.
"K--kau belum pernah pacaran," ucap Arthur singkat berusaha menerjemahkan bahasa tubuh Zarina sebelumnya sambil menyentuh kedua pipi Zarina.
"B-belum," jawab Zarina lirih sambil menggelengkan kepalanya kembali.
"Apa yang kau lakukan selama ini...akh tidak maksudku kenapa kau tak pacaran?" tanya Arthur pelan.
"Karena aku harus bekerja untuk melanjutkan hidupku, aku tak ada waktu untuk melakukan itu. Aku mau keluar dari negara ini aku...
Zarina membelalakkan kedua matanya saat Arthur sudah menciumnya untuk yang kesekian kalinya dalam satu hari ini, ia tak bisa melepaskan ciuman Arthur yang terasa lebih lembut dari yang pertama. Zarina bahkan tanpa sadar menyentuh pinggang Arthur saat pria itu masih melumaatt bibirnya tanpa jeda.
"Mulai sekarang kau adalah milikku Zarina, ingat itu. Jangan lupakan bahwa aku adalah pemilikmu yang sah," bisik Arthur pelan saat sudah melepaskan ciumannya pada Zarina, ia menempelkan keningnya di kening Zarina sehingga kedua hidung mancung mereka saling bersentuhan.
"Ssttt...jangan bicara lagi, yang pasti diantara kita sudah terikat hubungan yang tak bisa dipisahkan. Sampai waktunya tiba nanti akan kupastikan kau akan terus ada disampingku Zarina" ucap Arthur lembut memotong perkataan Zarina yang masih bingung.
"Kau mengerti?" tanya Arthur pelan.
"Huum aku mengerti tuan," jawab Zarina tanpa sadar.
Arthur tersenyum mendengar perkataan Zarina, ia lalu memeluk Zarina kembali dengan erat. Tak lama kemudian Arthur mengajak Zarina untuk bangun dan menyudahi permainan mereka, ia mengajak Zarina kembali kekamar besarnya. Satu-satunya kamar di apartemennya yang memiliki ranjang yang besar dan empuk karena terbuat dari bulu angsa terbaik.
"Kenapa kekamar lagi?" tanya Zarina takut sambil menghentikan langkahnya didepan pintu kamar.
"Aku mau menghabiskan hari ini dirumah bersamamu, aku membatalkan niatku untuk pergi ke pantai bersamamu hari ini," jawab Arthur singkat.
"Tapi aku...
"Kita hanya tidur tidak lebih Zarina, aku tak akan menyentuhmu," ucap Arthur pelan memotong perkataan Zarina sambil tersenyum penuh arti.
"Kau percaya padaku kan?" tanya Arthur pelan sambil mengangkat dagu Zarina yang tertunduk dengan perlahan.
Kedua mata Zarina langsung menatap mata biru milik Arthur yang ada dihadapannya, ia lalu menganggukan kepalanya perlahan sambil tersipu. Arthur menggigit bibir bawahnya karena mejanya gemas melihat tingkah Zarina yang menggemaskan, ia lalu mengajak Zarina untuk berbaring di ranjang dan menarik Zarina dipeluknya. Kalau bukan Zarina yang melakukan perbuatan tadi mungkin Arthur sudah menidurinya tanpa ragu, namun entah mengapa dengan Zarina ia tak tega memaksakan kehendaknya. Arthur berniat menunggu waktu yang tepat untuk mereguk madu Zarina dan ia akan dengan sabar dan terus menjaga Zarina sampai waktu itu tiba.
Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus yang berasal dari Arthur yang menandakan kalau pemuda tampan itu sudah tertidur dengan pulas, sedangkan Zarina masih membuka kedunya matanya dengan lebar. Ia masih tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, hubungannya dengan Arthur dari awal adalah sebagai pelayan dan majikan. Tapi entah mengapa Arthur memperlakukannya dengan sangat baik sekali bahkan memintanya untuk tidur satu ranjang bersama.
Memikirkan hal itu membuat wajah Zarina menjadi panas, jantungnya pun berdetak dengan sangat cepat melebihi saat ia akan menempuh ujian beasiswanya. Tiba-tiba saja ia terdiam saat merasakan Arthur melingkarkan tangan kekarnya ke perutnya dan memiringkan tubuhnya sehingga wajah tampan Arthur langsung menyentuh pipinya yang terasa sangat panas.
"Perasan aneh apa ini Tuhan, kenapa aku nyaman sekali ada diperlukan pria ini," ucap Zarina pelan sambil memejamkan kedua matanya, ia berusaha mengatur nafasnya untuk meredakan sesak di dadanya.
Karena tak bisa bergerak dan terlalu nyaman Zarina akhirnya mulai memejamkan matanya dengan perlahan, rasa kantuk itu tiba-tiba menghampirinya tanpa bisa ia cegah. Padahal niat awalnya ia akan bangun dari ranjang kalau Arthur sudah tertidur, namun kenyataannya ia justru ikut mengantuk dan akhirnya tertidur pulas dalam pelukan Arthur.
Dirumah keluarga Yuka terdengar suara tangis dan teriakan, kedua orang tua gadis berusia delapan belas tahun itu menjerit histeria saat jenasah putri mereka baru dibawa pulang dari rumah sakit untuk otopsi. Kepolisian pun memutuskan bahwa kasus yang menimpa Yuka adalah murni karena bunuh diri, kedua orang tua Yuka masih tak mau menerima putrinya meninggal dengan cara mengenaskan seperti itu. Mereka terus memanggil nama Yuka berkali-kali dari luar peti mati, rencananya Yuka akan di kremasi tadi siang. Namun pihak keluarga meminta agar jenasah Yuka dibawa pulang terlebih dahulu untuk memberi kesempatan keluarga yang lain melihat Yuka terakhir kali.
"Anakku kalau kau pergi dengan cara yang dicurangi tolong beri beri petunjuk pada kami dan beritahu dewa untuk menghukum para penjahat itu Yuka....hu hu huu..putriku Yukaaaa...
Suara tangisan ibu Yuka terdengar sangat pilu, sementara itu di depan ruang tamu nampak berjajar teman-teman sekolah Yuka dan diantara mereka berdiri Hyuga dan Minami Kato yang terdiam tanpa ekspresi melihat ke arah peti mati Yuka.
🌺To be continued🌺
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.
Love u kakak-kakak