Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Kaoru's Army



Jangan lupa Vote dan ratting bintang lima untuk mendukung Thor


Terima kasih.


Suara tembakan yang jaraknya tak berjauhan terdengar sangat memekakan telinga, semua orang yang berkumpul di depan sebuah toko roti tempat dimana semua siswi SMA Tokyo Gei Ongaku di tahan langsung serentak berlutut sambil menutup telinganya sebagai bentuk perlindungan diri terakhir akibat tembakan, Arthur dan MAxwell pun juga melakukan hal yang sama akan tetapi bedanya mereka menatap ke arah lain mencari sumber suara.


Saat suasana sedang mencekam tiba-tiba para siswi yang dijadikan sandera berteriak dengan keras saat menyadari para penyandera mereka kepalanya mengeluarkan darah, sedetik kemudian para preman itu saling berjatuhan ke tanah dengan luka besar di keningnya karena tertembus timah panas.


"Kyaaaa.....


"Pembunuhhhh!!"


Para siswi yang dijadikan sandera langsung berteriak histeris saat melihat para preman yang menahan mereka jatuh tanpa nyawa, luka mereka pun ada ditempat yang nyaris mirip. Di kening yang ada dintara kedua mata yang akan membuat siapapun yang terkena timah panas di area itu pasti akan meregang nyawa. Para polisi yang bertugas langsung memerintahkan semua orang yang ada ditempat itu tetap menunduk sambil menunggu keadaan aman, setelah memastikan semua baik-baik saja para siswi itu dibawa masuk ke toko roti yang ada dibelakang mereka untuk ditenangkan sambil menunggu petugas dari rumah sakit datang.


Semua siswi itu nampak sangat masih shock termasuk Zarina yang terlihat menunduk sambil memegang botol air minum mineral yang diberikan salah satu polisi wanita, sedangkan kelima siswi yang tadi dijadikan sandera masih saling berpelukan satu sama lain sambil terus menangis.


"Dok tolong Yuma, lihat leher Yuma berdarah," pekik salah satu siswi yang menjadi sandera dengan keras saat melihat darah di leher Yuma makin banyak memberitahukan petugas dari rumah sakit terdekat yang baru datang untuk menolong Yuma.


"Iya dok tolong Yuma," imbuh siswi lainnya saat menyadari wajah Yuma yang semakin memucat.


"A--aku tak apa-apa.....


Brukk


Gadis yang  bernama Yuma tak dapat menyelesaikan perkataannya karena pingsan, para petugas kesehatan yang baru datang itupun langsung bertindak cepat. Mereka lalu membawa Yuma ke dalam ambulance bersama dengan empat siswi lainnya yang tadi dijadikan sandera, sedangkan para siswi yang lainnya diberikan pengarahan supaya tetap tenang. Mereka ditanya satu persatu untuk mengecek kondisi kejiwaannya apakah mereka mengalami trauma atau tidak sebelum diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing, guru yang baru datang dari sekolah memberikan ijin pada mereka untuk pulang dan menganggap serius masalah ini.


Bahkan para orangtua para siswi SMA Tokyo Gei Ongaku mulai berdatangan satu persatu setelah ditelepon oleh pihak sekolah ketika mendapat kabar tentang kejadian mengerikan ini, para siswi yang sudah dijemput orangtuanya langsung menangis dipelukan orangtua mereka masig-masing. Hanya Zarina yang masih duduk dikursinya menatap teman-temannya dijemput oelh keluarganya.


"Dimana orangtuamu nak?" sapa seorang petugas polisi wanita ramah.


"Orangtua saya sudah meninggal bu, saya akan pulang ke asrama sekarang," jawab Zarina lirih dengan suara bergetar menahan tangis.


"Kau yakin bisa pulang sendiri nak?" tanya polisi wanita itu kembali sambil menyentuh pundak Zarina.


Zarina hanya menganggukkan kepalanya perlahan merespon perkataan sang polisi wanita yang ada dihadapannya tanpa berbicara, ia terlihat sekuat tenaga menahan air matanya agar tak jatuh. Sang polisi wanita yang iba pada Zarina langsung memeluk Zarina untuk menguatkan Zarina.


"Percayalah orangtuamu pasti bangga melihat putrinya jadi gadis sekuat ini," bisik sang polisi wanita lembut mencoba untuk memberikan semangat pada Zarina.


Polisi wanita itu merapikan rambut Zarina yang sedikit berantakan, ia lalu tersenyum sambil menyeka air mata Zarina yang mengalir membasahi wajah cantiknya. Zarina mengucapkan terima kasih untuk terakhir kalinya saat akan meninggalkan toko, ia adalah siswi terakhir yang keluar dari toko. Zarina keluar melalui pintu samping toko karena pintu depan sudah terpasang garis polisi untuk olah TKP, saat sudah berjalan agak jauh dari toko tiba-tiba tangan Zarina ditarik oleh seseorang yang membuatnya hampir berteriak kalau tak segara menyadari siapa yang sedang ada dihadapannya.


"I'ts me Zarina...its me," ucap Arthur dengan cepat sambil menutup mulut Zarina yang akan berteriak.


"Kauu....hikksss huuuuuu


Zarina tak dapat menyelesaikan perkataannya karena menangis, Arthur lalu memeluk Zarina dengan erat. Ia tak memperdulikan keringat yang membasahi wajanya pasca berlari mencari sumber tembakan berasal. Setelah menyadari bahwa para preman itu tertembak Arthur mengajak Maxwell untuk pergi ke gedung yang ada disebrang TKP, ia yakin bahwa orang yang menembak para preman itu ada digedung itu. Tebakan Arthur benar namun sayangnya ketika sampai ke tampat yang dipakai para penembak itu sudah kosong,tak ada siapapun. Bahkan bubuk mesiu yang keluar dari pistol pun sudah tak ada karena tempat itu sudah penuh dengan air, seolah para penembak itu sengaja menghilangkan jejak dengan menggunakan air.


"Ayo pergi dari sini, terlalu berbahaya disini...mereka datang," ucap Maxwell yang baru datang lirih sambil menepuk pundak Arthur.


"Who?" tanya Arthur pelan.


"You must know what i mean," jawab Maxwell singkat.


"Mungkinkah...


"Yes, come on Arthur!!!" sahut Maxwell jengkel sambil menarik Arthur pergi kemobil butut milik Arthur yang terparkir tak jauh dari tempat itu.


Arthur menganggukkan kepalanya perlahan, ia lalu melepaskan pelukannya pada Zarina dan menggandeng Zarina berjalan mengikuti langkah kaki Maxwell menuju ke mobil. Zarina sudah terlihat lebih tenang, terbukti ia sudah tak menangis lagi saat ada dalam pelukan Arthur di dalam mobil.


Maxwell hanya tersenyum tipis saat melihat kaca spion saat Arthur berkali-kali mencium kening Zarina.


"Aku sepertinya harus mulai mencari kekasih kalau begini caranya," ucap Maxwell lirih menyindir apa yang dilakukan Arthur pada Zarina di bangku belakang.


"Aku mendengar perkataanmu Max," jawab Arthur ketus tanpa melepaskan Zarina dari pelukannya.


Maxwell hanya tertawa merespon perkataan Arthur, ia lalu kembali fokus menyetir menuju apartement Arthur membiarkan bosnya itu bermesraan dengan gadisnya di kursi belakang.


"Apakah tadi orang-orangmu Kaoru, kalau iya kenapa kalian langsung pergi begitu saja saat aku datang," ucap Arthur dalam hati, tadi saat Arthur dan Maxwell masuk ke gedung yang dijadikan tempat untuk menembak para preman itu Arthur sempat melihat sekelebat bayangan hitam yang pergi melompat dari gedung dengan membawa McMillan TAC 50 senjata para sniper elit dunia.


🌺 To be continue 🌺


Jangan lupa Vote dan Ratting ya Kakak-kakak.


Terima kasih