Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Janji seorang pria



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Arthur meminta Maxwell untuk pergi ke sebuah toko supermarket yang tak jauh dari apartemen, ia ingin membeli bahan-bahan untuk bumbu telur balado kesukaannya pasalnya di dalam kulkasnya yang ada di apartemen ia tak memiliki bumbu-bumbu rempah khas indonesia tersebut. Karena Arthur sudah hafal dengan bumbu-bumbu rempah indonesia ia meminta sang ibu untuk tetap ada di dalam mobil bersama Maxwell menunggunya berbelanja.


"Kalau selama kau berteman dengan Arthur Ia membuat masalah tante mohon maaf Max," ucap Sasa lembut membuka percakapan di dalam mobil bersama Maxwell yang sedang menunggu Arthur berbelanja.


"Tidak tante, selama ini justru Arthurlah yang sudah banyak membantuku," jawab Maxwell dengan jujur.


"Benarkah anak nakal itu tak membuatmu ada dalam masalah ? baguslah kalau begitu, tante hanya khawatir kalau ia membuat masalah untukmu Max," sahut Sasa pelan sambil tersenyum, ia bersyukur kalau putra tersayangnya itu tak membuat masalah selamat tinggal di Jepang.


Maxwell hanya tersenyum mendengar perkataan ibu dari bosnya itu, ia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya karena sudah terlanjur janji dengan Arthur. Tak lama kemudian Arthur terlihat sudah keluar dari supermarket dengan menenteng satu kantung kertas besar berisi belanjaannya , sebuah senyum tersungging di wajah Arthur ketika bisa membeli semua barang-barang yang ia cari untuk bahan membuat telur balado kesukaannya. Maxwell lalu mengendarai mobilnya kembali menuju apartemen ketika Arthur sudah masuk ke dalam mobil.


Sesampainya di kawasan elit yang terdapat komplek apartemen mewah milik putranya Sasa tersenyum karena senang dengan tempat tinggal putranya itu, selama ini ia khawatir kalau putranya tinggal di sebuah tempat yang tidak nyaman. Namun setelah sampai di gedung apartemen yang paling mewah di kawasan elit tersebut Sasa merasa lega, rasa takutnya selama enam bulan terakhir akhirnya hilang setelah melihat tempat tinggal putra kesayangannya.


"Apa ada yang bisa Arthur bantu Mom?" tanya Arthur penuh semangat kepada sang ibu ketika sampai di apartemennya.


"Nothing my love," jawab Sasa lembut sambil meraba wajah tampan putranya.


"Baiklah kalau begitu Arthur mau merapikan kamar dulu untuk Mommy tidur," ucap Arthur penuh semangat.


"Ok," sahut Sasa singkat sambil memakai apron.


Arthur kemudian berjalan menuju kamarnya untuk merapikan kamar tidurnya yang akan dipakai oleh sang Mommy, ia memutuskan untuk tidur di kamar kedua yang selama ini hanya ia jadikan tempat bekerjanya bersama Maxwell. Dari pantry Sasa bisa melihat dengan jelas putra pertamanya sedang membongkar seprai di kamar tidurnya dan memasangnya dengan sprei yang baru, sebuah senyum kebanggaan terlihat jelas diwajah Sasa ketika melihat putra pertamanya sudah bisa hidup mandiri jauh dari perkiraannya selama ini.


Sasa kemudian memulai kegiatannya di pantry, walaupun penerbangan dari Montreal ke Jepang membutuhkan waktu yang sangat lama dan melelahkan namun ketika sampai di Tokyo dan bertemu dengan sang anak yang sangat ia rindukan semua rasa lelahnya hilang. Apalagi saat mendengar putranya itu minta untuk di masakan makanan kesukaan, dengan penuh semangat ia bekerja di dapur. Sasa merasa seperti mendapatkan tambahan energi baru saat ini, tak lama kemudian ia sudah bisa sibuk dengan segala macam bumbu rempah-rempah yang dibeli oleh Arthur sebelumnya.


"Dulu ketika aku di Jakarta banyak sekali orang yang mengatakan hanya seorang gadis yang terbiasa masak saja yang bisa membedakan mana jahe, mana lengkuas, mana merica, mana lada. Namun saat ini putra kesayanganku justru bisa membelinya semua tanpa ada salah," ucap Sasa pelan dengan penuh kebanggaan sambil melihat bumbu-bumbu yang ada di hadapannya, hampir semua rempah-rempah asli Indonesia ada di hadapannya.


"Apakah akan memberitahu tentang Zarina kepada Mommu-mu?" tanya Maxwell pelan kepada Arthur saat ia sedang merapikan data data di dalam komputer Arthur untuk dipindahkan ke hardisk miliknya.


"Untuk saat ini ini belum Max, aku ingin menikmati hari-hariku bersama Mommy, aku yakin Mommy pasti hanya sebentar di Jepang. Mengingat bagaimana posesifnya Daddy-ku padanya, aku yakin Mommy pasti tak akan lama tinggal di sini. Dan aku ingin menghabiskan waktu bersamanya saja, sepertinya belum saatnya Zarina bertemu dengan ibu mertuanya," jawab Arthur singkat sambil melihat ke arah pantry di mana sang ibu sedang sibuk masak.


"Mother-in-law you says ha ha ha ... you're so funny Arthur," ucap Maxwell sambil tertawa lebar.


"Aku harus memantaskan Zarina terlebih sebelum bertemu dengan Mommy-ku Max," sahut Arthur lirih, iya takut kalau Zarina tak diterima oleh sang Mommy seperti yang Zarina katakan sebelumnya saat menolak ajakannya menikah. Zarina bahwa ia tak pantas dengan keluarga Arthur karena perbedaan status sosial mereka yang sangat jauh, namun Arthur merasa sebenarnya Mommy pasti akan menerima Zarina dengan baik. Akan tetapi karena ia tak mau mengambil resiko jadi Arthur menunda pertemuan Zarina dan sang Mommy.


"Lebih baik begitu Arthur dan jangan sampai kau dijodohkan terlebih dahulu oleh gadis pilihan kedua orang tuamu," celetuk Maxwell tiba-tiba.


Deg


Arthur yang sedang mengganti seprai yang ada dikamar kerjanya itu tiba-tiba terdiam tanpa suara.


"Kenapa kau bicara seperti itu Max?" tanya Arthur dengan suara bergetar.


"Bukankah untuk keluarga kaya seperti kalian biasanya pernikahan kalian sudah diatur ya sejak kecil, alhasil ya kalian akan semakin kaya karena tak mungkin kan kalian di jodohkan dengan gadis biasa. Pasti kalian akan dijodohkan dengan gadis dari keluarga kaya pula," jawab Maxwell asal bicara, ia tak tau kalau pertanyaannya itu benar-benar membuat Arthur gelisah.


"No Max, kalaupun aku dijodohkan suatu saat nanti oleh kedua orang tuaku aku akan menolaknya dengan tegas. Aku punya hak atas kehidupanku sendiri untuk menentukan pasangan hidup, lagi pula aku bukan seorang gadis yang harus dijodohkan dengan pria kaya aku seorang pria Max. Tidak ada sejarahnya seorang laki-laki dijodohkan dengan seorang perempuan kecuali di zaman perang untuk memperkuat koloni dan kekuasaan, ini tahun 2020 kita mempunyai kebebasan untuk menentukan masa depan kita sendiri," ucap Arthur pelan sambil tersenyum penuh keyakinan.


Maxwell tersenyum mendengar perkataan Arthur, ia tak menyangka kalau makannya tadi yang ia anggap hanya lelucon dianggap serius oleh Arthur.


"Baguslah kalau begitu, ingat apa yang sudah dikatakan Kaoru sebelumnya. Sebelum pergi ia sudah menitipkan Zarina padamu, satu hal yang harus kau tau Arthur. Di dalam dunia Yakuza kepercayaan adalah diatas segala-galanya dan kau sudah diberi kepercayaan oleh Kaoru untuk menjaga Zarina yang ia anggap sebagai seorang adik itu, jadi aku harap kau tau menyia-nyiakan kepercayaan itu," bisik Maxwell pelan sambil menepuk pundak Arthur.


"Tenang saja Max aku tak akan mungkin mengingkari perkataanku, lagi pula di dalam hatiku saat ini tak ada tempat untuk wanita lain karena tempat itu sudah diisi oleh Anzelma Zarina..."


🌺to be continued🌺