
Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor
Terima kasih
Selama di kampus perasaan Arthur tak nyaman sekali, berkali-kali ia melihat jam tangan yang terpasang di tangan kirinya. Ia merasa hari ini berlalu dengan sangat lambat, entah mengapa ia ingin sekali pulang padahal dia baru dua jam ada di kampus.
Sepertinya yang menyadari kegelisahan Arthur bukan hanya teman-temannya saja yang duduk di sebelah kanan dan kiri Arthur, namun ibu Yoshie sang dosen cantik yang sedang mengajar pun melihat dengan jelas kegelisahan Arthur dari kursinya di depan. Ia kemudian berjalan pelan mendekati Arthur sambil membawa buku.
"Kau kenapa Arthur, sejak tadi ibu perhatikan sepertinya kau tidak sedang konsentrasi sama sekali ?" tanya ibu Yoshie pelan pada Arthur membuat para siswa lainnya langsung menoleh ke arah artur dan ibu Yoshie.
"Tidak apa-apa bu, saya hanya merasa sedikit tidak enak badan saja,"jawab Arthur berbohong.
"Benarkah!!" ucap ibu Yoshie dengan cepat sambil menyentuh kening dan leher Arthur secara tiba-tiba, sehingga membuat para mahasiswi wanita yang ada di kelas berteriak karena iri dengan apa yang dilakukan sang dosen.
"Hei hei hei...kenapa kalian berteriak-teriak seperti itu, saat ini sedang jam pelajaran jadi jangan membuat ribut. Ibu barusan hanya memastikan saja, apakah kondisi Arthur memang benar-benar sedang fit atau tidak seperti pengakuannya," teriak ibu Yoshie dengan keras sambil menatap para siswanya yang terlihat tidak senang atas apa yang baru saja ia lakukan kepada Arthur, pasalnya gosip mengenai Arthur yang seorang gay sudah terpatahkan saat Arthur dijemput oleh seorang wanita cantik beberapa hari yang lalu.
Para mahasiswi itu pun langsung terdiam namun mereka masih berbisik-bisik satu sama lain membicarakan ibu Yoshie, mereka tidak terima Arthur diperlakukan seperti itu oleh dosen yang terkenal genit dan suka menggoda pada para mahasiswa tampan itu. Mereka tidak rela Arthur menjadi korban keganasan dosen itu selanjutnya seperti para mahasiswa tampan lainnya.
Drrttt
Drrttt
Saat suasana sedang tegang karena para mahasiswa sedang protes pada ibu Yoshie tiba-tiba ponsel yang ada di dalam tas Arthur bergetar berkali-kali, dengan cepat Arthur meraih tasnya dan mengangkat panggilan telepon yang yang muncul atas nama Maxwell.
"Yes Max...
"Go home now Arthur, your mother had an accident," jawab Maxwell dengan cepat memotong perkataan Arthur.
"What!!!! how is the condition ??! ok I go home right now, stay beside her and don't go anywhere Max!!" jerit Arthur panik, ia lalu memasukkan bukunya dengan cepat dan menyambar tasnya yang ada di bawah kursi lalu berjalan cepat meninggalkan kelas.
Arthur langsung berlari menuju area parkir dengan hati tak karuan, ia tak memperdulikan ibu Yoshie memanggilnya berkali-kali. Teman-teman sekelas Arthur langsung berdiri melihat Arthur pergi menuju ke area parkir sambil berlari, karena Arthur berbicara bahasa Inggris dengan sangat cepat banyak diantara mereka yang gagal paham dengan perkataan Arthur termasuk ibu Yoshie sendiri.
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa Arthur terlihat sangat panik?"
"Pasti ada hal buruk yang sudah terjadi,"
"Kekasihnya terluka, tadi ia mendapatkan telpon dari orang yang bernama Max dan memberitahukan dirinya kalau wanitanya mengalami kecelakaan. Mungkin wanita cantik yang kemarin menjemputnya itu yang terluka," ucap Nanami tiba-tiba berbicara, ia yang duduk di dekat Arthur tadi mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Arthur. Hari ini kebetulan Nanami mengambil kelas yang sama dengan Arthur, bergabung dengan Michiko dan Victoria.
Mendengar perkataan Nanami suasana kelas menjadi sangat gaduh, mereka berbisik-bisik satu sama lain membicarakan wanita yang wanita yang dimaksud oleh Nanami. Mereka pun membuat asumsi bahwa wanita yang sedang tertimpa masalah itu adalah wanita yang sama yang datang ke kampus dua hari yang lalu menjemput Arthur. Wajah Victoria dan Michiko berubah gelap mendengar perkataan Nanami, kedua tangan mereka mengepal di bawah meja menahan emosi yang membara di dalam dadanya.
Tak begitu lama kemudian ibu Yoshie pun melanjutkan pelajaran tanpa Arthur, ia berniat untuk memanggil Arthur besok pagi untuk meminta penjelasan kenapa pergi begitu saja dari kelasnya.
Sementara itu di apartemen Arthur nampak Zarina dan Maxwell sedang duduk di dekat ranjang di mana Sasa sedang berbaring, wajahnya memucat dan tubuhnya panas maka dari itu Zarina mengambil inisiatif untuk mengompres. Ia sudah berkali-kali mengganti kompres yang ada di kening Sasa, namun suhu tubuhnya belum juga turun. Zarina semakin khawatir kalau terjadi apa-apa pada Sasa pasalnya luka dilengan kiri Sasa yang sudah membiru.
"Max qpa kau sudah menghubungi Arthur? kenapa Arthur belum sampai juga kasihan kak Sasa, lihatlah lukanya semakin parah. Aku khawatir penyebab demamnya ini ada kaitannya dengan luka di tangannya ini," ucap Zarina berkali-kali sambil melihat jam yang ada di atas nakas.
"Aku sudah menghubunginya Zarina, dia tadi langsung menjawab dan ingin segera pulang kita tunggu sebentar lagi kalau 5 menit lagi dia belum sampai kita berdua saja bawa...
Brakkk
Arthur membuka pintu dengan cara membanting dengan cukup keras sehingga membuat Zarina dan Maxwell yang ada di dalam kamarnya menoleh seketika.
"Mommm..." jerit Arthur keras sambil berlari ke kamar.
"Apa yang terjadi Max?" tanya Arthur dengan suara keras ketika ia sudah sampai di dalam kamar.
"Tanya Zarina ia yang menemukannya pertama kali," jawab Max pelan sambil menunjuk Zarina.
Arthur lalu menoleh kearah Zarina dengan mata penuh tanda tanya, Zarina menarik nafas panjang kemudian menjelaskan apa yang terjadi pada Arthur.
"Aku sebenarnya juga tak tahu apa yang terjadi, hari ini seharusnya aku ada kegiatan bersama teman-teman di museum tapi hati kecilku memintaku untuk datang ke apartemenmu. Akhirnya aku meminta izin kepada guru untuk tidak ikut kegiatan hari ini dan datang kesini, pada saat aku sampai di apartemen aku sudah melihat kak Sasa berbaring di lantai dengan tubuh yang sangat panas. Karena aku tak berani mengganggumu yang sedang kuliah akhirnya aku menghubungi Max untuk datang ke sini," ucap Zarina panjang lebar menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya.
"Lalu bagaimana dia bisa ada di tempat tidur tanya Arthur bingung.
"Aku memapah kak Sasa ke tempat tidur dengan hati-hati sampai akhirnya aku mengetahui bahwa kak Sasa memiliki luka di tangan kirinya," jawab Zarina pelan sambil menunjukkan luka di lengan kiri Sasa.
Deg
Jantung Arthur berdetak sangat cepat ketika melihat luka di tangan kiri ibunya, selama ia hidup belum pernah ia melihat ibunya terluka seperti itu. Jangankan luka seperti itu tangan ibunya teriris pisau saja sang ayah akan sangat panik.
"Max cepat ambil kunci mobil, kita bawa Mommyku ke rumah sakit," jerit Arthur dengan suara meninggi sambil meraih tubuh Sasa dan ia gendong ala bridal style.
"Mommy..." ucap Zarina lirih.
🌺 to be continued 🌺