Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Berkunjung



Jangan lupa untuk vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, Terima kasih.


Arthur dan Maxwell baru menghentikan aktivitasnya setelah Zarina selesai membuat makan malam, mereka lalu menikmati makan malam bersama di ruang makan. Ini adalah pertama kalinya Maxwell makan bersama orang lain, pada awalnya Zarina duduk di sebelah Maxwell namun karena Maxwell mengajak Zarina terus mengobrol akhirnya Arthur memangku Zarina. Alhasil Zarina kini menikmati malam sambil menahan malu pada Maxwell karena duduk dipangkuan Arthur.


Maxwell hanya bisa tertawa tanpa suara melihat betapa posesifnya bos barunya itu pada Zarina, ia akhirnya memutuskan untuk menikmati makanannya yang tersaji diatas piring dengan nyaman tanpa menggangu pertengkaran kecil antara Arthur dan Zarina. Dimana Arthur menolak permintaan Zarina yang ingin makan di kursi, ia tetap kekeh memaksa Zarina duduk di pangkuannya.


"Ayo sudah hampir jam tujuh malam tuan," rengek Zarina untuk yang kelima kalinya pada Arthur yang sedang duduk di sofa bersama Maxwell menatap laptop dengan serius.


"Gerbang asrama tutup jam sembilan Zarina, jangan khawatir," jawab Arthur dengan cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


"Tapi kan butuh waktu lama menuju sekolahku tuan, aku tak bisa pulang terlambat," ucap Zarina memelas.


"Ya sudah kau tidur disini bangun besok pagi ku antar ke sekolah," sahut Arthur tanpa rasa bersalah.


"Ya sudah kalau kau tak mau mengantarkan aku pulang, aku bisa pulang sendiri dan besok aku tak akan datang lagi ke...


Brukkkk


Zarina tak dapat menyelesaikan perkataannya karena ia ditarik oleh Arthur dan jatuh ke pangkuannya di sofa, sehingga membuat Maxwell kaget karena tak menyangka Arthur akan berbuat seperti itu pada Zarina.


"Jangan berani melanggar perjanjian mu denganku Zarina, ingat kau adalah milikku. Apa kau lupa?" tanya Arthur ketus sambil mencengkram pinggang ramping Zarina dengan kuat sehingga membuat Zarina meringis kesakitan.


"A--aku hanya...


"Apa kau ingat perjanjian kita Zarina?" tanya Arthur kembali.


Zarina menganggukan kepalanya menjawab perkataan Arthur, ia tak punya keberanian lagi untuk berdebat dengan Arthur yang sudah terlihat marah itu.


"Good girl, ya sudah diam disini sebentar. Tiga puluh menit lagi kita berangkat ke sekolahmu," ucap Arthur melembut sambil membelai wajah Zarina perlahan.


"Benarkah? benarkah kau akan mengantarku pulang tiga puluh menit lagi?" tanya Zarina dengan suara meninggi.


"Kapan king Arthur pernah berbohong, ya sudah kau diam saja disini. Tunggu pekerjaanku dan Max selesai," jawab Arthur datar, ia lalu menarik Zarina kepelukannya dan kembali fokus pada laptop dihadapannya .


Zarina akhirnya hanya bisa diam, tubuhnya yang kecil sangat mudah direngkuh oleh Arthur sementara itu Maxwell hanya menggelengkan kepalanya perlahan melihat posesifnya Arthur pada Zarina, niatnya untuk menggoda Zarina pun terpaksa ia kubur dalam-dalam karena tak mau cari masalah dengan Arthur.


Tiga puluh menit akhirnya berlalu, Arthur pun sudah menyelesaikan pekerjaannya. Sesuai janjinya pada Zarina ia akhirnya memutuskan untuk mengantar Zarina pulang kembali ke asrama. Namun pada saat akan bangun tiba-tiba ia menyadari bahwa Zarina sudah tertidur di pelukannya, Zarina bersandar di dada sebelah kiri Arthur dengan sangat pulas sehingga membuat Arthur tak tega untuk membangunkannya.


"Sepertinya kucing kecilmu itu sudah sangat nyaman ada dipelukanmu ha ha," ucap Maxwell menggoda Arthur.


"Aku tau, bagaimana ini aku tak tega membangunkannya max," sahut Arthur pelan sambil membelai wajah Zarina yang tertutup rambut panjangnya.


"Ya sudah tidurkan saja diranjang, seperti katamu tadi kan. Biarkan saja ia tidur disini," jawab Maxwell tanpa rasa bersalah.


"Aku ingin melakukan itu tapi aku tak bisa Max, aku sudah berjanji padanya untuk mengantarnya pulang," ucap Arthur lirih.


Sebuah senyuman tersungging di wajah Maxwell ketika mendengar perkataan Arthur yang terakhir, ia semakin salut kepada bos baru nya itu yang ternyata adalah seorang pria yang benar-benar memegang perkataannya.


"Ayo," ucap Maxwell pelan.


"Kemana?" tanya Arthur bingung.


"Bukankah tadi kau bilang ingin mengantarnya pulang ke asrama, ya sudah ayo kita antarkan gadismu itu pulang ke asramanya," jawab Maxwell dengan cepat.


"Aku yang menyetir sehingga kau tak perlu membangunkan gadis itu," imbuh Arthur dengan cepat sambil menunjukkan kunci mobilnya ke arah Arthur.


"Pakai mobil Audi ku Max, aku tak mau membuatnya tak nyaman ada di mobil bututmu itu," sahut Arthur tanpa rasa bersalah.


"Ya ya ya...dasar tuan kaya sombong," sengit Maxwell kesal, ia lalu meraih kunci mobil Audi A8 milik Arthur yang ada diatas meja.


Dengan perlahan Arthur bangun dari sofa dan berjalan menuju pintu dimana Maxwell sudah membuka pintu apartemennya dengan lebar, ia berjalan dengan sehati-hati mungkin supaya tak membuat gerakan yang dapat membangunkan Zarina yang masih tertidur pulas.


Setelah Arthur keluar dari pintu Maxwell langsung menutup pintu apartemen Arthur dan berjalan mengikuti Arthur yang ada di depannya menuju lift yang tak jauh dari kamar Arthur, saat ada di dalam lift Arthur meminta bantuan Maxwell untuk menutupi wajah Zarina menggunakan scratf yang ia bawa. Arthur tak mau membuat Zarina dikenali oleh banyak orang, pada awalnya Maxwell bingung dengan permintaan Arthur yang sedikit aneh itu namun setelah ia tau alasannya ia pun melakukan permintaan Arthur.


Di dalam mobil Arthur tak melepas pandangannya dari Zarina yang masih menutup rapat kedua matanya, ia kemudian menurunkan wajahnya dan memberikan kecupan di kening Zarina. Arthur sendiri tak mengerti kenapa ia melakukan hal sejauh ini pada Zarina, yang ia tahu saat ini adalah ia terlalu takut kehilangan gadis yang baru ia kenal selama beberapa hari itu. Sebuah perasaan aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya dengan gadis-gadis lainnya selama ia hidup.


"Ok kita sampai," ucap Maxwell pelan saat ia sampai di sebuah gang yang ada disamping pintu asrama Zarina.


"Heii bangun, kita sudah sampai di asrama mu. Apakah kau akan terus tidur seperti itu," bisik Arthur perlahan sambil mencubit hidung Zarina.


Pada percobaan pertama Arthur gagal membangunkan Zarina, ia pun akhirnya mengulangi perbuatannya lagi untuk kedua kalinya dan akhirnya berhasil membangunkan Zarina. Saat membuka matanya Zarina kaget ketika menyadari bahwa ia ada di pangkuan Arthur, ia pun bertambah kaget saat mengetahui bahwa ia sudah ada di depan asrama.Tanpa bicara Zarina turun dari pangkuan Arthur dan segera turun dari mobil, ia lalu menganggukan memberikan ucapan terima kasih sambil menyembunyikan wajahnya menahan malu.


Karena tak mau terlambat Zarina akhirnya langsung masuk ke dalam asrama meninggalkan Arthur dan Maxwell tanpa berkata apa-apa lagi.


"Benar-benar gadis yang menarik," ucap Maxwell perlahan saat melihat Zarina berjalan menuju asrama bersama beberapa temannya yang juga baru kembali dari pekerjaan paruh waktu nya.


"Max...


"Aku tau, jangan khawatir. Ya sudah aku turun disini, aku bisa pulang ke apartemenku dengan naik bis, kau bisa pulang dengan mobilmu ini," sahut Maxwell pelan sambil berusaha melepas sabuk pengamannya.


"Ayo ke apartemenmu," ucap Arthur dengan cepat sesaat setelah ia pindah ke bangku depan disamping Maxwell.


"Apa?" tanya Maxwell kaget.


"Aku harus tau dimana anak buahku tinggal, cepat ayo pulang ke apartemenmu," jawab Arthur singkat sambil merebahkan tubuhnya di kursi sambil menutup mata.


"Kau serius, apartemenku jelek dan sempit lalu...


"Jangan banyak bicara Max, waktu terus berjalan," hardik Arthur ketus memotong perkataan Maxwell.


"Ha ha... baiklah kalau begitu," ucap Maxwell sambil menginjak gas mobil mahal milik Arthur menuju ke jalan raya meninggalkan sekolah Zarina.


🌺 To be continued 🌺