Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Senioritas dikampus



Jangan lupa Vote dan ratting bintang lima untuk mendukung Thor


Sudah dua hari Zarina tinggal di apartemen Arthur, saat Arthur pergi kuliah ia akan melakukan tugasnya. Mulai dari merapikan peralatan dapur yang ia gunakan untuk membuat sarapan pagi, sampai mencuci pakaian Arthur dan membersihkan rumah. Kalau orang tak tau mereka pasti akan mengira Zarina adalah istri Arthur.


Sejak Arthur mengaku kalau dirinya gay para gadis yang awalnya menaruh hati padanya mulai menjauh, bahkan bisa dibilang tak ada lagi gadis yang mendekati Arthur.


"Aku dengar Kaoru pindah karena keluarganya bangkrut,"


"Biarkan saja, toh ada atau tak ada dia tak berpengaruh bagi kita,"


"Tapi kasian, ada gay yang kehilangan pasangannya ha ha ha,"


Para gadis itu sengaja berkata dengan suara keras pada saat Arthur masuk ke kelas, Arthur pun hanya diam saja mendengar perkataan mereka. Ia tak mau mencari masalah dengan para gadis itu, Arthur ingin menikmati hari-harinya yang tenang tanpa diganggu pada gadis di kampusnya.


Pada saat jam istirahat berbunyi Arthur memilih tetap ada didalam kelas, ia memilih tetap duduk di kursinya dan mengirimkan banyak pesan pada Zarina. Saat Zarina telat membalas pesannya Arthur akan menelfon Zarina tanpa henti, sebuah senyum tersungging di bibir Arthur saat membaca pesan terakhir yang dikirim Zarina. Pesan berisi emoticon mata berkaca-kaca tanpa teks membuat Arthur gundah, ia akhirnya memutuskan untuk menelfon gadisnya.


"Ada apa lagi tuan?apa aku masih belum puas mengangguku?" tanya Zarina ketus saat sudah tersambung dengan Arthur.


"Kau sedang apa?" tanya balik Arthur.


"Bukankah tadi sudah kujawab, aku sedang belajar mengerjakan tugas dari sekolah," jawab Zarina dengan malas.


"Apakah susah?kalau susah tunggu aku pulang, nanti kita kerjakan bersama-sama," ucap Arthur penuh semangat.


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Ya sudah aku mau makan sudah jam dua belas siang lebih, kau jangan lupa makan tuan. Selamat siang dan sampai jumpa dirumah," sahut Zarina tanpa jeda kemudian mematikan sambungan teleponnya dengan Arthur.


Arthur yang masih meletakkan ponselnya ditelinga terlihat tertawa puas, ia senang karena berhasil mengganggu Zarina. Hal kecil seperti itu nyatanya bisa membuatnya bahagia, suatu hal yang tak pernah ia bayangkan sama sekali saat masih ada di Canada. Bertemu dengan Zarina membuat hidup yang ia jalani di Jepang menjadi lebih berwarna, saat masih membaca ulang percakapannya dengan Zarina di ponsel Arthur dikagetkan dengan suara gaduh diluar kelasnya. Karena penasaran ia pun keluar dari kelas untuk melihat apa yang sedang terjadi, kedua matanya memicing saat melihat dua orang gadis sedang adu mulut. Mereka adalah Victoria dan Michiko, kakak tingkat Arthur yang terkenal di seluruh penjuru kampus karena kecantikan dan kekayaannya.


"Sudah biasa, jadi kami tak heran kalau melihat kedua dari kampus itu bertengkar," ucap seorang gadis tiba-tiba berdiri disamping Arthur.


"Kau siapa, bukankah kau bukan siswi kelas ini?" tanya Arthur pelan pada gadis asing dihadapannya.


"Namaku Nanami, aku siswi kelas sebelah. Aku sengaja datang ke kelas ini untuk berkenalan denganmu Arthur," jawab gadis yang bernama Nanami itu pekan sambil mengulurkan tangannya ke arah Arthur.


"Kalau kau sudah tau namaku untuk apa berkenalan lagi?" tanya Arthur kembali sambil berjalan meninggalkan Nanami menuju kursinya.


Melihat Arthur mengacuhkannya membuat Nanami jengkel, sebagai cucu direktur kampus ia merasa diremehkan oleh Arthur. Selama ini tak ada satupun yang berbau mengacuhkannya, para mahasiswa pasti akan berlarian mengejarnya.


"Aku tau kau bukan gay, aku tau kau berbohong," pekik Nanami dengan keras tiba-tiba.


"Dari mana kau tahu aku bukan gay, padahal seluruh kampus mengatakan bahwa aku adalah gay," ucap Arthur pelan sambil tersenyum ke arah Nanami.


Nanami sebenarnya hanya asal bicara, ia langsung terdiam dan tak bisa menjawab perkataan Arthur. Pasalnya ia sendiri pun juga ragu dan tak sepenuhnya mempercayai berita yang beredar di kampus yang mengatakan bahwa Arthur adalah seorang gay, karena itulah ia mencoba mencari tau sendiri dengan mendekati Arthur. Namun saat melihat sikap tak bersahabat yang ditunjukkan oleh Arthur keraguannya akan Arthur yang seorang gay semakin tinggi.


"Sudahlah Nanami lebih baik kau keluar dan jangan ganggu aku lagi, aku ingin istirahat sebentar sebelum kelas dimulai lagi. Kalau kau ingin mencari pria yang bisa kau ajak kencan lebih baik cari di kelas lain karena aku tidak tertarik sama sekali dengan hal seperti itu," ucap Arthur pelan sambil menutup mulutnya yang sedang menguap.


"Kau...


"Aku memang tak tertarik dengan gadis seperti kalian, karena aku hanya tertarik pada Zarina," ucap Arthur pelan sambil tersenyum mengingat perkataannya yang sebelumnya saat mengusir Nanami secara halus.


Karena waktu istirahat masih 40 menit lagi Arthur akhirnya memilih memejamkan matanya sejenak, tadi malam ia terlalu antusias mengikuti berita penangkapan Hyuga dan keluarganya. Oleh karena itu ia saat ini ia sangat mengantuk, baru akan mulai memejamkan matanya tiba-tiba terdengar suara pintu ditendang sangat keras sehingga membuat Arthur langsung membuka matanya lebar dan menatap kearah sumber suara.


Rupanya di depan Arthur sudah berdiri beberapa orang senior yang kemarin sempat Arthur beri pelajaran, mereka datang lagi dengan mengajak preman lainnya untuk membalas kekalahan tempo hari dari Arthur. Melihat banyak orang di hadapannya membuat Arthur tersenyum sambil memijat kepalanya, ia benar-benar tak habis pikir dengan cara berfikir seniornya itu yang tak mau kalah itu. Padahal waktu itu sudah jelas ia adalah korban yang sedang berusaha melindungi diri.


"Jadi kau yang bernama Arthur, lebih baik kau sekarang merangkak dan minta maaf pada kami sebelum kami beri pelajaran," hardik seorang pria berbadan kekar mengancam Arthur.


"Kenapa aku harus merangkak disaat aku sudah bisa berjalan?" tanya Arthur singkat tanpa rasa bersalah.


"Kau benar-benar cari masalah rupanya!!" pekik pria itu kembali penuh emosi.


Arthur tersenyum melihat ke arah mereka, ia tak mau melayani para preman dihadapannya itu di kampus karena tak mau membuat reputasinya makin jelek. Sebuah senyuman tersungging diwajah Arthur, ia tiba-tiba teringat dengan Kaoru yang merupakan pangeran dari Yamaguchi-gumi. Tanpa rasa takut Arthur mendekati para preman itu, Arthur tau bahwa para pria yang dihadapannya itu bukanlah Yakuza melihat dari badan mereka yang bersih dari tato.


Saat Arthur hampir sampai di tempat para preman itu terdengar teriakan keras dari Michiko yang baru saja selesai bertengkar dengan Victoria, ia berlari mendekati Arthur dan para preman itu.


"Oniisan tunggu!!" pekik Michiko keras sambil berlari kearah para preman itu.


"Michiko," ucap sang preman yang ternyata mengenal Michiko.


"Apa yang oniisan lakukan dikampusku?" tanya Michiko mendetail.


"Aku ada urusan dengan pria yang ada dibelakangmu itu Michiko," jawab kakak angkat Michiko yang bernama Ichiro.


"Urusan apa? Arthur tak pernah mengganggumu kan oniisan?" tanya Michiko dengan suara meninggi, ia mencoba melindungi Arthur dari preman yang sudah ia kenal itu.


Ichiro terdiam mendengar pertanyaan Michiko, pasalnya memang ia tak ada masalah dengan Arthur. Ia hanya orang bayaran yang diminta untuk memberikan pelajaran pada Arthur atas permintaan Taniguchi Hiro yang sudah membayarnya mahal.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu oniisan," ucap Arthur pelan mengikuti cara panggilan Michiko pada Ichiro.


"Kau!!!


Ichiro tak dapat menyelesaikan perkataannya saat melihat sebuah benda ditangan Arthur, kedua matanya yang tadi garang perlahan melembut saat melihat barang yang ditunjukkan oleh Arthur.


"Kau...


"Yes I am,"


🌺 to be continued 🌺