Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
My mother



Jangan lupa untuk vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, Terima kasih.


Sesampainya di apartemen Zarina langsung mengerjakan tugasnya sebagai pelayan Arthur, ia langsung memasukkan semua pakaian kotor Arthur ke dalam mesin cuci setelah memilah-milah mana pakaian yang berwarna putih yang akan ia cuci terakhir. Sedangkan Arthur nampak sibuk bersama Maxwell di kamar kedua yang ia jadikan sebagai ruang kerjanya, Arthur sudah memasang tiga komputer besar di dalam kamarnya itu yang rencananya memang ia akan pakai untuk bekerja.


Saat Arthur sibuk berselancar di dunia maya melihat hasil kerja Maxwell yang sudah melakukan tugas pertamanya mengacak-acak bisnis keluarga Hyuga tiba-tiba ponselnya berdering sangat keras dari kamar utama.


"Ponselmu itu Arthur," ucap Maxwell kesal, ia merasa terganggu dengan suara ponsel Arthur yang sangat keras.


"Biarkan saja, nanti juga...


Ceklek


Pintu ruang kerja Arthur terbuka dari luar dan masuklah Zarina dengan membawa ponselnya yang masih bernyanyi minta


diangkat.


"Tuan...


"Terima kasih Zarina," ucap Arthur memotong perkataan Zarina sambil meraih ponselnya dari tangan Zarina.


Zarina hanya menganggukkan kepalanya perlahan tanpa bersuara, setelah itu ia pergi meninggalkan ruang kerja Arthur untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Maxwell hanya menggelengkan kepalanya perlahan melihat apa yang dilakukan Zarina, ia lalu mengacung satu ibu jarinya ke arah Arthur.


"Shut up!!" ucap Arthur ketus merespon apa yang dilakukan oleh Maxwell.


"Kau luar biasa, gadis secantik itu kau jadikan pelayan," cibir Maxwell menyindir Arthur.


"Itu kemauannya, ia yang mau sendiri. Aku bisa saja memberinya banyak uang tanpa ia harus bekerja seperti itu, namun ia menolak. Ia tetap keras kepala dan mengatakan akan mencari pekerjaan di tempat lain jika aku melarangnya bekerja dirumahku, jadi aku tak bisa menolak. Setidaknya melihatnya ada di depan mataku itu sudah cukup melegakan hatiku Max," jawab Arthur mencoba memberikan penjelasan pada Maxwell perihal Zarina yang memilih bekerja jadi pelayan diapartemennya.


"Jadi ini kemauannya? benar-benar gadis langka, diluar sana bahkan banyak gadis yang rela menjadi simpanan orang kaya asal punya banyak uang. Gadismu ini benar-benar berbeda Arthur," sahut Maxwell memuji Zarina.


"Buang jauh-jauh pikiranmu untuk merebutnya dariku Max, dia milikku," ucap Arthur dingin mengancam Maxwell.


"Aku tak akan bersaing dengan orang gila macam dirimu Arthur, lagipula aku tak suka merebut gadis milik temanku," jawab Maxwell pelan.


Mendengar perkataan Maxwell membuat Arthur tersenyum, ia sudah menyelidiki tentang Maxwell tadi malam. Maxwell adalah orang yang bekerja sendiri dan tak pernah punya rekan sampai saat ini, maka dari itu saat Maxwell menyebutnya teman Arthur merasa senang. Ia merasa sudah berhasil menaklukkan seorang hacker besar itu saat ini.


Karena ponsel Arthur kembali berdering dengan keras Arthur lalu mengangkat panggilan teleponnya dari keluarga itu, ia memilih keluar dari kamar meninggalkan Maxwell. Arthur tak mau orang tuanya tau kalau ia punya rencana besar bersama Maxwell, pasalnya selama ini sang daddy selalu mengingatkan dirinya untuk tak mencari masalah di Jepang dan fokus kuliah saja yang baik. Dari laundry room Zarina mendengar samar-samar pembicaraan Arthur dengan keluarganya, sebuah senyum kesedihan tersinggung diwajah Zarina.


"Pasti senang kalau punya keluarga yang setiap saat menghubungi," batin Zarina sedih, kedua matanya tiba-tiba berkaca-kaca mengingat sang ibu yang sudah meninggal.


"Bulan depan aku berusia 17 tahun, setelah itu aku bisa mengambil semua barang-barang ibu di pegadaian. Semangat Zarina, sebentar lagi kau akan tau keluarga ayahmu dan hidupmu akan lebih baik dari ini," ucap Zarina parau mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri, ia lalu menyeka air mata yang tergenang di kedua matanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dari kamar Arthur bisa melihat Zarina menyeka air matanya, satu alisnya terangkat saat melihat apa yang dilakukan oleh Zarina. Namun karena saat ini ia terhubung dengan video call bersama sang ibu Arthur tak bisa pergi ke laundry room untuk bertanya pada Zarina apa yang terjadi.


"Iya mommy tau sayang, tenang saja. Daddymu sudah memberitahukan kepada paman-pamanmu itu untuk tak memberitahukan keberadaanmu pada adik-adikmu itu nak," jawab Sasa diujung telepon sambil tersenyum ke arah kamera pada Arthur.


"Iya, mommy tentu masih ingat bukan kejadian saat Arthur kelas tiga SMA saat summer camp. Tiba-tiba mereka bertiga datang dan mengacaukan segalanya, sampai akhirnya aku dipanggil kepala sekolah," ucap Arthur datar, ia masih saja kesal kalau teringat kejadian beberapa tahun yang lalu itu dimana Selomitha mengajak Clarinda dan Loretta menyusulnya ke new York dan mengacaukan acara sekolahnya.


"Iya anakku mommy ingat, percayalah pada mommy nak. Ya sudah ini sudah mommy tutup ya, mommy ada acara di panti asuhan. Kau jangan lupa makan yang banyak sayangku, istirahat yang cukup dan oh ya mommy ada mengirimkan uang lagi ke tabunganmu nak. Uang keuntungan dari sewa apartemen mommy di Jakarta mulai saat ini mommy alihkan ke tabunganmu jadi kau tak perlu khawatir kekurangan uang jajan, dan jangan beritahu daddy mu tentang hal ini supaya kau tetap dapat uang jajan juga darinya ya," bisik Sasa pelan sambil tersenyum lebar.


"Mommm i love you mom, you are the best mom ever!!!" sahut Arthur dengan keras.


"Dasar anak nakal, memuji mommy kalau ada maunya saja. Ya sudah ya nak, daddymu sudah selesai mandi mommy tak mau dia tau kalau mommy menghubungi-mu, sampai jumpa sayangku i love you," ucap Sasa dengan cepat sesaat sebelum ia menutup teleponnya.


"I love more and more mom, thanks for everything," jawab Arthur pelan sambil mencium foto sang ibu di layar ponselnya.


Tring


Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya, Arthur pun langsung membuka pesan yang masuk itu. Sebuah senyuman tersungging diwajahnya saat melihat uang masuk ke dalam rekeningnya lagi.


"Entah jadi apa aku tanpamu mom, panjang umur mommy. Tunggu Arthur jadi orang sukses mom, Arthur akan mengembalikan semua pemberian mommy ini dan membuat bangga mommy" ucap Arthur dalam hati saat mengingat uang senilai 5 milyar rupiah yang baru saja masuk ke rekeningnya.


Setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas meja yang ada di kamarnya Arthur lalu berjalan menuju ke kamar kedua di mana Maxwell berada, saat sampai di kamar ia terkejut ketika melihat Maxwell sedang membuka album foto di salah satu file yang ia simpan.


"Apa yang kau lihat?" tanya Arthur pura-pura marah.


"Kau memang luar biasa Arthur, kau sudah punya Zarina disini, tapi di rumahmu sana kamu memiliki wanita yang lain. Aku benar-benar kasihan sekarang ada Zarina," jawab Maxwell dengan cepat sambil menunjukkan sebuah foto yang ia temukan pada Arthur, dimana dalam foto itu Arthur sedang mencium seorang wanita cantik dengan mesra dipipinya.


Alih-alih menjawab ucapan Maxwell yang menuduhnya telah berbuat curang, Arthur justru tertawa terbahak-bahak sampai keluar air matanya sehingga membuat Maxwell merasa jengkel.


"Kau benar-benar brengsekkk Arthur, aku belum pernah melihat ada pria serakah sepertimu," ucap Maxwell ketus.


"Kau marah padaku karena foto itu ha ha ha...memangnya kau tau siapa dia?" tanya Arthur pelan menahan tawa.


"Semua orang yang melihat foto ini pasti tau kalau wanita yang ada di foto ini adalah kekasihmu, lihat saja kau memeluknya dengan sangat erat dan menciumnya semesra ini" jawab Maxwell mengambil kesimpulan sendiri.


"She's my mom, my everything Maxwell ha ha ha ha


🌺To be continued🌺


Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.


Love u kakak-kakak