
Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor
Terima kasih
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Zarina hanya diam tak banyak bicara ketika melihat Arthur terus memanggil memanggil Sasa agar membuka matanya, sedangkan Maxwell berkonsentrasi membawa mobil menuju rumah sakit yang tak jauh dari apartemen. Banyak sekali pertanyaan di dalam kepala Zarina, namun ia tak berani membuka mulutnya karena menyadari situasi yang tidak bersahabat saat ini. Ia melihat dengan jelas wajah Sasa yang semakin pucat, Zarina takut kalau luka ditangan kiri Sasa menyebabkan infeksi.
Setelah berkendara selama 15 menit mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit yang cukup besar, Arthur langsung menggendong sang ibu menuju ke sebuah ranjang dimana para suster sudah bersiap menyambut mereka karena Zarina sudah melakukan reservasi sebelumnya. Ia bahkan ikut mendorong ranjang ibunya menuju ke ruang instalasi gawat darurat namun dihentikan oleh dua orang suster yang melarangnya ikut masuk ke dalam ruang perawatan karena takut mengganggu perawatan yang diberikan oleh dokter.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya, kenapa bisa seperti itu siapa yang bisa menjelaskan ini padaku," ucap Arthur dengan panik sambil mengacak-acak rambutnya.
"Tadi pagi saat aku berangkat ke kampus Mommy baik-baik saja, ia bahkan mengantarku sampai lobby dan..."
Arthur tak dapat menyelesaikan perkataannya ketika tiba-tiba teringat dengan perkataan sang ibu yang ingin pergi belanja ke supermarket, otak jeniusnya langsung menyambungkan perkataan ibunya itu dengan luka yang ada di tangan kirinya.
"Max kau bawa laptop ?"tanya Arthur dengan cepat.
"Bawa tapi..."
"Berikan laptopmu!!" ucap Arthur dengan cepat memotong perkataan Maxwell.
Maxwell dengan cepat membuka tas ransel dan mengeluarkan laptop bergambar buah apel tergigit kepada Arthur, tak begitu lama kemudian Arthur terlihat sibuk dengan laptop milik Maxwell. Tak lama kemudian raut wajahnya berubah drastis sehingga membuat Maxwell heran, perlahan ia mendekati Arthur karena penasaran dengan apa yang sedang dilihat oleh Arthur.
"Ini..."
"Cari tau siapa orang ini Max!!!aku yakin dia pasti suruhan seseorang!!!" ucap Arthur dengan suara meninggi memotong perkataan Maxwell sambil bangun dari kursinya dan menyerahkan laptopnya pada Maxwell, emosinya terbakar lagi saat melihat rekaman CCTV yang menunjukkan peristiwa jatuhnya sang ibu pasca di serempet seorang pengemudi sepeda.
Karena penasaran Zarina kemudian mendekati Maxwell yang sedang menatap layar laptopnya, seketika Zarina menutup mulutnya saat melihat adegan di mana Sasa terjatuh pasca diserempet oleh pengemudi sepeda.
"Kasihan sekali, pasti rasanya sangat sakit apalagi jalanan itu dipenuhi batu," ucap Zarina tanpa sadar ketika melihat ekspresi kesakitan Sasa sesaat setelah ia jatuh.
Mendengar perkataan Zarina membuat Arthur semakin naik darah, ia kini tau kenapa luka di tangan kiri ibunya terlihat sangat banyak dan cukup memprihatinkan. Sementara itu Maxwell langsung mencari tahu tentang sang pengemudi sepeda, ia melacak berbagai tempat yang dilintasi oleh pengemudi sepeda itu menggunakan kamera CCTV yang terpasang di sepanjang jalan. Namun ia tak mendapatkan hasil, karena sang pengemudi sepeda itu menghilang di balik pertokoan sempit yang tak memiliki CCTV.
"Bagaimana Max?" Arthur pelan.
"Dia menghilang di sebuah tempat yang tak terpasang CCTV," jawab Maxwell lirih.
"Aku yakin dia pasti diperintah oleh seseorang tapi siapa??!!! aku tak punya musuh di Tokyo, aku tak pernah membuat masalah disini, aku...
"Tapi kau punya banyak penggemar," celetuk Zarina tanpa sadar.
"Apa maksudmu Zarina?" tanya Arthur dan Maxwell secara bersamaan dengan kaget.
Zarina terlihat memandang Arthur dan Maxwell secara bergantian ia kemudian menarik nafas panjang dan mulai menceritakan apa yang ia lihat beberapa hari terakhir ini. Dimana beberapa hari yang lalu saat ia akan datang ke apartemen Arthur, ia sempat melihat beberapa orang gadis cantik nampak berdiri di depan apartemen Arthur. Mereka terlihat menyebut-nyebut nama Arthur dan juga menunjuk mobil butut Arthur yang terparkir di halaman depan apartemen.
"Seperti apa ciri-ciri gadis itu?" tanya Maxwell dengan cepat setelah Zarina mengakhiri ceritanya.
"Gadis pertama adalah gadis asing sama seperti kalian, sedangkan dua gadis lainnya adalah orang Jepang asli," jawab Zarina pelan mengingat tiga orang gadis yang datang beberapa kali ke apartemen Arthur.
Arthur dan Maxwell saling pandang beberapa saat setelah mendengar perkataan Zarina, tak lama kemudian Arthur meraih laptop yang ada di pangkuan Maxwell dan menunjukkan beberapa foto kepada Zarina.
"Apakah gadis yang kau lihat ada di antara mereka?" tanya Arthur pelan sambil menunjukkan foto teman-temannya yang ada di forum kampus.
"Ya tiga gadis ini yang aku lihat ada disekitar apartemenmu waktu itu," jawab Zarina dengan cepat sambil menunjuk foto Victoria, Michiko dan Nanami.
"Me too...
Drrtttt
Drrtttt
Ponsel yang ada di saku baju Arthur tiba-tiba bergetar dengan sangat kuat membuat Arthur tak dapat menyelesaikan perkataannya, perlahan Arthur meraih ponselnya itu dan langsung menerima panggilan masuk dari nomor asing yang tak terdaftar di kontak teleponnya.
"Arthur here," jawab Arthur pelan.
"Good afternoon, Mr. Arthur Sebastian August. My name is Katherine from Dubai Bank, i would like to confirm whether you know Mrs. Farasya Zalia Durran August?" tanya seorang wanita asing yang memperkenalkan dirinya bernama Katherine.
*Selamat siang, Tn. Arthur Sebastian August. Nama saya Katherine dari Bank Dubai, saya ingin mengonfirmasi apakah anda mengenal Nyonya Farasya Zalia Durran August? "
"yes of course, she is my mother," jawab Arthur singkat.
*Iya tentu saja, dia ibuku.
"Alright then, at this time Mrs. Farasya is buying diamonds for 100000 USD at a jewelry store in Tokyo and she wants to make payments via her credit card," ucap Katherine memberitahukan tujuannya menghubungi Arthur.
*Baiklah, saat ini nyonya Farasya sedang membeli berlian seharga 100.000 USD di sebuah toko perhiasan di Tokyo dan dia ingin melakukan pembayaran melalui kartu kreditnya.
"it's not definitely not my mother, my mother is sick at the hospital with me after she had a mugging. I think the person who wants to make the diamond purchase is the culprit," sahut Arthur dengan suara meninggi.
*itu jelas bukan ibuku, ibuku sakit di rumah sakit bersamaku setelah dia penjambretan. Saya pikir orang yang ingin membeli berlian adalah pelakunya, "
"Thank you for the information, Mr. Arthur, I will notify the jeweler as soon as possible and block Mrs. Farasya Zalia's credit card," jawab Katherine kemudian.
*terima kasih atas informasinya tuan Arthur, saya akan memberitahu kan pihak toko perhiasan itu sesegera mungkin dan memblokir kartu kredit nyonya Farasya Zalia
"Thank you for your help Miss Katherine," ucap Arthur tulus.
"Apa yang terjadi?" tanya Max penasaran ketika melihat ekspresi wajah Arthur yang terlihat menegang pasca berbicara di telepon dengan seorang wanita yang bernama Katherine.
"Ada orang yang menggunakan kartu kredit Ibuku untuk membeli sebuah perhiasan seharga 100000 USD di sebuah toko berlian yang ada di Tokyo dan yang barusan menghubungiku adalah perwakilan dari bank tempat kartu kredit Ibuku diluncurkan, biasanya mereka akan menghubungi nomor darurat yang tertera di data kartu kredit sang pemegang saat ada orang lain yang membelanjakan kartu kredit itu," jawab Arthur pelan .
"Apa maksudmu aku tidak mengerti ?" tanya Maxwell kembali.
"Jadi begini Max ketika ada orang yang memakai kartu kredit ibuku maka pihak bank akan menghubungi orang yang terhubung dengan kontak darurat ibuku, mereka biasanya akan mengkonfirmasi apakah orang itu adalah ibuku atau bukan. Pasalnya setiap ibuku melakukan transaksi di atas 50000 USD ia hanya perlu melakukan pemindaian retina mata saja, namun karena orang yang membelanjakan kartu kredit ibuku ini tak bisa melakukan pemindaian retina mata. Maka pihak bank akan meminta bantuan dengan melakukan konfirmasi pada kontak darurat yang tercantum dan...
"Dan apa Arthur?" tanya Max penasaran.
"Dan artinya ayahku pasti akan datang ke Jepang Max," jawab Arthur dengan mata terbelalak, ia tau bahwa pihak bank juga pasti akan menghubungi ayahnya untuk melakukan konfirmasi yang sama. Dan hal itu berarti ayahnya akan tahu tentang kejadian yang menimpa sang ibu dan selanjutnya sudah bisa ditebak oleh Arthur apa yang akan terjadi.
"Baguslah kalau ayahmu tau itu kan berati kita bisa menangkap pelakunya dengan lebih cepat Arthur," ucap Maxwell sambil tersenyum lebar.
"No bukan itu Max, kalau ayahku datang berati neraka untukku akan dimulai," sahut Arthur lirih, ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau ayahnya melihat kondisi sang ibu.
🌺 to be continued 🌺