Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Sisi kelam Hyuga



Jangan lupa untuk Vote dan Ratting bintang lima untuk medukung Thor, Terima kasih.


Arthur menggendong Zarina yang pingsan menuju ke tempat yang lebih lapang, ia tak mau Zarina kesulitan bernapas jika ada di kerumunan.


Dengan perlahan Arthur membaringkan Zarina diatas rumput, perlahan Arthur mengangkat kedua kaki Zarina ke atas agar aliran darah ke otak kembali normal. Ia meminta bantuan Haneda Ueno untuk menahan kedua kaki Zarina, perlahan Arthur mengarahkan tangannya ke kancing celana panjang yang dipakai Zarina. Namun pada saat hampir sampai ia mendadak menghentikan tindakannya itu, ia lebih memilih menepuk-nepuk pipi Zarina dengan perlahan agar membuatnya bangun sambil menyebut namanya berkali-kali.


"Hei..wake up, Zarina wake up," panggil Arthur berkali-kali pada Zarina yang masih belum mau bangun.


"Kalau tak mau bangun maka aku akan menciummu ya," bisik Arthur pelan sambil menepuk pipi Zarina dengan lembut.


"Berikan saja nafas buatan tuan," Celetuk Haneda Ueno pelan.


"Nafas buatan," ucap Arthur mengulangi perkataan Haneda.


"Iya kalau anda sudah melakukan prosedur ini dan dia masih belum bangun juga maka anda bisa memberikannya nafas buatan, atau kalau anda tak mau kita bisa membawanya ke rumah sakit," sahut Haneda Ueno mencoba memberikan masukan pada Arthur.


Mendengar perkataan Haneda membaut Arthur terdiam, ia mau saja melakukan itu. Akan tetapi ia tak mau melakukan sentuhan bibirnya pertama kali pada Zarina saat ia tak sadar, walaupun Arthur sewaktu di Canada sudah biasa berciuman atau tidur bersama mantan kekasihnya akan tetapi entah mengapa dengan Zarina ia tak mau melakukan itu. Ada rasa lain yang tak bisa ia deskripsikan untuk Zarina.


"Tuan bagaimana?" tanya Haneda pelan membuyarkan lamunan Arthur.


"Oh itu lihatlah ada ambulance kita bisa sekalian minta tolong pada mereka untuk membawa nona ini juga ke rumah sakit," pekik Haneda Ueno kembali sambil menunjuk ke arah ambulance yang baru datang.


Arthur tiba-tiba teringat bagaimana awal mula Zarina pingsan, ia mulai tak bisa menguasai dirinya saat kain penutup jenasah gadis yang melompat tadi terbuka karena angin. Zarina bisa melihat dengan jelas wajah gadis malang itu yang kepalanya hancur, oleh karena itu Arthur berfikir untuk tak membawa Zarina ke rumah sakit dengan ambulance yang sama yang akan membawa jenazah gadis malang itu seperti yang dikatakan Haneda. Jika ia melakukan itu maka akan berakibat fatal bagi Zarina jika ia sadar di dalam ambulance dan menyadari bahwa ia ada bersama dengan jelasan gadis itu.


"Biar aku coba cara lain, dulu aku pernah melihat ibuku melakukan ini waktu menolong pelayan kami yang pingsan dirumah," ucap Arthur tiba-tiba, sebuah senyuman tersungging diwajah Arthur saat mengingat apa yang dulu dilakukan oleh sang ibu.


Arthur kemudian memencet kuat bagian dalam antara ibu jari dan jari telunjuk tangan Zarina, ia menirukan apa yang dilakukan oleh sang ibu dulu. Pada percobaan pertama Zarina masih belum sadar dan pada percobaan kedua saat Arthur menekan lebih kuat terdengar suara kesakitan halus dari Zarina, senyum Arthur mengembang saat melihat Zarina sadar. Haneda Ueno pun langsung bertindak cepat, ia menurunkan kaki Zarina dan meletakkan dengan perlahan di rumput. Arthur kemudian meraih kepala Zarina dan ia tidurkan kembali ke pahanya yang ia jadikan bantal, Haneda Ueno kemudian berlari ke arah apartemen dan tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah botol air mineral yang ia berikan pada Arthur.


"Minumlah dulu," ucap Arthur pelan sambil membantu Zarina untuk duduk dan mengarahkan minuman kepadanya.


"Slowly," bisik Arthur lembut saat melihat Zarina hampir tersedak.


"Terima kasih," ucap Zarina terbata, bajunya sedikit basah karena terkena air yang baru ia minum dari botol.


"Kau kuat berjalan ?" tanya Arthur pelan.


Zarina menganggukan kepalanya perlahan, dia lalu bangun secara perlahan dengan dibantu Arthur. Saat akan melangkah kakinya rupanya terasa lemas dan hampir terjatuh lagi kalau tidak ada Arthur yang sigap merangkulnya, Arthur lantas menutup wajah Zarina dengan tangannya saat melihat jenazah gadis yang melompat tadi diangkat keranda mayat. Ceceran darah dan beberapa organ dalam kepalanya yang hancur nampak berjatuhan saat ia diangkat, Arthur saja sampai menelan salivanya saat melihat itu. Maka dari itu ia menutup mata Zarina agar tak melihat hal yang sangat mengerikan itu.


"Kenapa tuan?" tanya Zarina pelan sambil berusaha melepaskan tangan Arthur dari wajahnya.


"Tak apa-apa, ya sudah ayo masuk ke apartemen. Hari sudah semakin malam," jawab Arthur singkat sambil mengangkat kaki Zarina menggunakan tangan kanannya, Zarina ia gendong ala bridal style masuk kedalam apartemen.


"Tuan turunkan aku, jangan begini maluuuu banyak orang," pekik Zarina kaget.


"Akan lebih malu lagi jika aku membiarkan aku berjalan tertatih-tatih, sudahlah tutup wajahmu kalau malu," jawab Arthur tanpa rasa bersalah.


"Tuan...


"Diam, sembunyikan wajahmu di dadaku," ucap Arthur ketus menguatkan cengkraman tangannya di pinggang Zarina yang sedang dia gendong.


Zarina pun akhirnya mengalah, ia menggunakan dua tangannya untuk menutupi wajahnya. Walaupun di apartemen mahal itu tak ada yang mengenalinya namun ia tetap merasa malu digendong seperti itu oleh Arthur yang notabene adalah majikannya, saat ada di dalam lift senyum Arthur tersungging saat melihat merahnya wajah Zarina yang tak tertutup tangannya. Ia tau kalau gadis yang saat ini ada digendongnya masih sangat polos.


Sesampainya di depan kamar, Arthur memerintahkan Zarina untuk memasukkan password apartemennya. Arthur memang memberitahu Zarina password apartemennya, entah mengapa ia sangat percaya pada Zarina. Satu hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya selama ia tinggal di Canada bersama para mantan kekasihnya dulu, tapi entah kenapa dengan Zarina yang baru ia kenal tiga hari ia sudah sepercaya itu.


Arthur menurunkan Zarina di sofa dengan perlahan, ia lalu berbalik ingin menuju dapur namun tiba-tiba Zarina menahan tangannya.


"Jangan pergi aku takut," ucap Zarina pelan.


"Aku mau ambil minum di pantry," karena Arthur pelan.


"Tapi...


"Aku tak akan lama," sahut Arthur pelan mencoba menyakinkan Zarina.


"Minumlah susu ini, kau akan lebih baik," ucap Arthur pelan memberikan segelas susu hangat pada Zarina.


Tanpa suara Zarina meraih susu pemberian Arthur, ia lalu memangku susu itu di pahanya tanpa ia minum. Pandangan matanya terlihat tak fokus, ia menatap lantai yang bersih tanpa bersuara sehingga membuat Arthur bingung.


"Kau kenapa Za..


"Fujihara Yuka...nama gadis itu Fujihara Yuka," ucap Zarina terbata memotong perkataan Arthur.


"Apa maksudmu?" tanya Arthur bingung, ia tak mengerti arah pembicaraan Zarina.


"Gadis yang ada dibawah tadi...y--yang kepalanya hancuuur namanya Yuka, Yuka adalah sahabat Minami. Mereka yang sering membully-ku di sekolah tapi tadi aku hikss....diaaa...


Arthur yang mengerti arah pembicaraan Zarina kemudian meletakkan gelas susunya diatas meja, ia lalu memeluk Zarina dengan erat setelah ia mengambil gelas yang dipegang Zarina. Dipeluk Arthur membuat Zarina menangis sesenggukan, ia lalu menceritakan secara detail tentang Yuka disekolah.


"Walaupun dia sering mengangguku tapi... tapi aku tak dendam padanya, tapi kenapa ia harus...hikss...


"Hei listen to me, semua yang bernyawa pasti akan mati. Cara kematian mereka pun macam-macam, kita tak bisa mencegah. Lagipula cara meninggal Yuka yang tragis tadi adalah pilihannya, jadi kita tak bisa meratapinya Zarina. Itu adalah pilihannya," ucap Arthur dengan suara meninggi mencoba untuk menenangkan Zarina.


"Aku tau tapi...


"Jangan menangis, aku tak mau melihatmu menangis karena menangisi orang lain. lebih baik kau tidur hari sudah malam," sahut Arthur memotong perkataan Zarina.


"Tapi aku...


Arthur menggaruk kepalanya, ia lalu bangun dari sofa dan mengulurkan sebuah kaos yang baru ia beli tadi dan memberinya pada Zarina.


"Tapi ini milikmu tuan," ucap Zarina terbata.


"Cepat, apa perlu aku gantikan pakaianmu?" tanya Arthur tak sabar.


Zarina langsung bangun dan berjalan pelan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, di dalam kamar mandi ia meringis saat melihat harga kaos yang akan ia pakai untuk tidur itu. Tak lama kemudian Zarina keluar dari kamar mandi dengan sudah berganti kaos baru milik Arthur, karena kaos Arthur panjang ia tak memakai celana panjang lagi. Alhasil kaki jenjang Zarina terekspos dengan jelas, Arthur langsung pura-pura tak melihat Zarina yang terlihat ragu-ragu untuk keluar dari kamar mandi.


"Di apartemenku hanya ada satu kamar yang miliki ranjang, kau tidur saja di kamarku. Aku akan bekerja di ruang tamu, kalau kau takut pintunya jangan ditutup supaya kau bisa melihatku Zarina," ucap Arthur dengan suara keras, ia seolah tau apa yang sedang dipikirkan Zarina saat ini.


"Aku tidur dulu tuan dan jangan pergi," jawab Zarina terbata.


Arthur mengangkat tangannya ke udara, dalam posisi membelakangi Zarina ia memang tak melihat secara langsung penampilan Zarina akan tetapi ia bisa melihat jelas pantulan Zarina dari kaca yang ada dihadapannya. Ia tersenyum ketika melihat cara Zarina berjalan menuju kamar, tangan Zarina terlihat menarik kaosnya kebawah supaya pahanya tidak terlalu terekspos.


Tak lama kemudian Zarina sudah ada diranjang Arthur, seluruh tubuhnya pun sudah tertutup selimut tebal mahal milik Arthur. Arthur sendiri langsung sibuk di laptopnya, ia meretas CCTV apartemen miliknya dan kaget saat tak melihat rekaman apapun di basement. Pertengkaran Yuka dengan Minami dan Hyuga raib, yang terlihat hanyalah kejadian saat Yuka naik ke lantai 15 dan melompat dari balkon yang ada dilantai itu.


"Ada yang tak beres, aku harus menyelidikinya," ucap Arthur lirih.


Arthur lalu melakukan pencarian lagi di situs sekolah, ia membuka sosial media Minami untuk mencari Hyuga yang tadi diperebutkan oleh Minami dan Yuka. Senyum Arthur mengembang saat melihat foto Hyuga, tak lama kemudian ia berhasil menemukan data diri Hyuga. Wajah Arthur terlihat memucat seketika.


"Pantas saja ia bisa semudah itu mencampakkan wanitanya, rupanya dia adalah anak seorang Yakuza berpengaruh di Pulau Watakano ," ucap Arthur kaget saat mengetahui identitas sebenarnya Hyuga.


( Watakanojima / pulau Watakano merupakan salah satu pulau khusus yang sangat terkenal dengan tempat khusus prostitusi yang dilindungi para Yakuza di daerah itu, pulau Watakano ada di Perfektur Mie)


Arthur kemudian mengingat lagi perkataan Hyuga tadi sore sesaat sebelum Yuka bunuh diri.


Glek


Arthur menelan salivanya perlahan, ia lalu menoleh ke arah Zarina yang tertidur di atas ranjangnya.


"Aku tak boleh membiarkan Zarina terus ada disekolah itu, nasibnya dalam bahaya," ucap Arthur terbata dengan suara bergetar, layar laptop Arthur menampilkan beberapa teman sebaya Zarina nampak berfoto dengan Hyuga diatas kapal pesiar di sekitar pulau Watakano.


🌺To be continued🌺


Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.


Love u kakak-kakak