
Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor.
Terima kasih
Arthur dan Maxwell kemudian melanjutkan pembicaraan berpura-pura tak menyadari keberdaan sang paparazi yang saat ini masih tetap di posisinya mengambil gambar Arthur dan Maxwell, meskipun Arthur dan Maxwell seolah sedang menobrol biasa namun mereka sebenarnya hanya akting. Pasalnya mereka berkomunikasi melalui aplikasi Whatapps yang ada di ponsel masing-masing. Tak lama kemudian lonceng tanda jam pelajaran kembali dimulai pun berbunyi sehingga membuat Arthur harus meninggalkan Maxwell sendiran di taman, karena harus melanjutkan pelajaran kembali.
"Susahnya jadi orang tampan selalu dikejar-kejar gadis cantik," ucap Maxwell pelan sambil terus menatap paparazi yang masih berusaha mengambil foto Arthur yang sudah berjalan menuju kelasnya lagi.
Maxwell lalu memilih pergi ke kantin untuk menunggu Arthur selesai kuliah, pasalnya tadi sebelum pergi Arthur sudah berpesan padanya untuk jangan pulang terlebih dahulu karena Arthur ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat penting.
Di dalam kelas Arthur terlihat fokus menerima pelajaran, walaupun jauh dari kedua orangtuanya Arthur tetap tak mau mengecewakan mereka. Oleh karena itu Arthur ingin semua mata perkuliahannya mendapatkan nilai A tanpa ada nilai yang kurang sedikitpun, sehingga ia terlihat sangat fokus pada pelajaran yang diberikan para dosennya.
"Arthur," panggil Victoria pelan, seperti yang dilakukan Michiko rupanya Victoria juga memilih mengulang kelas yang sama supaya bisa satu kelas dengan Arthur. Hari ini ia sengaja datang pagi supaya bisa duduk disebelah Arthur di barisan paling belakang.
"Ada apa?" tanya Arthur tanpa suara karena tak mau menggangu teman lainnya yang sedang fokus dengan penjelasan dosen.
"Aku butuh bantuanmu," jawab Victoria lirih sambil menunjukkan tugas yang baru saja diberikan dosen sesaat sebelum mengakhiri pelajaran.
Arthur menatap lebar buku yang ditunjukkan Victoria, ia lalu tersenyum sambil menganggukkkan kepalanya perlahan tanda menyetujui permintaan Victoria.
"Serius??" tanya Victoria penuh semangat, walaupun gosip mengatakan Arthur gay namun ia tak memperdulikan itu.Ia justru yakin dapat menyembuhkan penyakit Arthur itu dengan cinta dan perhatiannya.
"Iya nanti setelah kelas usai aku akan menjelaskan padamu," jawab Arthur pelan.
"Terima kasih Arthur terima kasih," sahut Victoria penuh semangat sambil mencengkram tangan Arthur.
Arthur menganggukan pelan sambil berusaha melepaskan tangan Victoria dari tangannya, ia lalu merapikan laptopnya karena pelajaran sudah selesai. Tak lama kemudian para mahasiswa lainnya keluar dari kelas setelah sang dosen keluar, hanya Victoria dan Arthur saja yang masih ada didalam kelas, Michiko yang masih berdiri dipintu nampak mengepalkan tangannya penuh emosi. Ia marah pada Victoria yang dianggap sudah mendahului dirinya, padahal rencana awal ia ingin mendekati Arthur dengan cara yang sedang dilakukan Victoria.
"Kau selalu saja cari masalah denganku sejak dulu Victoria, lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu setelah ini. Arthur adalah milikku, aku yakin dia adalah pria normal bukan gay. Kalaupun dia gay akulah wanita yang akan membuatnya menjadi pria normal lagi," ucap Michiko dalam hati, karena tak kuat melihat kedekatan Victoria dan Arthur didepan mata Michiko akhirnya meninggalkan kelas menuju area parkir dimana Taro detektif swasta yang sudah ia bayar sedang menunggunya untuk memberikan laporan padanya.
Tanpa Michiko tau rupanya Nanami sang gadis paling cantik di angkatan Arthur melihat apa yang ia lakukan tadi didepan kelas, ia tersenyum saat melihat Arthur dan Victoria didalam kelas.
"Aku hanya cukup membiarkan kedua betina itu saling serang, setelah mereka sama-sama terluka maka aku tinggal masuk dan merebut Arthur," ucap Nanami lirih, Nanami yang juga menaruh hati pada Arthur memilih untuk tak menunjukkan rasa sukanya pada Arthur saat ini. Ia memilih jalan lain untuk mendekati Arthur, ia lalu bergegas pergi dari depan ruang kelas Arthur saat melihat Arthur sedang merapikan buku-bukunya kedalam tas karena ia sudah selesai memberikan penjelasan pada Victoria.
"Terima kasih Arthur, entah apa jadinya kau tanpamu," ucap Victoria pelan.
"Kau benar-benar baik, oh ya apa kau tinggal didekat supermarket yang waktu itu kita bertemu?" tanya Victoria to the poin.
Arthur terdiam mendengar perkaaan Victoria, ia terlihat memutar otaknya untuk mencari alasan yang masuk akal agar Victoria percaya.
"Mana mungkin aku tinggal disekitar sana Victoria, kau tau kan itu kawasan elit. Aku hanya mampu menyewa sebuah apartemen tipe studio dikawasan padat penduduk yang berjarak 4 blok dari supermarket itu," jawab Arthur pelan sambil tersenyum, apartemen yang Arthur sebutkan adalah sebuah kawasan yang sering ia lewati ketika akan ketempat Maxwell.
Victoria terdiam mendengar perkataan Arthur, ia tau kawasan padat yang disebutkan Arthur. Kawasan itu adalah sebuah kawasan yang sangat rawan dan menjadi tempat tinggal para penjahat dan pasanagan sesama jenis yang cukup terkenal. Sebuah senyuman tersungging diwajah Arthur saat melihat ekspresi wajah Victoria, rencananya untuk menakuti Victoria berhasil. Tak lama kemudian Arthur pun pergi meninggalkan kelas setelah berpamitan pada Victoria yang masih diam membisu.
"Sudah selesai?" tanya Maxwell pelan.
"Yes, ya sudah ayo pergi," jawab Arthur singkat sambil melingkarkan tangannya ke leher Maxwell sambil berjalan menuju tempat parkir dimana mobil honda civic bututnya berada.
Michiko yang sedang berjalan menuju ke tempat Taro sangat kaget ketika melihat Arthur merangkul seorang pria, buku yang sedang ia pegang bahkan sampai jatuh berserakan.
"Tak mungkin kau gay Arthur...kau pria normal Arthur," ucap Michiko pelan dengan suara bergetar penuh rasa kecewa.
Quebec, Canada
Cindy nampak meninggila di apartemennya saat mengetahui kalau Arthur pindah kuliah di luar negri, ia yang masih belum terima diputuskan begitu saja oleh Arthur bertambah murka saat mengetahui mantan kekasihanya itu pindah.
"Papa...bayar orang hebatmu untuk mencari Arthur, aku tak bisa hidup tanpanya papa," tangis Cindy pada sang ayah yang baru datang dari Turki.
"Tapi kau sudah ditinggalkan olehnya nak, kau lebih baik cari pria lain. Papa bisa mencarikan seorang pria yang jauh lebih baik dari Arthur yang pengecut itu," sahut sang ayah dengan cepat.
Prank
"Lebih baik aku mati jika aku tak bersama Arthur," jerit Cindy keras sambil mengarahkan pecahan botol yang ada ditangnnya ke arah jantungnya.
"Cindyy jangan lakukan itu anakku, papa pasti akan mencari Arthur. Sekarang jatuhkan dulu pecahan botol itu kelantai anakku," pinta tuan Oguz ayah Cindy berusaha menenangkan anaknya.
"Papa tak sedang bergurau kan, aku tak bisa hidup tanpa Arthur papa hiks..aku hanya mencintai Arthur," tangis Cindy histeris.
🌺To be continued🌺