Faith 2 The Return Of The Prince

Faith 2 The Return Of The Prince
Kecelakaan



Jangan lupa vote dan ratting bintang 5 untuk mendukung Thor


Terima kasih


Setelah Arthur berangkat kuliah Sasa memutuskan untuk berbelanja di sebuah supermarket yang tak jauh dari apartemen tempat tinggal putranya itu, Sasa pergi ke supermarket dengan berjalan kaki karena ingin menikmati udara pagi di Tokyo sambil melihat-lihat warga setempat yang mulai sibuk beraktivitas.


Senyumnya merekah saat melihat banyak anak kecil yang sedang diantar oleh orang tuanya menaiki sebuah bus sekolah yang akan mengantar mereka menuju ke sekolah masing-masing, dulu ia tak bisa melakukan hal seperti itu pasalnya ketiga anaknya selalu diantar oleh supir ke sekolahnya masing-masing. Dulu ia berpikir bahwa anak-anaknya akan tumbuh tanpa bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya, namun Archie selalu meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ketakutannya semata karena menurut Archie di sekolah ketiga anaknya pun akan bisa bersosialisasi dengan teman-teman yang lainnya.


Sejak kecil Archie sudah memilih sebuah sekolah khusus untuk Arthur, Allard dan Ashley. Mereka bertiga disekolahkan Archie di sebuah yayasan milik beberapa orang penting yang ada di Quebec, tak semua orang bisa menyekolahkan anak-anaknya di sekolah itu apalagi tiga anak sekaligus seperti yang dilakukan oleh Archie Duran karena biaya sekolahnya yang tinggi. Namun hal itu tidak berlaku bagi pengusaha sekelas Archie, Archie memutuskan untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi ketiga putranya. Oleh karena itu ia tak segan mengeluarkan banyak uang agar anak-anaknya bisa sekolah di tempat terbaik yang ada di di Quebec.


"Awwwww...."


Brukkk


Saat sedang berdiri melihat kearah bis yang membawa anak-anak sekolah dasar itu pergi kesekolahnya, tiba-tiba ada seorang penunggang sepeda melintas di hadapan Sasa dengan kecepatan tinggi. Sehingga membuat Sasa terjatuh ke samping, dompet kecil yang ia bawa pun dijambret oleh sang pengemudi sepeda yang sudah kabur itu, orang-orang yang ada di sekitar kejadian nampak meneriaki copet kepada pengemudi sepeda itu.


Namun karena sang pengemudi sepeda itu sudah mengayuh sepedanya sangat jauh akhirnya ia tak terkejar, mereka akhirnya menolong Sasa yang masih terduduk di trotoar dengan tangan kiri yang mengeluarkan darah karena tergores dengan bebatuan yang ada di trotoar tersebut.


"あなたは大丈夫ですか?" tanya seorang ibu paruh baya yang membantu Sasa berdiri.


*Anata wa daijōbudesuka?/ apa anda baik baik saja?


"はい、助けてくれてありがとう," jawab Sasa terbata, ia belum terlalu lancar menggunakan bahasa Jepang.


*Hai, tasukete kurete arigatō/ iya, terima kasih atas bantuan anda.


"あなたは日本人ではありませんか?"tanya wanita tua itu kembali pada Sasa.


*Anata wa nihonjinde wa arimasen ka?/ apa anda bukan orang Jepang?


"私はカナダ人です、奥様," jawab Sasa pelan sambil tersenyum, untuk perkenalan singkat seperti itu ia masih bisa menjawabnya. Karena selama enam bulan ini Sasa sengaja kursus bahasa Jepang di rumah, ia mengundang guru les privat ke rumah.


*Watashi wa Kanada hitodesu, okusama / saya pernah Kanada bu.


Sejak melahirkan si kembar Sasa merubah kewarganegaraannya mengikuti kewarganegaraan Archie menjadi warga negara Kanada, walaupun sebenarnya ia tak mau merubah identitas aslinya sebagai warga negara Indonesia. Namun karena Archie ingin menyamakan data keluarga, akhirnya ia terpaksa merubah warga negaranya mengikuti sang suami agar ketiga anaknya bisa memiliki warga negara yang sama dengan sang ayah dan tidak lagi memiliki kewarganegaraan double seperti Arthur.


*Ā, anata no te wa kizutsuite imasu, misu/ astaga, tangan anda mengeluarkan darah nona.


Sasa yang tak mengerti dengan arti perkataan sang wanita kedua yang ada di sampingnya nampak hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya, namun saat melihat kebawah tiba-tiba ia melihat bajunya terkena tetesan darah. Dari situ ia baru sadar saat melihat tangan kirinya yang sudah memiliki luka goresan cukup banyak, sontak Sasa langsung menyentuh tangan kirinya untuk melihat lebih jelas lukanya. Namun sang wanita pertama yang membantunya melarangnya untuk menyentuh luka itu karena takut infeksi, kedua wanita itu akhirnya mengajak Sasa untuk pergi ke sebuah klinik yang tak jauh dari tempat ia jatuh.


Beruntung di klinik yang ia datangi seorang suster yang berjaga mengerti bahasa Inggris, sehingga Sasa tidak kesulitan berkomunikasi.


Saat akan membayar tiba-tiba Sasa menyadari bahwa dompet kecil yang ia bawa sudah raib di jambret oleh pengemudi sepeda yang tadi menabraknya.


"Nona sebelumnya saya minta maaf saya tidak bermaksud untuk menyulitkan anda, hanya saja sepertinya dompet yang saya bawa ikut diambil oleh orang yang tadi menabrak saya. Sehingga saya belum bisa membayar biayanya sekarang, apakah bisa saya pulang terlebih dahulu untuk mengambil uang lalu kembali ke klinik lagi ini lagi nona?"tanya Sasa pelan.


"Anda tidak usah khawatir, saya pasti akan membayarnya. Tempat tinggal saya tidak jauh dari klinik ini, saya tinggal di apartemen yang ada di ujung jalan itu. Kalau anda tidak percaya anda boleh ikut saya ke apartemen supaya saya bisa membayar anda langsung dan..."


"Tidak usah khawatir nona biaya pengobatan wnda bukanlah biaya yang mahal, anda bisa pulang terlebih dahulu ke apartemen untuk mengambil uangnya dan membayar lagi ketika anda sudah lebih baik. Luka di tangan anda harus dijaga dengan baik dan jangan terkena air terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya infeksi, jadi lebih baik anda pulang ke apartemen wnda dan istirahat. Setelah anda merasa lebih baik baru anda bisa datang ke klinik ini lagi untuk membayar biayanya," sahut seorang dokter pria yang sebelumnya menolong Sasa tiba-tiba memotong perkataan nya dengan sang suster.


"Benarkah dokter, terima kasih kalau begitu atas kebaikan anda. Saya benar-benar meminta maaf karena sudah merepotkan anda berdua, tapi saya berjanji saya akan segera membayarnya. Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu, saya harus menelepon bank untuk memblokir beberapa kartu kredit saya yang juga hilang terbawa oleh penjambret itu," ucap Sasa pelan sambil bangun dari kursinya.


"Kalau qnda membutuhkan telepon mungkin anda bisa menggunakan telepon di klinik ini untuk memblokir semua kartu kredit anda nona," jawab sang dokter kembali mencoba menawarkan bantuan lagi kepada Sasa.


"Tidak usah dokter, terima kasih atas bantuannya. Lagi pula saya tidak mengingat nomor kartu kredit saya, saya harus melihatnya di catatan terlebih dahulu di apartemen. Kalau begitu saya permisi dokter, suster terima kasih atas bantuannya sekali lagi maaf merepotkan anda berdua," jawab Sasa pelan menolak tawaran sang dokter, pasalnya ia tak mungkin menggunakan panggilan internasional melalui telepon yang ada di klinik. Semua kartu kreditnya adalah kartu kredit terbitan bank bank terkenal yang ada di dunia dan ia tak mungkin menggunakan telepon orang lain untuk menghubungi bank bank tersebut.


Saat Sasa keluar dari klinik dua orang wanita paruh baya yang membantunya masih menunggunya di depan klinik dengan khawatir, mereka berdua pada awalnya ingin mengantar Sasa pulang ke apartemen namun karena mengingat mereka harus pergi berbelanja akhirnya mereka berpamitan pada Sasa. Mereka berdua pergi meninggalkan Sasa dengan memberikan nomor telepon, karena Sasa melarang mereka pergi sebelum ia mendapatkan nomor telepon mereka. Sasa memaksa meminta nomor telepon kedua wanita baik itu karena ia ingin datang berkunjung ke rumah kedua wanita paruh baya baik hati itu.


"Sepertinya aku hanya membawa satu kartu kredit saja di dompet itu," ucap Sasa dalam hati sambil mengingat-ingat isi dompetnya yang raib dijambret oleh pengemudi sepeda tadi.


Sambil menahan nyeri Sasa berjalan cepat menuju apartemen Arthur, ia sudah tidak sabar ingin berbaring di ranjang karena rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Sepertinya obat antibiotik yang diberikan oleh dokter tadi mengandung obat tidur, beruntung apartemen Arthur dikunci menggunakan password angka sehingga Sasa tidak perlu membutuhkan kunci atau kartu. Karena jika apartemen putranya itu menggunakan kunci model lama maka ia tak akan bisa masuk ke dalam saat ini, karena kuncinya pasti juga akan ikut hilang terbawa oleh penjambret yang tadi.


Setelah masuk ke dalam rumah Sasa kemudian berjalan menuju kamar Arthur dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, iya sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi ditambah rasa nyeri yang mulai menggigit di tangan kirinya. Karena tadi dokter sempat menjahit dua luka yang cukup lebar di tangan kirinya karena terkena goresan batu yang cukup tajam.


Sasa sudah tidak bisa melawan rasa kantuknya lagi, ia melupakan perihal kartu kreditnya yang terbawa oleh penjambret tadi. Padahal kartu kredit itu adalah sebuah kartu tanpa batas yang dikeluarkan oleh bank yang ada di Dubai, kartu kredit yang sama dengan milik Arthur dan hanya bisa dipakai oleh pemiliknya karena kartu kredit itu menggunakan teknologi canggih yang menggunakan scan sidik jari dan retina mata. Jadi kalau kartu kredit itu dipakai oleh orang lain maka pihak bank akan tau dengan cepat dan akan meminta konfirmasi pada pemilik aslinya, apalagi tak ada jawaban dari sang pemilik maka pihak bank akan langsung memblokirnya tanpa diminta sebagai bentuk perlindungan data nasabah.


🌺 to be continued🌺