
Jangan lupa untuk vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, Terima kasih.
Dengan mengendarai mobil Honda Civic bututnya Arthur pergi menuju ke tempat yang sudah ia janjikan dengan Maxwell, hari ini ia sudah membuat janji dengan para preman yang sudah sering keluar masuk penjara atas rekomendasi Maxwell. Arthur tau sebenarnya pilihannya ini beresiko namun ia harus tetap melakukan ini untuk melindungi Zarina, setidaknya ketika ia dikampus ada orang yang menjaga Zarina disekolah.
Sebenarnya Arthur bisa saja mencari seorang bodyguard untuk Zarina, namun ia tak melakukan itu supaya tak membuat curiga Hyuga dan anak buahnya. Oleh karena itu ia memilih mencari preman biasa yang mau diajak kerjasama dan bisa dipekerjakan di sekitar sekolah Zarina sehingga tak memancing kecurigaan Hyuga.
Setelah berkendara hampir dua puluh menit Arthur akhirnya tiba di sebuah rumah makan ramen kecil yang ada di pinggir kota, ia sengaja meminta Maxwell mencarikan sebuah kedai ramen yang yang biasa dikunjungi oleh banyak orang supaya tidak memancing kecurigaan siapapun.
"Untuk berapa orang?" tanya sang pelayan kedai ketika Arthur masuk ke dalam kedai.
"Untuk delapan orang," jawab Arthur singkat.
"Baik, ikuti saya," ucap sang pelayan ramah.
Arthur menoleh ke arah sekitar kedai untuk mencari mobil Maxwell, namun rupanya tangan kanan barunya itu belum sampai. Ia lalu mengikuti langkah sang pelayan masuk ke sebuah ruangan khusus yang biasa dipakai untuk lima orang ke atas lebih, Arthur pun ditinggalkan sang pelayan sendiri dengan sebuah buku menu.
Saat sedang memilih menu tiba-tiba masuklah Maxwell kedalam ruangan itu tanpa rasa bersalah, ia lalu meminum secangkir ocha dingin milik Arthur yang belum disentuh oleh sang empunya. Tanpa rasa sungkan Maxwell menghabiskan ocha itu tanpa sisa setetes pun.
"Maaf aku terlalu haus," ucap Maxwell pelan sambil membuka jaketnya perlahan.
"Aku kira kau tak bisa mengucapkan maaf, ternyata bisa juga," sahut Arthur menyindir Maxwell.
Plakkk
Maxwell memukul pundak Arthur dengan keras lalu merengkuh Arthur bak sahabat karib.
"Jangan terlalu kaku tuan, santai saja. Jangan marah, aku terlambat datang karena punya alasan bagus," ucap Maxwell sambil tertawa.
"Alasan apa?" tanya Arthur pelan sambil melepaskan tangan Maxwell yang melingkar di pundaknya.
"Aku menemukan orang yang lebih tepat untuk menjaga gadismu itu ketimbang para mantan narapidana itu," jawab Maxwell pelan sambil menikmati ramen miliknya yang baru saja diantar pelayan.
Arthur mengangkat satu alisnya keatas mendengar perkataan Maxwell, ia merasa bingung kenapa tiba-tiba Maxwell merubah rencana awal. Padahal dia yang pertama kali mengusulkan rencana agar Arthur merekrut para preman itu namun ditengah jalan tiba-tiba Maxwell mengganti rencana mereka.
"Makan dulu ramenmu, kalau sudah dingin tidak enak," ucap Maxwell dengan mulut penuh meminta Arthur untuk makan juga.
"Aku tau," jawab Arthur pelan, ia lalu meraih sumpit bambu yang ada disampingnya dan langsung menggunakannya untuk makan ramen.
Saat ramen itu masuk kedalam mulutnya wajah Arthur berubah, ia takjub dengan ramen yang ada dihadapannya. Pasalnya selama ini ia makan ramen atau makanan sejenisnya yang ada di restoran bintang lima sekalipun tak ada yang seenak ramen yang sedang ia makan itu, dengan lahap Arthur menikmati ramen rekomendasi Maxwell itu. Tak lama kemudian mangkuk yang ada dihadapannya pun habis, ia lalu memesan empat mangkuk lagi. Dua untuk dirinya dan dua untuk Maxwell, alhasil mereka berdua siang itu makam tiga mangkuk besar ramen.
"Aduh aku bisa mati," ucap Maxwell pelan sambil meraba perutnya yang kekeyangan setelah makan tiga mangkuk ramen.
"Aku juga, tapi itu adalah ramen terenak yang pernah aku makan seumur hidupku," jawab Arthur jujur sambil bersendawa sangat keras.
"Ha ha ha ternyata kau bisa juga se kurang ajar itu Arthur ha ha ha, aku kira anak orang kaya tak bisa bersendawa keras seperti tadi," sahut Maxwell sambil tertawa lebar
Mendengar perkataan Arthur membuat Maxwell tertawa terbahak-bahak, ia tak menyangka kalau Arthur mempunyai sisi yang bisa melucu seperti itu. Setelah berbincang-bincang selama hampir 10 menit Arthur akhirnya mengajak Maxwell untuk meninggalkan kedai setelah perut mereka terasa lebih baik pasca menghabiskan 3 mangkok ramen ukuran besar.
"Suatu saat aku akan mengajak Zarina ke tempat ini, dia pasti senang makan makanan seperti ini," ucap Arthur pelan sambil menatap kedai ramen yang baru saja ia tinggalkan.
"Aku rasa tidak," jawab Maxwell tanpa sadar.
"Apa maksudmu bicara seperti itu max?" tanya Arthur penasaran.
"Apa...aku tak bicara apa-apa," jawab Maxwell tergagap, ia menyadari kesalahannya yang seharusnya tak ia ucapkan.
"Sepertinya kau menyimpan sesuatu dariku Max," ucap Arthur perlahan sambil melipat tangannya di dada.
Maxwell terdiam mendengar perkataan Arthur ia merutuki dirinya yang sudah keceplosan bicara seperti tadi.
"Kenapa kau diam, kalau kau memang tak punya rahasia seharusnya kau bicara dengan lantang seperti biasanya kepadaku Max," ucap Arthur kembali sambil memicingkan satu matanya menatap Maxwell tanpa berkedip.
"Rahasia apa...kenapa kau jadi aneh, ayolah kita pergi. Bukankah tadi kau ingin mencari orang yang bisa menjaga Zarina, ya sudah ayo aku ajak menemuinya," jawab Maxwell pelan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sikapmu yang makin aneh ini membuatku semakin yakin ada sesuatu yang kau sembunyikan Max," sahut Arthur dingin, ia merasa kalau Maxwell sedang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku harus menyembunyikan apa?" tanya Maxwell akhirnya kehilangan kesabaran, ia tak bisa terus dipojokkan oleh Arthur.
"Apa yang kau ketahui tentang Zarina, aku yakin kau sudah tau tentang Zarina jauh lebih lama sebelum aku mengenalmu bukan," jawab Arthur datar.
"Aku tak tau apa-apa tentang gadismu itu, bukankah dia juga batu bertemu denganku waktu di apartemenmu waktu itu," ucap Maxwell lantang mencoba mengingatkan Arthur tentang pertemuan pertamanya dengan Zarina.
Arthur terdiam mendengar perkataan Maxwell ia merasa apa yang dikatakan Maxwell adalah sebuah kejujuran, pasalnya waktu itu Zarina juga terlihat bingung ketika Arthur memperkenalkannya kepada Maxwell di depan apartemen. Kalau seandainya Zarina dan Maxwell sudah saling mengenal tentu sikap Zarina tidak akan seperti itu kepada Maxwell.
"Lalu kenapa tadi kau bilang kalau Zarina tak akan suka jika aku ajak ke kedai ramen ini?" tanya Arthur dingin.
"Kalau kau tak mengenalnya lebih dulu tentu kau tak mungkin akan bisa berkata seperti itu, perkataanmu tadi menunjukkan bahwa kau sudah lebih dulu mengenal Zarina dariku Max," imbuh Arthur kembali.
Maxwell mati kutu mendengar perkataan Arthur, ia kini menyesali mulutnya yang asal bicara seperti tadi padahal ia sudah berjanji pada seseorang untuk tak membocorkan rahasia ini pada Arthur sampai saatnya nanti.
"Jangan tanya pada Maxwell bertanyalah padaku," jawab seseorang dari balik mobil dengan lantang.
Arthur langsung menoleh ke arah sumber suara dan terdiam ketika melihat si empunya suara.
"Bertanyalah padaku...
🌺 To be continued 🌺