
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor
Sasa nampak tak konsentrasi saat membuat makan siang untuk ketiga anaknya yang sedang bermain game di kamar khusus yang ada dilantai satu, pikirannya melayang-layang memikirkan perkataan Arthur yang meminta ijin padanya untuk kuliah di Jepang. Pasalnya ia tak pernah berjauhan dengan anak-anaknya selama ini.
"Aww......
Suara jeritan Sasa membuat semua pelayan yang ada di dapur kaget, mereka semakin kaget ketika melihat ke arah sumber suara dimana sang nyonya tangannya teriris pisau.
"Nyonya!!!" jerit tiga orang pelayan bersaman.
"Aku tak apa-apa jangan khawatir hanya issh...
"Sudah ayo nyonya istirahat, luka anda harus segera mendapat perawatan." ucap Mirna salah seorang pelayannya yang paling lama setelah almarhum bik Rani.
Sasa mengangguk pelan, ia lalu berjalan menuju sofa meninggalkan perkerjaannya. Mirna tampak langsung menangani luka di tangan sang nyonya, ia membasuh luka Sasa menggunakan air mengalir sebelum ia berikan cairan antiseptik untuk mengurangi infeksi sebelum diberi obat. Saat diberikan cairan antiseptik Sasa terlihat meringis kesakitan karena merasakan perih sehingga membuat Mirna berkali-kali mengucapkan minta maaf.
"Terima kasih Mirna," ucap Sasa lembut.
"Sama-sama nyonya, ini bukanlah apa-apa," jawab Mirna dengan cepat.
Sasa tersenyum tipis mendengar perkataan pelayannya itu, ia lalu berjalan menuju dapur kembali untuk melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi saat hampir sampai di dapur tiba-tiba kedua pelayan lainnya melarang Sasa untuk kembali bergulat dengan peralatan dapur.
"Lebih baik nyonya istirahat saja, nyonya sudah terluka," ucap Tari seorang pelayan berdarah Sunda yang sudah ikut saja selama sepuluh tahun.
"Betul nyonya, nanti tuan marah kalau tau nyonya terluka seperti ini," imbuh Siti adik sepupu Tari melarang Sasa ke dapur.
"Iya nyonya, lebih baik anda istirahat saja dan biarkan kami bekerja menyiapkan makan siang," ucap Mirna merespon perkataan kedua temannya.
Mendengar perkataan ketiga pelayannya itu membuat Sasa terdiam, ia lalu mengangguk pelan dan berjalan menuju ke ke lantai dua meninggalkan para pelayannya bekerja membuat makan siang. Saat hampir sampai di kamarnya tiba-tiba langkah Sasa terhenti, ia menoleh kearah sebuah kamar yang ada di ujung lorong. Kamar yang ia pakai untuk menyimpan barang-barang peninggalan ibunya dan beberapa barang-barang milik ketiga anaknya yang masih ia simpan dengan rapi.
Saat masuk kedalam kamar itu Sasa tersenyum tipis ketika melihat foto dirinya yang terpajang di dinding, ia sudah tak memasang foto masa mudanya lagi di dinding rumahnya. Sasa merasa tak pantas kalau ada orang melihat foto dirinya yang mengenakan seragam SMA jika ia pasang di ruang tamu atau ruang keluarga, oleh karena itu ia menyimpannya dikamar khusus itu.
"Waktu cepat sekali berlalu, sekarang kalian bertiga sudah siap meninggalkan mommy nak," ucap Sasa lirih sambil menyentuh foto dirinya dan Archie yang menggendong Arthur kecil bersama Allard dan Ashley yang baru berusia satu bulan di taman.
"Rasanya sangat berat berpisah dengan anak yang lahir dari rahimku," isak Sasa menangis saat kembali teringat dengan permintaan Arthur yang ingin pergi ke Jepang.
Sasa akhirnya tertidur di sofa besar yang ada dikamar itu sambil memeluk foto ketiga anaknya yang ada di satu figura kecil, dimana foto itu diambil ketika Allard dan Ashley berulang tahun yang pertama. Dan mereka membuat perayaan sederhana di taman bersama Xena dan Hercules ketika mereka masih hidup.
Durran Internasional
Selama meeting bersama client besarnya Archie nampak tidak fokus, ia terus mengingat kejadian yang yang terjadi tadi pagi di mana ia menolak makan siang yang akan dibuatkan oleh sang istri. Archie belum pernah menolak Sasa seperti itu selama mereka menikah oleh karena itu hatinya menjadi tidak tenang.
"Kau kemana sayang, kenapa kau tak mengangkat ponselmu," ucap Archie dalam hati sambil berusaha menelfon Sasa kembali untuk yang ke dua puluh kali.
"Ada yang salah Rico," bisik Gustaf pelan pada Rico yang duduk disebelahnya.
Rico yang belum paham dengan arah pembicaraan Gustaf nampak menatap Gustaf dengan bingung, sampai akhirnya ia sadar bahwa Gustaf sedang membicarakan sang tuan yang ada di sampingnya.
"What's the matter, sir?" tanya Rico pelan.
"No, I just can't contact my wife Rico." jawab Archie singkat.
"Kenapa anda tak coba menghubungi Arthur atau si kembar tuan, mungkin anda bisa mencari tau dari mereka kenapa nyonya tak mengangkat telepon anda." sahut Gustaf merespon perkataan Archie.
Rico dan Gustaf langsung tertawa kecil melihat sikap Archie, mereka lalu melanjutkan makan kembali membiarkan Archie menghubungi anak-anaknya.
"Hallo ....
"Yas dad, ada apa?" tanya Allard dengan keras, ia sedang bermain game online bersama Arthur dan Ashley sebagai satu team melawan team lawan.
"Dimana kalian kenapa berisik sekali?" tanya Archie penasaran sambil menjauhkan telinganya dari ponsel.
"Di rumah, sedang bermain game dad bersama kakak dan Ashley. Ada apa?" tanya balik Allard.
"Dimana mommy, kenapa daddy menghubungi tak diangkat sejak tadi oleh mommy kalian." jawab Archie dengan cepat.
"Tadi mommy aku liat sedang masak dad, mungkin sedang sibuk jadi tak bisa angkat telpon daddy. "ucap Allard datar.
"Sedang masak ...
"Ya sudah ya dad, aku sedang perang bersama kakak dan Ashley kalau aku kalah aku bisa di bunuh oleh mereka. Bye dad... tuttttt
Archie meletakkan ponselnya kembali ke atas meja begitu Allard memutus sambungan teleponnya, ia merasa sedikit kesal pada anaknya yang langsung menutup teleponnya begitu saja gara-gara game.
"Setelah makan aku pulang lebih dulu Rico, kau urus semuanya ya." ucap Archie pelan sambil melepas kacamatanya.
"Siap tuan," jawab Rico dengan cepat.
Tak lama kemudian Archie lalu meminum air putih yang ada di gelasnya, ia lalu berjalan meninggalkan Rico dan Gustaf yang masih berbicara dengan client mereka. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah pikiran Archie terus bekerja, perasaan bersalahnya karena tadi pagi menolak bekal yang akan dibayar oleh Sasa membuatnya tak tenang. Apalagi tadi saat menelfon anaknya ia tau kalau Sasa juga sedang masak, ia hanya berharap bisa secepatnya sampai rumah untuk bicara dengan Sasa.
Sesampainya dirumah Archie langsung berjalan menuju dapur untuk mencari istrinya, akan tetapi ia tak menemukan keberadaan sang istri. Archie sempat kaget saat mengetahui bahwa Sasa terluka saat sedang memasak, ia pun merasa semakin bersalah.
Archie kemudian naik ke lantai dua untuk mencari istrinya sesuai petunjuk pada pelayan yang mengatakan kalau Sasa tadi naik ke lantai dua, saat akan berjalan menuju kamarnya langkah Archie terhenti ketika melihat pintu dikamar yang ada di ujung lorong lantai dua terbuka. Ia merasa heran melihat kamar itu terbuka, pasalnya kamar itu adalah kamar yang berisi barang-barang saja bukan kamar tidur. Karena penasaran Archie melangkahkan kakinya menuju kamar itu dan terkejut ketika melihat istrinya tertidur di sofa sambil memeluk figura foto anak-anak mereka.
"Hei my love wake up," bisik Archie pelan sambil mencium pipi Sasa dengan penuh cinta.
"Sayang...
Archie tak menyelesaikan perkataannya karena melihat Sasa sudah membuka kedua matanya, ia nampak sedang mengatur kesadarannya karena dibangunkan.
"Bangun, kenapa tidur disini sayang?" tanya Archie pelan sambil mencium tangan kening Sasa.
Alih-alih menjawab pertanyaan Archie kedua mata Sasa justru berkaca-kaca.
"Hei kenapa mau menangis, ada apa sayang?? maafkan mas kalau mas salah mas tadi pagi itu....
"Arthur mas..hiks Arthur mau pergi meninggalkan aku hu huuuuu.....
🌺To be continued🌺
Jangan lupa Vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, terima kasih kakak-kakak.
Love u kakak-kakak.