
Jangan lupa untuk vote dan Ratting bintang lima untuk mendukung Thor, Terima kasih.
Area parkir yang tadinya kosong mendadak penuh karena banyaknya mahasiswa yang melihat perkelahian tak seimbang antara Arthur dan anak buahTaniguchi Hiro, tapi semuanya justru diluar bayangan karena dengan mudah Arthur bisa mengalahkan sembilang orang yang menyerangnaya itu dengan mudah. Dididik dengan displin sejak kecil oleh kedua orangtuanya membuat Arthur sudah mendapatkan sabuk hitam karate-nya pada usianya yang baru 14 tahun, bahkan ia tak hanya hebat dalam karate beberapa olahraga sejenis pun bisa dikuasai dengan sangat baik oleh Arthur.
"Bagaimana, apa kau masih ingin mencobanya?" tanya Arthur pada Hiro yang sedang melihat tak percaya ke arah tanah dimana semua orang-orangnya berjatuhan tak berdaya.
"K--kau...
"Aku sedang dalam mood sedang tak ingin bertengkar, jadi jangan cari masalah denganku. Lagipula tak ada yang salah dengan Gay, mereka tak melukai kalian jadi kalian tak perlu mendeskriminasinya," ucap Arthur singkat memotong perkataam Taniguchi Hiro dengan cepat.
Selesai berkata seperti itu Arthur lalu meraih tasnya yang tadi ia letakkan di tanah sebelum menghadapi anak buah Taniguchi, dengan langkah perlahan Arthur meninggalkan area parkir. Semua mahasiswa yang sedang mengelilingi tempat terjadinya duel tak seimbang itu langsung memberikan jalan kepada Arthur ketika Arthur lewat, tak ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut termasuk Victoria dan Michiko yang melihat perkelahian itu.
"Aku takin Arthur bukanlah seorang gay," ucap Victoria pelan, ia sangat yakin kalau Arthur adalah pria normal. Sepasang mata Victoria masih melihat ke arah Arthur yang berjalan menuju ke ruang kelasnya.
Suara bel tanda dimulainya pembelajaranpun akhirnya berbunyi semua mahasiswa yang masih ada di area parkirpun berlarian menuju kelasnya masing-masing, termasuk dengan Victoria dan Michiko beserta anak buahnya masing-masing. Begitupula dengan Taniguchi Hiro yang berjalan sendiri meninggalkan anak buahnya yang berjalan tertatih-tatih pasca menerima perlawanan dari Arthur.
Di dalam kelas semua mahasiswi masih terlihat menjauhi Arthur, mereka memilih duduk di bagku depan berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari Arthur. Hanya Honda Kaoru yang mau duduk disamping Arthur walau mereka terpisah jarak yang lumayan jauh. Walaupun Arthur kuliah di Jepang tetapi saat perkuliahan berlangsung ia tak mengalami kesulitan karena semua pelajaran yang ia terima menggunakan bahasa Inggris, selama pelajaran berlangsung Arthur tak mengalami masalah sedikitpun pasalnya ia sudah pernah kuliah sebelumnya selama satu tahun jadi sama saja ia mengulang pelajaran yang hampir sama. Bahkan dosen yang sedang memberikan pelajaran nampak kagum pada Arthur yang dapat menjawab dengan benar semua pertanyaannya sehingga membuat teman satu kelasnya merasa jengkel kepadanya.
Akhirnya jam tanda berakhirnya pelajaran pun berbunyi, karena hari ini kelas Arthur hanya memiliki dua mata pelajaran saja jadi alhasil jam dua belas siang mereka sudah diperbolehkan pulang. Arthur pun langsung merapikan buku-bukunya kedalam tas ranselnya dengan cepat, siang ini ia ada janji dengan beberapa orang yang sudah dihubungi oleh Maxwell tadi malam.
"Kau mau kemana? kenapa buru-buru sekali Arthur?" tanya Kaoru mencoba mengakrabkan diri dengan Arthur.
"Kau tak takut padaku Kaoru?" tanya balik Arthur tiba-tiba.
"Apa maksud perkataanmu, aku tak mengerti,"jawab Kaoru bingung.
"Bukankah kau tau aku seorang Gay, lalu kau tak takut padaku?bukankah di forum kampus sudah banyak orang yang terang-terangan mengatakan kalau aku adalah manusia aneh pembawa penyakit menular karena aku gay," ucap Arthur dengan suara meninggi, ia sengaja bicara keras supaya teman-temannya yang masih ada didepan kelas bisa mendengar perkataannya.
"No...aku tak takut padamu, lagipula gay bukanlah penyakit menular jadi aku tak perlu takut. Menjadi Gay adalah pilihan hidup seorang manusia sama halnya dengan pilihan manusia lainnya untuk menikah...
"Termasuk menikahi boneka dan benda aneh lainnya maksudmu?"tanya Arthur memotong perkataan Kaoru sambil tersenyum, Arthur sengaja berbicara seperti itu untuk memancing Kaoru. Ia ingin tau pria seperti apa si kutu buku dihadapannya ini.
"Ya, itu adalah hak asasi manusia. Kita tak bisa menghakimi mereka, selama mereka tak menyakiti atau berbuat sesuatu yang merugikan orang lain aku rasa itu tak masalah," jawab Kaoru dengan lantang.
Mendengar perkataan Kaoru membuat sebuah senyuman tersungging di wajah Arthur, ujian pertamanya untuk si kacamata tebal ini berhasil. Arthur lalu berjalan mendekati Kaoru yang ada di dekat white board dengan langkah tegap.
"Kau normal. kau pria normal. Kau hanya berpura-pura bukan, aku tak mengerti kenapa kau melakukan ini padahal kan...
"Ada banyak hal yang tak perlu di share ke orang lain Kaoru dan kau juga tau tentang hal itu denagn baik," bisik Arthur memotong perkataan Kaoru untuk yang kesekian kalinya sambil tersenyum penuh arti
Setelah berkata seperti itu Arthur berjalan melewati Kaoru dengan senyum yang masih tersungging diwajahnya.
Bruk
Tiba-tiba saja Honda Kaoru berlutut sambil menunduk ke arah Arthur yang hampir sampai di pintu keluar, ia berlutut sampai menundukkan wajahnya ke lantai.
"What are you doing?" tanya Arthur kaget.
"Angkat aku jadi muridmu, biarkan aku melayanimu tuan Arthur," jawab Kaoru dengan penuh keyakinan.
"Apa maksudmu Kaoru aku tak mengerti," ucap Arthur bingung.
"Aku ingin jadi orangmu tuan Arthur, biarkan aku melayanimu dan...
"Kenapa aku harus menerimamu menjadi bawahanku?" tanya Arthur kembali.
"Anda adalah satu-satunya orang yang pantas kujadikan master, tak ada orang normal yang mengaku Gay untuk menghindari wanita. Anda pasti melakukan itu untuk menghindari para wanita itu bukan," jawab Kaoru dengan cepat.
Arthur tertegun mendengar perkataan Kaoru si siswa kacamata tebal yang sering dibully di kelas, ia merasa kalau Kaoru mempunyai rahasia juga sama seperti dirinya. Dari cara bicara Kaoru yang terdengar lebih lantang dari biasanya membuat Arthur yakin bahwa siswa kacamata tebal dihadapannya ini bukanlah orang sembarangan.
"Keuntungan apa yang bisa aku dapatkan darimu jika aku menerimamu sebagai orangku?" tanya Arthur pelan sambil menurunkan tubuhnya dihadapan Kaoru yang masih berlutut.
"Aku adalah pewaris tahta dari Yamaguchi-gumi selanjutnya," jawab Kaoru dingin sambil melepaskan kacamta tebalnya dan membuka satu kancing kemejanya sehingga tato khas seorang yakuza terlihat dengan jelas.
"K---kau seorang...
"Ya aku adalah seorang pewaris organisasi Yakuza terbesar di Jepang," jawab Kaoru sambil tersenyum tipis.
🌺 to be continued 🌺